Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menutup perdagangan Selasa (13/1/2026) sore di Jakarta dengan pelemahan 22 poin atau 0,13 persen, menjadi Rp16.877 per dolar AS dibandingkan Rp16.855 sebelumnya.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp16.875 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.853 per dolar AS.
Dilansir dari Antara, pelemahan kurs rupiah tersebut dipengaruhi sikap hati-hati investor terhadap aset berisiko.
“Kinerja mata uang rupiah mengalami pelemahan pada perdagangan sore ini diakibatkan oleh faktor global, terutama penguatan dolar AS di tengah meningkatnya kehati-hatian investor terhadap aset berisiko,” ungkap Taufan Dimas Hareva analis mata uang.
Menurutnya, ketidakpastian arah kebijakan suku bunga The Fe serta imbal hasil US Treasury yang masih tinggi mendorong pelaku pasar global memegang dolar AS, sehingga memberi tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Selain itu, sentimen negatif datang pula dari peningkatan ketegangan geopolitik global yang membuat pasar cenderung menghindari risiko.
“Kondisi ini memperkuat preferensi investor terhadap aset safe haven dan menyebabkan arus modal keluar dari pasar emerging market, yang pada akhirnya membatasi ruang penguatan rupiah meskipun tekanan yang terjadi masih relatif terkendali,” kata Taufan.
Melihat sisi domestik, sentimen terhadap rupiah disebut cenderung netral dengan fundamental ekonomi yang masih terjaga.
“Namun, pelaku pasar memilih bersikap wait and see terhadap langkah lanjutan Bank Indonesia serta perkembangan pasar keuangan global, sehingga pergerakan rupiah ke depan diperkirakan masih fluktuatif dan sangat dipengaruhi dinamika eksternal,” ujarnya. (ant/saf/ipg)


