Iran dalam Krisis Berdarah: Ribuan Tewas, Dunia Bersiaga, AS dan Israel Masuk Fase Paling Berbahaya

erabaru.net
3 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Situasi di Iran memasuki fase paling kelam dalam beberapa dekade terakhir. Aksi protes nasional yang telah berlangsung selama lebih dari dua minggu kini menghadapi penindasan brutal berskala besar. Berbagai video yang beredar luas di internet memperlihatkan adegan penembakan massal, pengejaran demonstran, serta penggunaan kekerasan ekstrem oleh aparat keamanan terhadap warga sipil tak bersenjata.

Menurut laporan Iran International, bahkan dengan estimasi paling konservatif sekalipun, dalam 48 jam terakhir sedikitnya 2.000 orang dilaporkan tewas di berbagai wilayah Iran. Sementara itu, Asosiasi Aktivis Hak Asasi Manusia Iran menyebutkan bahwa lebih dari 10.681 warga telah ditangkap dan dipenjara, sebagian besar tanpa proses hukum yang jelas.

Majalah Time melaporkan bahwa hingga 10 Januari 2026, jumlah korban tewas secara keseluruhan dalam gelombang protes Iran dikhawatirkan telah mencapai sekitar 6.000 orang, menjadikan krisis ini sebagai salah satu penindasan paling mematikan sejak Revolusi Islam 1979.

Drone, Penembak Jitu, dan Teror Psikologis

Kesaksian dari berbagai kota menyebutkan bahwa di sejumlah wilayah, pasukan keamanan Iran tampak mengalami kekurangan personel. Kondisi ini mendorong aparat mengandalkan intimidasi bersenjata, tembakan peringatan, serta kekerasan terbuka untuk membubarkan massa.

Pemerintah Iran juga memperingatkan akan menggunakan drone untuk memantau dan mengendalikan warga. 

Menanggapi hal ini, seorang pakar drone militer bernama Zir menyatakan: “Saya meragukan drone akan digunakan untuk serangan langsung saat ini. Namun jika drone dimanfaatkan untuk membantu penempatan penembak jitu atau sekadar mengintimidasi demonstran, itu sama sekali tidak mengejutkan.”

Trump: Iran Melampaui Garis Merah AS

Pada 11 Januari 2026, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyatakan secara terbuka bahwa Iran telah mulai melampaui garis merah Amerika Serikat. Dia memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap kepentingan AS akan dibalas dengan kekuatan yang menghancurkan.

“Mereka sangat brutal. Saya bahkan tidak yakin apakah mereka masih pantas disebut pemimpin, atau hanya sekelompok orang yang memerintah lewat kekerasan,” ujar Trump.

Trump juga mengungkapkan bahwa meskipun pihak Iran menyatakan keinginan untuk berunding dan pembicaraan tengah dijadwalkan, Amerika Serikat mungkin akan bertindak lebih dulu jika situasi terus memburuk. Dia menegaskan bahwa dirinya menerima laporan intelijen setiap jam, dan keputusan akan diambil berdasarkan perkembangan terbaru di lapangan.

Pada sore hari 11 Januari, Gedung Putih mengunggah pernyataan singkat namun bernada keras di platform X: “Tuhan memberkati militer kita. Tuhan memberkati Amerika. Ini baru permulaan.”

Unggahan tersebut disertai foto Presiden Trump dengan slogan khas “Make America Great Again.”

Menurut laporan The Wall Street Journal, Trump dijadwalkan menggelar rapat keamanan nasional tingkat tinggi pada 13 Januari 2026.

Kekosongan Kapal Induk dan Opsi Asimetris AS

Patut dicatat, kapal induk nuklir AS USS Gerald R. Ford baru saja dialihkan ke kawasan Venezuela. Akibatnya, Timur Tengah kini mengalami kekosongan kapal induk AS yang tergolong langka. Situasi ini mendorong Washington mempertimbangkan opsi non-konvensional, termasuk serangan siber, jaringan intelijen rahasia, serta metode asimetris lainnya untuk menekan Teheran secara ekstrem.

Pendapat Pakar Terbelah

Mantan diplomat AS sekaligus pakar Iran, Ervand Abrahamian, mengatakan kepada Reuters bahwa meskipun demonstrasi besar ini telah melemahkan rezim teokrasi Iran, peluang untuk menggulingkan sistem saat ini masih relatif kecil.

Menurutnya, tidak terlihat adanya perpecahan serius di kalangan elite kekuasaan, sementara gerakan perlawanan rakyat masih belum terorganisasi secara struktural.

Namun, pandangan berbeda disampaikan oleh mantan Jenderal Angkatan Darat AS sekaligus analis strategi senior Fox News, Jack Keane. Dia menilai bahwa Republik Islam Iran kini berada pada titik terlemah dalam 45 tahun terakhir, dan hampir tidak memiliki kapasitas untuk pulih jika tekanan internal dan eksternal terus berlanjut.

Israel Siaga Tinggi, Ancaman Terbuka dari Teheran

Reuters juga mengutip sejumlah sumber Israel yang menyatakan bahwa Israel kini berada dalam status siaga tinggi, bersiap menghadapi kemungkinan intervensi militer AS terhadap Iran. Para pemimpin kedua negara dilaporkan telah melakukan pembicaraan telepon intensif dua hari sebelumnya.

Di Teheran, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan Washington agar tidak salah langkah. Dia menyatakan bahwa jika Amerika menyerang Iran, maka Israel serta pangkalan dan kapal Amerika akan menjadi target sah serangan balasan.

Menurut laporan Associated Press, pernyataan tersebut disambut histeria di parlemen Iran, dengan para anggota parlemen berhamburan ke mimbar sambil meneriakkan slogan anti-Amerika.

Kebangkitan Lintas Generasi Iran

Di tengah represi, para demonstran Iran merilis sebuah video propaganda berjudul “Fokus pada Iran”, yang menyampaikan pesan kuat kepada dunia: “Anda tidak memahami makna sejati dari protes ini. Seluruh generasi Iran sedang mempertaruhkan segalanya demi kebebasan.”

Dari generasi muda yang belum pernah hidup di luar rezim Islam, generasi paruh baya yang kehilangan masa kecil akibat Revolusi 1979, hingga generasi tua yang masih mengingat Iran sebelum ekstremisme agama—tiga generasi kini berdiri bersatu.

Ini bukan sekadar luapan emosi sesaat, melainkan kebangkitan nasional lintas generasi untuk merebut kembali masa depan Iran yang merdeka.

Dukungan Global Menguat

Simbol perlawanan juga muncul di luar negeri. Sebuah bendera bersejarah Singa dan Matahari Iran dikibarkan di Kedutaan Besar Iran di Washington DC, yang telah kosong sejak 1979.

Di Canberra, Australia, seorang warga Iran berhasil menyelinap masuk ke kompleks kedutaan Iran dan mengganti bendera resmi dengan bendera Singa Matahari. Karena wilayah kedutaan dianggap kedaulatan asing, polisi Australia tidak dapat masuk, sementara para pendukung protes bersorak di luar gedung.

Di Inggris, lebih dari 30.000 orang berkumpul di pusat kota London untuk mendukung demonstran anti–Garda Revolusi Iran. Mereka menyatakan bahwa Inggris berdiri bersama “Iran yang sejati.”

Penulis Harry Potter, J.K. Rowling, turut menyuarakan dukungan terbuka bagi rakyat Iran. Dia menegaskan bahwa pihak-pihak yang mengaku membela hak asasi manusia namun diam terhadap penindasan di Iran telah memperlihatkan wajah aslinya.

Sementara itu, mendiang pendiri Turning Point USA, Charlie Kirk, sebelumnya juga pernah menyatakan bahwa jika dunia benar-benar peduli pada HAM, maka Iran seharusnya dikembalikan sebagai negara berperadaban modern yang bebas dari ekstremisme.

Iran kini berdiri di persimpangan sejarah. Antara penindasan total atau kelahiran kembali sebuah bangsa, dunia menunggu—dengan napas tertahan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Ini Target Jangka Pendek John Herdman di Timnas Indonesia
• 7 jam lalukompas.tv
thumb
Memanas! Tercatat 544 Orang Tewas dalam Aksi Protes Nasional di Iran | SAPA PAGI
• 8 jam lalukompas.tv
thumb
Tak Lagi Tampilkan Tersangka, KPK Diminta Seimbangkan Transparansi dan HAM
• 9 jam lalusuara.com
thumb
DPR Sebut Laporan terhadap Pandji Pragiwaksono tak Ditindaklanjuti Kepolisian, Ini Alasannya
• 1 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Sempat Dihujat dan Viral, Patung Macan Putih Kediri dapat Hak Paten
• 4 jam lalumerahputih.com
Berhasil disimpan.