3.000 Hektare Lahan Padi di Jatim Gagal Panen Akibat Cuaca Ekstrem

suarasurabaya.net
6 jam lalu
Cover Berita

Cuaca ekstrem yang melanda Jawa Timur berdampak terhadap gagal panen atau puso lahan pertanian di berbagai wilayah seperti di Pasuruan dan Bojonegoro yang total mencapai 3.000 hektare pada Oktober 2025.

Meski mengalami puso, Heru Suseno Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jatim memastikan kondisi tersebut tidak berdampak pada hasil produksi padi tahun 2025.

Heru menjelaskan, fenomena puso tersebut terjadi saat tanaman padi telah melewati masa panen sehingga tidak mengganggu produksi. Selain itu para petani yang lahannya terdampak puso langsung diberi bantuan oleh Dinas Pertanian.

“Puso kemarin itu 3.000 hektare tapi kan tersebar, itu total di Jawa Timur. Itu kemudian sudah dipenuhi bantuan,” ujar Heru dikonfirmasi, Selasa (31/1/2026).

Selain itu, Heru menyebut banjir yang terjadi akhir-akhir ini juga tidak sepenuhnya berdampak pada lahan padi. Sebagian genangan banjir dilaporkan cepat surut sehingga tidak berdampak pada tanaman secara signifikan.

“Kalau banjir, tidak semuanya melanda sawah. Ada hujan deras, besoknya sudah surut, sehingga tidak banyak mengganggu tanaman,” tuturnya.

Meski begitu, Dinas Pertanian menaruh perhatian serius terhadap prakiraan cuaca ekstrem menurut BMKG yang akan melanda Jatim hingga awal Februari 2026.

Sebab potensi cuaca ekstrem tersebut jaraknya berdekatan dengan perkiraan masa panen padi yang jatuh pada Bulan Maret 2026.

Untuk mengantisipasinya, Heru menyebut pihaknya terus melakukan pendataan apabila ada puso baru akibat cuaca ekstrem maka akan diberi bantuan berupa penggantian benih dan fasilitasi tanam ulang dengan berkoordinasi bersama Kementerian Pertanian untuk mencegah penurunan hasil produksi

“Kalau ada puso, pasti ada penggantian benih. Kami komunikasi dengan Kementerian Pertanian. Petani jangan khawatir, bisa tanam kembali,” tegasnya.

Meski begitu, Heru memprediksi hasil produksi padi pada 2026 akan meningkat berdasarkan luas tanam selama Oktober–Desember 2025 yang tercatat lebih luas dibandingkan tahun kemarin pada periode yang sama.

“Kalau kita melihat, maka tahun 2026 nanti produksinya kira-kira akan meningkat karena kita melihat bulan Oktober, November, Desember (luas tanam 2025) lebih besar dibanding tahun 2024,” ujarnya. (wld/saf/ipg)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Soal Virus Super Flu, Waka Komisi IX Minta Kemenkes Perketat Pengawasan Super Flu: Jangan Anggap Remeh
• 10 jam lalutvonenews.com
thumb
Roy Suryo Tuding Ada 2 Aparat saat Eggi Sudjana Bertemu Jokowi
• 2 jam laluokezone.com
thumb
Banjir dan Longsor Landa Kudus, Bupati Tetapkan Status Tanggap Darurat Bencana
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Ingin Tambah Pemain Naturalisasi, John Herdman: Demi Bersaing di Panggung Dunia
• 4 jam lalugenpi.co
thumb
Update 5 Titik Banjir di Jakarta yang Masih Tergenang, Ratusan Warga Mengungsi
• 11 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.