Puncak musim hujan di Indonesia yang diperkirakan berlangsung pada Desember 2025 hingga Februari 2026, sebagaimana dicatat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, membawa implikasi lebih luas dari sekadar gangguan mobilitas.
Curah hujan yang mencapai 300–500 mm per bulan, bahkan hujan harian di atas 100 mm di sejumlah wilayah, berkontribusi pada peningkatan kelembapan udara di dalam rumah.
Kondisi ini diperkuat oleh aktifnya Monsun Asia serta potensi bibit siklon tropis di selatan Indonesia yang membuat hujan berlangsung lebih intens dan berkepanjangan.
Bagi rumah tangga perkotaan, tingginya kelembapan udara di ruang tertutup menjadi tantangan tersendiri. Ruangan dengan sirkulasi udara terbatas cenderung menjadi lingkungan ideal bagi virus flu, jamur, dan bakteri untuk berkembang.
World Health Organization menyoroti bahwa kelembapan udara yang terlalu tinggi dapat mempercepat penyebaran droplet virus, khususnya di ruang dalam rumah yang digunakan bersama.
Dari sudut pandang ekonomi, kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya kesehatan dan menurunkan produktivitas anggota keluarga, terutama saat musim hujan berlangsung lama.
Baca Juga: Lonjakan ISPA di Musim Hujan Tekan Produktivitas, Kualitas Udara Rumah Jadi Perhatian Dunia Usaha
Udara lembap tidak hanya memicu bau apek dan jamur pada dinding atau perabot, tetapi juga memperbesar risiko penularan penyakit pernapasan.
Pada tingkat kelembapan tinggi, droplet pembawa virus cenderung bertahan lebih lama di udara ruang tertutup, sehingga peluang penularan flu meningkat.
Dampaknya tidak hanya dirasakan manusia, tetapi juga hewan peliharaan yang relatif lebih sensitif terhadap kualitas udara.
Tanpa pengendalian kelembapan, rumah dapat berubah menjadi ruang berisiko selama periode hujan yang berkelanjutan, ketika ventilasi jarang dibuka.
Di tengah kondisi tersebut, solusi pengendalian kelembapan mulai dipandang sebagai langkah preventif bernilai ekonomi.
Notale Dehumidifier Suho hadir dengan pendekatan menekan sumber masalah, yakni kelembapan berlebih.
Perangkat ini bekerja dengan menyedot udara lembap dari ruangan, memisahkan uap air melalui proses kondensasi, lalu mengembalikan udara yang lebih kering ke dalam ruangan.
Dengan menurunkan tingkat kelembapan, lingkungan udara menjadi kurang kondusif bagi droplet virus untuk bertahan dan menyebar.
Didukung kapasitas penyerapan hingga 12 liter per hari, Notale Suho dirancang untuk menjaga kelembapan tetap stabil meski hujan berlangsung berhari-hari.
Sirkulasi udara sebesar 110 m³ per jam membantu mempercepat perputaran udara, sehingga kelembapan tidak terperangkap di satu area dan kualitas udara ruangan lebih merata.
Dari sisi operasional, perangkat ini menawarkan fleksibilitas melalui tiga mode kerja seperti Dry untuk penyerapan maksimal, Continue untuk dehumidifikasi nonstop hingga tangki penuh, serta Dehum Mode yang menjaga kelembapan di kisaran 30–80 persen RH, rentang yang dinilai lebih aman bagi kesehatan pernapasan.
Tangki air berkapasitas 1,6 liter dilengkapi fitur auto shut-off yang menghentikan operasi saat penuh, memungkinkan penggunaan sepanjang hari dengan tingkat keamanan yang memadai.
Desain yang dilengkapi handle dan roda dorong memudahkan pemindahan antar-ruangan sesuai kebutuhan.
Di tengah musim hujan panjang dan tantangan kualitas udara dalam ruangan, perangkat pengendali kelembapan kian diposisikan bukan sekadar produk rumah tangga, melainkan investasi preventif untuk menekan risiko kesehatan dan biaya jangka panjang bagi keluarga.


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5471176/original/015231200_1768279469-20260113BL_Pengenalan_Pelatih_Baru_Timnas_Indonesia__John_Herdman_8.jpg)


