Siwaratri 2026, Malam Perenungan Suci dan Pelebur Kegelapan bagi Umat Hindu

medcom.id
2 jam lalu
Cover Berita
Jakarta: Umat Hindu di Bali memiliki beragam hari suci, salah satunya adalah Hari Raya Siwaratri. Perayaan ini jatuh setahun sekali berdasarkan kalender Isaka, tepatnya pada purwaning Tilem atau panglong ping 14 sasih Kepitu (bulan ketujuh), yang dalam kalender Masehi biasanya jatuh pada bulan Januari.
 
Melansir laman resmi Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, Siwaratri dimaknai sebagai malam pemrelina atau pelebur kegelapan dalam diri untuk menuju jalan yang lebih terang. Berikut penjelasan lengkapnya. Simak yuk! Makna Filosofis Secara etimologi, Siwaratri berasal dari dua kata bahasa Sansekerta, yaitu "Siwa" dan "Ratri".
Siwa berarti baik hati, pemaaf, memberi harapan, dan membahagiakan. Kata ini juga merujuk pada manifestasi Tuhan (Dewa Siwa) yang berfungsi sebagai pelebur. Sementara itu, Ratri berarti malam atau kegelapan.
 
Secara harfiah, Siwaratri adalah momen di mana Hyang Siwa beryoga. Umat memanfaatkan waktu ini untuk introspeksi diri (mulat sarira) atas perbuatan atau dosa selama ini, menyatukan atman dengan paramatman, dan memohon tuntunan agar terlepas dari belenggu dosa. Tradisi ini erat kaitannya dengan kisah Lubdaka karya Empu Tanakung, seorang pemburu pendosa yang mencapai surga karena melakukan brata di malam Siwaratri.
 

Baca Juga :

Sejarah, Tradisi dan Makna Hari Raya Galungan bagi Umat Hindu

Tiga Tingkatan Brata (Pantangan) Inti dari perayaan ini adalah pelaksanaan brata yang terdiri dari Monabrata (tidak bicara), Upawasa (tidak makan/minum), dan Jagra (tidak tidur). Pelaksanaannya dibagi menjadi tiga tingkatan kemampuan:
  1. Nista: Melaksanakan Jagra saja, yaitu sadar atau melek semalam suntuk. Jagra melebihi begadang pada umumnya yaitu dengan memusatkan kesadaran budhi dan aktivitas diri pada Tuhan.
  2. Madya: Melaksanakan Jagra dan Upawasa. Upawasa bermakna "kembali suci" dengan melatih indera melepaskan keterikatan pada kenikmatan makanan.
  3. Uttama: Tingkatan tertinggi yang melaksanakan ketiga pantangan sekaligus: Jagra, Upawasa, dan Monabrata (melatih pengendalian ucapan dan merenungkan kesucian).
Tata Cara Pelaksanaan Bagi umat kebanyakan (Walaka), rangkaian upacara dimulai pada pagi hari tanggal 14 sasih kapitu dengan sucilaksana atau pembersihan diri. Menjelang malam, dilakukan maprayascita (pembersihan pikiran) dan persembahyangan kepada Sang Hyang Surya serta leluhur.

Pemujaan utama ditujukan kepada Sang Hyang Siwa yang dilakukan tiga kali: pada awal malam, tengah malam, dan besoknya menjelang pagi.
 
Durasi Upawasa berlangsung selama 24 jam (pagi hingga pagi esoknya), sedangkan Jagra berlangsung selama 36 jam (berakhir pukul 18.00 esok harinya). Seluruh rangkaian ini ditutup dengan pelaksanaan Dana Punia. (Sultan Rafly Dharmawan)

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Prakiraan Cuaca Jabodetabek 13 Januari 2026: Awan Tebal, Hujan Berpotensi Guyur Sejumlah Wilayah
• 17 jam lalukompas.tv
thumb
Bansos Pencairan Tahap I Januari-Maret Sudah Cair? Segera Cek Penerima PKH dan BPNT 2026
• 9 jam lalukompas.tv
thumb
Mendes Gandeng Raffi Ahmad di Program Pemuda Pelopor Desa
• 1 jam laludetik.com
thumb
BRI (BBRI) Terbitkan Surat Berharga Komersial Senilai Rp500 Miliar
• 17 jam laluidxchannel.com
thumb
Hasil undian Piala FA: masih minim big match di putaran keempat
• 10 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.