Ada satu kebiasaan yang tanpa sadar tumbuh subur di sekitar kita: menghakimi. Ia hadir di meja makan, di kolom komentar, di ruang kelas, bahkan di lingkar pertemanan. Kita sering kali lebih cepat memberi penilaian daripada memberi ruang. Lebih sigap menyimpulkan daripada mendengarkan. Seolah memahami orang lain adalah pekerjaan berat yang tak selalu layak diusahakan.
Menghakimi terasa mudah karena tidak membutuhkan waktu. Tidak perlu empati, tidak perlu bertanya, apalagi menunda emosi. Cukup satu potongan cerita, satu unggahan media sosial, satu kalimat yang terdengar janggal, lalu kita merasa sudah tahu segalanya. Padahal, yang kita lihat hanyalah serpihan kecil dari hidup seseorang.
Di era digital, kebiasaan ini semakin menemukan panggungnya. Media sosial memberi ilusi kedekatan, tapi sebenarnya menjauhkan kita dari konteks. Kita melihat potongan hidup orang lain dalam durasi 30 detik, lalu merasa berhak menentukan siapa mereka. Sedih dianggap drama. Marah disebut berlebihan. Diam dicap tidak peduli. Dunia digital tidak memberi ruang bagi proses—hanya hasil instan yang bisa dikomentari.
Ironisnya, kita hidup di zaman yang sering mengagungkan empati. Kata itu kerap muncul dalam seminar, slogan, dan unggahan motivasi. Namun dalam praktiknya, empati sering berhenti di tataran wacana. Ketika berhadapan dengan kenyataan yang tidak nyaman, kita lebih memilih menghakimi daripada memahami. Barangkali karena memahami berarti mengakui bahwa hidup tidak sesederhana hitam dan putih.
Menghakimi juga memberi rasa aman palsu. Saat kita menilai orang lain salah, kita merasa diri kita benar. Saat kita menunjuk kelemahan orang lain, kita sejenak lupa pada kekurangan diri sendiri. Dalam menghakimi, ada kepuasan singkat: perasaan unggul yang lahir dari perbandingan. Padahal, kepuasan itu rapuh dan sering kali menutupi ketakutan kita untuk melihat diri sendiri dengan jujur.
Dalam kehidupan sehari-hari, dampaknya terasa nyata. Orang enggan bercerita karena takut disalahkan. Mereka memilih diam karena tahu, sering kali, cerita yang dibagikan akan dipotong, dipelintir, lalu dijadikan bahan penilaian. Ruang aman menjadi langka. Kejujuran terasa berisiko. Akhirnya, banyak orang memikul beban sendirian, sambil tersenyum di depan publik.
Memahami memang tidak mudah. Ia menuntut kesabaran, kerendahan hati, dan keberanian untuk menunda penilaian. Memahami berarti mau mendengar cerita sampai selesai, meski tidak selalu sepakat. Memahami berarti menyadari bahwa setiap orang membawa luka, latar belakang, dan perjuangan yang tidak selalu terlihat. Dan yang paling sulit, memahami berarti menerima bahwa kita tidak selalu berada di posisi paling benar.
Budaya menghakimi juga sering dibenarkan atas nama “jujur” atau “peduli”. Kritik memang penting, tetapi tanpa empati, kritik berubah menjadi serangan. Kepedulian tanpa usaha memahami hanya akan melahirkan jarak, bukan perubahan. Yang terjadi bukan dialog, melainkan adu suara, di mana yang paling keras sering kali dianggap paling benar.
Mungkin, kita perlu bertanya pada diri sendiri: kapan terakhir kali kita benar-benar mendengarkan tanpa niat membalas? Kapan terakhir kali kita mencoba memahami tanpa keinginan untuk menang? Pertanyaan-pertanyaan ini sederhana, tetapi jawabannya sering kali tidak nyaman.
Dunia tidak kekurangan orang pintar. Ia kekurangan orang yang mau memahami. Di tengah kebisingan opini, memahami adalah tindakan sunyi yang sering terabaikan. Namun justru di sanalah kemanusiaan kita diuji. Bukan pada seberapa cepat kita menilai, tetapi pada seberapa jauh kita bersedia berjalan di sepatu orang lain.
Menghakimi mungkin membuat kita merasa lebih tinggi. Tetapi memahami membuat kita lebih manusia.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5461718/original/089739600_1767433302-WhatsApp_Image_2026-01-03_at_15.59.48.jpeg)


