Sekolah Rakyat, Laskar Air Mata Para Pemuja Tuhan

detik.com
2 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Usai melaporkan rasio perkembangan 166 Sekolah Rakyat di 34 provinsi, Menteri Sosial RI Saifullah Yusuf tampak tidak rasional lagi. Dengan baret merah menyala tanda kuatnya tekad dan kemeja putih bersih isyarat kesucian niat, Mensos yang awalnya gagah melangkah, hatinya mendadak rapuh justru di saat hendak menutup kata. Langkahnya berat. Barisan anak tangga seakan-akan menjauh. Jiwanya berguncang hebat. Suaranya lenyap di palung jiwa. Ia tak kuasa beruluk salam ikhtitam.

"Dan kelak ketika anak-anak di tepian sungai, di lereng bukit dan sudut-sudut negeri berdiri sejajar di tengah bangsa ini, orang akan berkata pelan, di masa itu pernah ada seorang presiden yang menanam harapan dan menamainya sekolah rakyat. Presiden itu adalah Jenderal TNI Purnawirawan Prabowo Subianto," kata Mensos lirih. Hujan air mata dari pelosok negeri. Laskar air mata terbang ke awan, membasahi kemarau panjang jutaan jiwa kaum duafa.

Emosi Gus Ipul, sapaan Mensos itu hinggap di jiwa 15.945 siswa Sekolah Rakyat. Lalu menetap di jiwa sang penggagas, Presiden Prabowo, mantan panglima para komando yang "haram" menangis, mengaku tenggelam dalam haru.

"Saya sangat terkesima. Saya sangat terharu. Bahkan, mudah-mudahan kamera nggak menuju ke saya tadi. Sulit saya tahan air mata juga. Sama dengan Mensos," kata presiden. Tenda raksasa itu pun berada dalam gelombang pekur yang magis!

Gambar, bagan, kurva dan tabel statis di layar besar, di sekolah rintisan di kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pada tanggal 12 Januari 2026 itu, pun berbicara banyak. Di layar itu, di hadapan para menteri, gubernur, bupati juga para wali kota, Gus Ipul tidak saja memaparkan soal angka tetapi juga mengingatkan soal hakikat suara yang sekian lama tidak terdengar. Suara yang ditelan riuh pembangunan. Bahkan dengan suara paling lirih pun, kaum papa itu tak mampu mencatatnya dalam doa.

Tanyakan kepada Abi Darda, atau perawi hadits Iman Tirmidzi, Ibnu Majah atau Imam Ahmad tentang maqam orang yang didzalimi, kaum mustad'afin, atau nasib anak-anak terlantar. Mereka akan sepakat; doa mereka laksana kilat, menembus awan, mengguncang arsy, dan berada dalam genggaman Tuhan. Jangan tanya doa Farisi, pengumpul cukai dan doa si miskin. Derajat mereka jelas. Bahkan bagi si miskin pemuja Tuhan, diberi kesempatan, tanpa ONH, untuk bisa "berhaji" tiap minggu, hijjul fuqoro wa idul masakin.

Semangat Panglima

Tanggal 14 Juli 2025. Sebuah gerakan senyap merayap di 63 titik di sejumlah daerah di Tanah Air. Laksana titik api membara yang membakar barisan bukit jerami. Asap putih pembakaran muncul tipis-tipis. Isyarat genderang revolusi jiwa tengah bergolak dari kedalaman nurani yang meronta. Dari gejolak jiwa yang datang menyambut tantangan masa depan. Bagaikan gelegak jiwa Panglima Perang Thariq Bin Ziyad saat pertama menjejak semenanjung Iberia.

Gejolak jiwa setelah ia memerintahkan segenap pasukannya membakar kapal-kapal perang yang membawa mereka dari Maroko menuju Isbania. "Wahai pasukanku! Ke manakah kalian hendak melarikan diri? Musuh di depanmu dan lautan ganas di belakang siap menelan? Demi Allah! Tak ada keselamatan bagi kalian kecuali dalam keberanian dan keteguhan hati. Timbanglah situasi kalian saat ini; berdiri di sini bagai anak-anak yatim yang terlontar ke dunia!"

"Di depan sana, kalian akan segera bertemu musuh yang kuat. Mengepung kalian dari segala penjuru bagaikan gelombang samudera yang bergejolak. Maka buanglah segala ketakutan dari hati kalian. Percayalah, kemenangan akan menjadi milik kita dan percayalah musuh-musuh tak akan mampu bertahan menghadapi serangan kita. Jika aku terbunuh sebelum mendekati (Roderick, Raja Isbania), maka jangan kalian bersusah hati karena diriku!"

"Tetaplah bertempur seolah aku masih hidup di tengah kalian. Sebab, musuh-musuh kita akan langsung kehilangan daya dan perlawanan saat melihat raja mereka jatuh. Mereka pastilah akan lari kocar-kacir. Namun jika aku terbunuh setelah kita berhasil menewaskan raja mereka itu, (maka) tunjuklah seseorang di antara kalian, yang di dalam dirinya terdapat jiwa keberanian dan kecakapan pengalaman, mampu memimpin kalian dalam situasi genting ini," seru Thariq.

Bertanya kepada Mikail

Barisan muda kaum duafa itu jumlahnya ribuan. Menyebar di seluruh Indonesia. Bergerak dengan kaki penuh energi. Pergi dengan tangan tergenggam. Bergerak dengan dada mengembang. Berteriak dengan suara bertenaga. Dilepas bersama gelombang doa. Diharap kembali penuh kemenangan. Kembali dengan semangat baru, jiwa baru, dan penuh percaya diri. Kembali lewat peta jalan hidup baru. Peta yang mampu menaklukkan badai kehidupan.

Laskar duafa muda yang lahir dari keluasan hati orang tua yang tiada memiliki tanah selain tanah Tuhan. Orang tua yang keringatnya asin akibat tiada hari tanpa berenang di lautan kehidupan nan garang. Orang tua yang tulang dan otot-ototnya mengeras akibat melawan terjangan angin malam nan kejam. Orang tua yang ujian hidupnya tak pernah ada dalam pelajaran di sekolah manapun. Orang tua yang lupa cara menanyakan nasib kepada Mikail.

Tanggal 12 Januari 2026. Semangat juang Thariq Bin Ziyad seperti muncul kembali di langit Nusantara. Seorang jenderal dari Dinasti Umayyah, yang memimpin penaklukan Andalusia pada tahun 711 M. Ia dikenal karena keberanian, strategi militer, dan pidatonya yang membakar semangat juang pasukan sebelum pertempuran. Penaklukan ini menandai awal dari periode kekuasaan Islam yang berlangsung selama berabad-abad di Semenanjung Iberia. Kini Thariq di sini.

Suaranya menggelegar, bak membakar kesadaran kita. Menggugah anak-anak Indonesia yang sekian tahun hidup dalam batin terkungkung. Terkungkung akibat jalan hidup yang terlalu terjal untuk batas kemampuan mereka. Kini, melalui gagasan Presiden Prabowo Subianto, suara Thariq Bin Ziyad, datang lagi menyemangati pasukan yang tak punya pilihan selain maju. Menoleh ke belakang, hanya akan melihat masa lalu yang mengintai dan siap menerkam.

Iso Gemuyu

Dengan menyitir pernyataan mantan gubernur Jawa Timur, Mohammad Noer soal kaum duafa, Mensos Gus Ipul, sering mengutipnya hingga menyerupai sebuah mantra. "Agawe Wong Cilik Melu Gemuyu." (membuat rakyat kecil ikut tertawa). Ungkapan ini disampaikan di SU Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Maret 1973, sebagai Ketua Fraksi Utusan Daerah. Sejak itu ia sering disebut dengan "gubernurnya rakyat kecil". Ia akrab disapa dengan Cak Noer.

Dengan redaksi yang lebih sederhana, Presiden Prabowo Subianto mengutip pernyataan itu saat pelantikan dirinya, 20 Oktober 2024 lalu. "Wong cilik iso gemuyu." Dan empat kata ini juga yang selalu menjadi pengantar setiap kali Mensos menjelaskan bisnis proses serta tugas dan fungsi Kemensos lewat konsep "12 PAS". Kelompok sasaran utama kesejahteraan sosial. Kelompok ini meliputi semua lapisan masyarakat yang membutuhkan perhatian khusus.

"Kefakiran itu mendekatkan kepada kekufuran," begitu sering disitir para guru. Namun begitu, semua orang paham bahwa kafakiran adalah perantara yang dikirim Tuhan agar bisa menjadikannya ladang beramal. Ke mana pun pergi, semua perangkat dan aparatur negara, dan terutama Kementerian Sosial, membawa misi perlindungan, jaminan, rehabilitasi, dan pemberdayaan sosial. "Jangan pernah abai terhadap tugas dan fungsi ini."

Sejak 12 Januari 2026 kemarin, misi dipertajam pendekatannya. Didekatkan ke jantung masalah. Permasalahan kemiskinan yang akut. Laksana gelegar suara Thariq Bin Ziyad, kini teriakan para Kepala Sekolah, para guru, para tenaga kependidikan, para siswa yang terpilih karena tekad ingin mendobrak kebekuan nasib, berbaiat tidak akan surut langkah. "Jangan kembali pulang!" seru laskar polisi cilik melepas panggung Peluncuran 166 Sekolah Rakyat di Tanah Banjar.

Gelombang Elektromagnetik

Hari itu. Senin 12 Januari 2026. Pelan tapi pasti. Derap langkah kaki dan batin ribuan duafa muda. Atas dasar niat yang kuat, tekad yang menjulang, semangat yang bergelora, memancangkan tiang nasib di masa depan. Mereka bersiap menyeberangi sungai kehidupan yang curam. Menuju Sekolah Rakyat. Sungai yang belum ditaklukkan. Satu yang pasti, diam-diam dari pelosok negeri, ada doa bersama yang mengalir deras, sederas gelombang elektromagnetik.

Doa para orang tua, doa para handai taulan, doa para tetangga, doa para guru, doa seluruh anak bangsa, turut serta melepas laskar duafa bak Thariq melepas pasukannya ke medan tempur. Hari itu, bangsa Indonesia bersatu dalam doa demi Sekolah Rakyat. "Duhai Tuhan! Menyayangi fakir miskin adalah titah-Mu. Kuatkan kami untuk membersamai mereka. Kuatkan anak-anak kami. Kuatkan kami dalam segala keadaan. Kuatkan kami agar siap belajar patuh dan taat pada firman-Mu."

Ishaq Zubaedi Raqib, Staf Khusus Menteri Sosial RI




(akd/akd)

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
BMKG Prediksi Hujan Ringan hingga Sedang Guyur Jakarta Sepanjang Hari Ini
• 7 jam lalutvrinews.com
thumb
Nyaris Celaka, Plafon Kelas SDN 05 Pademangan Jakut Ambruk saat Siswa Makan MBG
• 21 jam lalugenpi.co
thumb
Khamenei Samakan Trump dengan Firaun Usai Ancaman ke Iran
• 14 jam laludetik.com
thumb
Kementerian Agama Salurkan Bantuan Rp1 Miliar untuk Tokoh Agama Pascabencana di Padang
• 3 jam lalupantau.com
thumb
Menlu Iran Tuduh Kerusuhan Didalangi Asing, Klaim Punya Rekaman Senjata Dibagikan
• 7 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.