SURABAYA, KOMPAS - Ratusan jagal di Kota Surabaya, Jawa Timur, melakukan aksi mogok untuk menolak pemindahan Rumah Potong Hewan (RPH) Surabaya Unit Pegirian. Namun, pemogokan itu belum berpengaruh pada stok, distribusi, dan harga daging sapi, kambing, dan unggas di Surabaya.
Berdasarkan pantauan pada Selasa (13/1/2026), harga daging sapi paha belakang di Surabaya berkisar Rp 115.000-Rp 125.000 per kilogram. Harga di enam pasar besar di Surabaya, yakni Genteng, Keputran, Pucang Anom, Soponyono, Tambahrejo, dan Wonokromo, itu bertahan sepekan terakhir.
Untuk harga daging sapi grade bawah berkisar Rp 100.000-Rp 110.000 per kg. Untuk grade sedang, harga berkisar Rp 105.000-Rp 115.000 per kg. ”Belum ada gangguan pasokan dan harga,” ujar Sugiarto (48), pedagang daging di Pasar Keputran.
Hal senada diutarakan oleh Sulaiman (50), pedagang di pasar daging Jalan Arimbi, sekitar 100 meter dari RPH Surabaya Unit Pegirian, Jalan Nyamplungan.
”Pasokan hari ini sedikit kurang tetapi harganya belum naik,” ujar Sulaiman. Pasokan sedikit berkurang karena adanya mogok jagal di RPH Surabaya Unit Pegirian.
Namun, kekurangan pasokan itu kemudian ditambal dari RPH Surabaya Unit Kedurus. Di pasar daging Jalan Arimbi, harga daging lebih rendah Rp 2.000-Rp 5.000 per kg dibandingkan dengan pasar-pasar besar yang setiap hari mendapat pasokan dari RPH Surabaya.
Direktur Utama PT RPH Surabaya Perseroda Fajar Arifianto Isnugroho meminta maaf atas dampak pemogokan para jagal dan pedagang di RPH Surabaya Unit Pegirian. ”Tentu ada dampak terhadap pasokan daging segar. Saya mohon maaf atas dampak pemogokan,” ujarnya.
Namun, Fajar memaparkan, berdasarkan pantauan dari unit-unit lain, pasokan daging ke Surabaya belum terganggu. Setiap hari, ibu kota Jatim ini dipasok 40 ton daging sapi dan 10 ton daging kambing serta unggas. Sekitar setengahnya ditangani oleh RPH Surabaya, sedangkan separuh lainnya dipasok dari Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, Blitar, dan Pulau Madura.
”Pemotongan sapi, kambing, dan unggas masih berjalan di RPH Surabaya Unit Kedurus sehingga stok belum terganggu,” kata Fajar. Masyarakat tetap bisa mendapatkan pasokan daging segar melalui RPH Surya Mart dan 11 gerai di pasar-pasar yang berasal dari Unit Kedurus.
Fajar menyatakan, rencana pemindahan RPH Surabaya Unit Pegirian ke Unit Tambak Osowilangun tetap dilaksanakan. Sebab, hal itu sudah direncanakan sejak 2016 oleh Pemerintah Kota Surabaya. Yang dipindahkan hanya lokasi penyembelihan dari biasanya di Pegirian menjadi ke Tambak Osowilangun.
Namun, rencana pemindahan ke Unit Tambak Osowilangun yang berada di dekat perbatasan dengan Kabupaten Gresik, Jatim, itu ditolak oleh para jagal. Oleh karena itu, mereka kemudian menggelar aksi mogok sejak Senin (12/1/2026) kemarin.
Fajar mengakui, lokasi baru tersebut lebih jauh sekitar 15 kilometer. Dia juga menyebut, aktivitas jual beli daging di Jalan Arimbi di dekat RPH Surabaya Unit Pegirian tetap ada. ”Pusat perkulakan daging di Jalan Arimbi tetap ada, tidak dipindah,” ucapnya.
Rencana relokasi secara penuh dari Unit Pegirian ke Tambak Osowilangun itu diharapkan tuntas setelah Lebaran 2026. Sampai dengan batas waktu itu, mitra jagal Unit Pegirian masih dapat menggunakan fasilitas lama.
Selama masa transisi, aktivitas RPH dijalankan secara paralel atau bersamaan, yakni di Pegirian dan Tambak Osowilangun. Setelah hari raya, aktivitas RPH dikonsentrasikan di Tambak Osowilangun. Khusus untuk pemotongan babi, telah beroperasi Unit Banjarsugihan di Surabaya barat.
Fajar menyatakan, mitra jagal untuk Unit Tambak Osowilangun diutamakan berasal dari Unit Pegirian. Dia menyebut, sebenarnya ada jagal dari luar Surabaya yang berminat bekerja di unit itu. Namun, Unit Tambak Osowilangun mengutamakan mitra lama RPH Surabaya.
Unit Tambak Osowilangun seluas 7.500 meter persegi diklaim telah siap dioperasikan. Sertifikat kesehatan dan halal telah didapat. Fasilitas ini jelah lebih modern dibandingkan dengan Unit Pegirian yang berdiri sejak tahun 1927.
Di Unit Tambak Osowilangun tersedia kandang untuk 150 sapi Brahman Cross (BX), 80 sapi lokal, 28 handrail, dan 28 meja cacah. Selain itu, unit tersebut juga dilengkapi instalasi pengolahan air limbah yang lebih baik dibandingkan dengan Unit Pegirian yang bertahun-tahun dipersoalkan oleh warga.
Secara terpisah, Koordinator Aksi Penolakan Relokasi RPH Surabaya Abdullah Mansyur mengatakan, belum ada komunikasi yang baik mengenai pemindahan Unit Pegirian. Dia menyebut, lokasi baru yang jauh itu berisiko terhadap keselamatan dan keamanan mitra jagal.
”Ongkos transportasi tambah, biaya akomodasi mungkin juga akan ada karena terpaksa pindah,” kata Abdullah. Mereka berharap aktivitas penyembelihan tetap dilangsungkan di Unit Pegirian meskipun Unit Tambak Osowilangun beroperasi penuh.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Surabaya Muhammad Fikser mengatakan, rencana pemindahan RPH sudah disosialisasikan sejak 2016. Pemindahan RPH itu merupakan bagian dari penataan Kawasan Wisata Religi Sunan Ampel.
Unit Pegirian berada di seberang timur Kawasan Wisata Religi Sunan Ampel. Keberadaan penyembelihan hewan, terutama babi, tentu menjadi persoalan mengingat Sunan Ampel adalah wali Islam yang amat dihormati.
Saat ini, bekas lokasi penyembelihan babi telah diubah menjadi sentra kuliner Serambi Ampel. Aktivitas penyembelihan babi pindah ke Unit Banjarsugihan. ”Penataan Kawasan Wisata Religi Sunan Ampel juga terus berlangsung sehingga relokasi RPH sudah menjadi keniscayaan,” ujar Fikser.
Ongkos transportasi tambah, akomodasi mungkin juga akan ada karena terpaksa pindah
Di Unit Tambak Osowilangun, aktivitas operasional akan dimajukan menjadi pukul 22.00 WIB. Di Unit Pegirian, operasional penyembelihan dimulai pukul 23.00 WIB atau pukul 00.00 WIB. Manajemen RPH juga menyiapkan kendaraan angkut untuk distribusi daging dari Tambak Osowilangun ke Arimbi, outlet RPH Surya Mart, dan pasar-pasar.
Fikser melanjutkan, mitra jagal di Unit Tambak Osowilangun akan dilengkapi dengan tanda pengenal dan surat khusus untuk membawa kelengkapan penyembelihan. Dimungkinkan juga dibuatkan tempat penyimpanan kelengkapan para jagal.





