EtIndonesia. Bintang film dunia Sylvester Stallone pernah menjalani masa hidup yang sangat terpuruk sekitar belasan tahun lalu. Saat itu, uang yang tersisa di sakunya hanya 100 dolar AS. Dia bahkan tak mampu menyewa rumah dan terpaksa tidur di dalam mobil Volkswagen Beetle miliknya.
Meski hidup dalam kesulitan ekstrem, Stallone tetap bertekad menjadi seorang aktor. Dengan penuh percaya diri, dia mendatangi berbagai perusahaan film di New York untuk melamar pekerjaan. Namun, satu per satu dia ditolak—alasannya klasik: penampilannya dianggap biasa saja, dan cara bicaranya dinilai kurang jelas.
Ketika seluruh 500 perusahaan film di New York menolaknya, dia tidak berhenti. Dia kembali lagi ke perusahaan pertama, lalu yang kedua, dan seterusnya.
Setelah 1.500 kali penolakan, dia menulis sebuah skenario dan membawanya berkeliling untuk ditawarkan. Namun yang dia terima justru ejekan dan penolakan lanjutan. Total penolakan yang dia alami mencapai 1.855 kali.
Akhirnya, ada seorang produser yang bersedia membeli skenarionya—tetapi dengan satu syarat: Stallone tidak boleh ikut bermain dalam film tersebut. Dia menolak syarat itu.
Dan pada akhirnya, dunia mengenalnya sebagai superstar kelas dunia.
Pertanyaannya sederhana: Mampukah kamu menghadapi 1.855 kali penolakan tanpa menyerah?
Stallone bisa.
Dia melakukan hal yang tidak mampu dilakukan kebanyakan orang—itulah sebabnya dia berhasil.
Saya percaya, jika kamu mampu melakukan hal yang sama, kesuksesan juga akan menjadi milikmu.
Ada pula seorang tokoh lain. Dalam hidupnya, dia mengalami kegagalan demi kegagalan:
- Usia 21 tahun: usaha bisnisnya bangkrut
- Usia 22 tahun: gagal terpilih sebagai anggota parlemen negara bagian
- Usia 24 tahun: usaha bisnisnya kembali gagal
- Usia 26 tahun: kekasihnya meninggal dunia
- Usia 27 tahun: mengalami gangguan mental berat
- Usia 34 tahun: gagal terpilih sebagai anggota DPR federal
- Usia 36 tahun: kembali gagal dalam pemilihan DPR federal
- Usia 45 tahun: gagal terpilih sebagai senator
- Usia 47 tahun: gagal menjadi wakil presiden
- Usia 49 tahun: kembali gagal dalam pemilihan senator
- Usia 52 tahun: terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat ke-16
Orang itu adalah Abraham Lincoln.
Dia mampu bangkit berkali-kali karena dia percaya sepenuh hati bahwa penundaan Tuhan bukanlah penolakan Tuhan. Karena keyakinan itulah, dia jatuh berkali-kali namun selalu bangkit kembali—hingga akhirnya meraih pencapaian yang luar biasa.
Hikmah Cerita
Abraham Lincoln mampu meraih keberhasilan besar di akhir hidupnya karena ia teguh memegang satu keyakinan sederhana namun dahsyat: penundaan Tuhan bukanlah penolakan Tuhan.
Keyakinan itulah yang membuatnya berani gagal berulang kali, namun tidak pernah berhenti berjuang. Dan karena itulah pula, ia akhirnya menorehkan sejarah yang tak tergantikan. (jhn/yn)




