Harga emas global terpantau stabil mendekati level tertingginya atau all-time high (ATH) pada perdagangan Selasa (13/1). Pergerakan tersebut berlangsung seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap independensi bank sentral AS, Federal Reserve atau The Fed.
Ketegangan itu dipicu oleh tekanan beruntun dari Pemerintah AS terhadap The Fed. Kondisi tersebut membuat harga emas berjangka sepanjang hari ini bertengger di kisaran US$ 4.582,95 hingga US$ 4.616,7 per ons, setelah sebelumnya ditutup di level US$ 4.614,7 per ons.
Bloomberg melansir, serangan politik pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap bank sentral AS itu telah menyalakan kembali narasi "jual Amerika". Tren tersebut makin mencuat setelah Departemen Kehakiman AS meluncurkan penyelidikan kriminal terhadap Ketua The Fed, Jerome Powell.
Dampaknya, nilai tukar dolar sempat merosot dan harga obligasi pemerintah AS mengalami penurunan di seluruh kurva. Itu terjadi seiring merebaknya keraguan di kalangan investor atas kemampuan bank sentral dalam mengendalikan inflasi.
Situasi ini juga mendorong munculnya strategi investasi debasement trade, yakni para pelaku pasar melepas dolar dan aset sensitif lainnya untuk beralih ke emas sebagai pelindung nilai dari guncangan politik.
Menteri Keuangan Scott Bessent dan sejumlah politisi Partai Republik telah memperingatkan bahwa langkah Trump dapat merusak pasar. Namun, ketidakpastian diprediksi akan terus berlanjut.
Isu Powell Jadi Penggerak Utama Pasar EmasDirektur Strategi Komoditas BNP Paribas SA, David Wilson, menilai spekulasi mengenai masa jabatan Powell yang akan berakhir pada Mei mendatang akan tetap menjadi penggerak utama pasar emas di sepanjang 2026. Hal itu memperpanjang momentum kenaikan harga logam mulia yang sudah terjadi sejak tahun lalu akibat berbagai risiko geopolitik.
Di sisi lain, pergerakan harga juga diwarnai oleh aksi spekulatif yang sangat dinamis. Analis dari Saxo Bank, Ole Hansen, mencatat bahwa banyak trader saat ini sekadar mengejar momentum kenaikan harga.
"Namun mereka juga siap dengan cepat untuk mengurangi eksposur jika tren berbalik arah," kata dia.
Kondisi serupa terjadi pada perak yang mengalami volatilitas tinggi setelah sempat menghapus kerugian sebesar 2%. Untuk meredam gejolak perdagangan yang ekstrem, CME Group bahkan memutuskan untuk mengubah sistem perhitungan margin kontrak berjangka logam mulia menjadi berbasis persentase nilai nominal mulai penutupan perdagangan Selasa.
Optimisme terhadap logam mulia diperkirakan masih akan kuat dalam jangka pendek. Citigroup memproyeksikan emas dapat menyentuh angka US$ 5.000 per ons dan perak mencapai US$ 100 per ons dalam tiga bulan ke depan.
Meski pasar bullish ini diprediksi masih bertahan, para analis memperkirakan permintaan terhadap aset lindung nilai mungkin akan mereda di akhir tahun jika ketegangan geopolitik mulai mendingin.
Hingga Selasa petang WIB, harga emas spot terpantau masih kokoh di level US$ 4.587 per ons. Sementara perak terus menguat ke level US$ 85,61 per ons.

