Bisnis.com, JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memberikan dampak bagi emiten minyak dan gas (migas) yang memiliki eksposur tinggi terhadap greenback. Nilai tukar rupiah telah melemah delapan hari beruntun, menjadikannya ada di level Rp16.876,50 per dolar AS. Level ini menjadi yang terendah sejak April 2025.
Di satu sisi hal ini akan menguntungkan emiten migas dari sisi top line karena konversi pendapatan berbasis dolar AS ke rupiah akan menghasillan nilai lebih besar, namun di sisi lain berisiko di saat struktur liabilitas perseroan besar berbasis dolar AS.
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai penguatan dolar AS terhadap rupiah saat ini dapat berperan sebagai lindung nilai alami (natural hedge) bagi emiten migas. Kondisi tersebut terutama dirasakan oleh emiten dengan pendapatan dolar AS yang dominan, sementara sebagian biaya operasional masih berbasis rupiah.
"Pendapatan berbasis dolar AS bikin margin operasional berpotensi melebar karena biaya operasional berbasis rupiah. Meski ada risiko kenaikan nilai buku utang valas, kinerja bisa tetap solid," ujar Wafi kepada Bisnis, Selasa (13/1/2026).
Menurut Wafi, lindung nilai alami tersebut menjadi relevan ketika average selling price (ASP) tertekan oleh penurunan harga minyak global. Dalam kondisi tersebut, depresiasi rupiah dapat menahan tekanan pendapatan dalam konversi ke rupiah.
Sebagai contoh, pendapatan segmen kontrak minyak dan gas PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) sepanjang sembilan bulan pertama 2025 terkoreksi 0,76% secara year on year menjadi US$1,59 miliar. Produksi migas MEDC pada periode tersebut mencapai 150 ribu barel setara minyak per hari (mboepd), sedikit lebih rendah dibandingkan periode yang sama 2024, dengan komposisi produksi 28% minyak dan 72% gas.
Baca Juga
- IHSG Pekan Depan Berpotensi Konsolidasi, CENT hingga AGII Masuk Radar Analis
- Saham Energi Bersih Fluktuasi, Investor Cermati Dampak Kebijakan AS
- Menilik Kiprah Pertamina di Era Ibnu Sutowo yang Disinggung Prabowo
Pendapatan kontrak migas tersebut berkontribusi 92,97% terhadap total pendapatan MEDC. Secara akumulasi, pendapatan perseroan pada periode Januari–September 2025 tercatat susut 1,54% year on year menjadi US$1,72 miliar. Dari sisi laba bersih, MEDC masih membukukan keuntungan sebesar US$85,65 juta, meskipun turun 68,66% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kondisi berbeda terlihat pada PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG). Sepanjang sembilan bulan pertama 2025, penjualan dari segmen minyak mentah ENRG turun 3,54% year on year menjadi US$112,14 juta. Penurunan tersebut dipicu oleh koreksi harga rata-rata penjualan yang turun 14% menjadi US$71,14 per barel, meski volume produksi meningkat 6% menjadi 8.381 barel per hari.
Segmen penjualan minyak ENRG hanya berkontribusi 31,03% terhadap total pendapatan. Sebaliknya, segmen penjualan gas bumi yang menyumbang 61,01% terhadap pendapatan tumbuh 9,36% menjadi US$220,49 juta. Dengan demikian, penjualan neto ENRG secara akumulasi pada Januari–September 2025 meningkat 13,05% year on year menjadi US$361,38 juta.
Sementara itu, emiten migas sektor hilir seperti PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA) membukukan pendapatan Rp32,39 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2025, tumbuh 13,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sebagian besar pendapatan AKRA berasal dari segmen perdagangan dan distribusi.
Mengacu pada struktur bisnis tersebut, Wafi menilai MEDC dan AKRA berada pada posisi yang relatif strategis di tengah pelemahan rupiah.
"MEDC diuntungkan karena porsi pendapatan dolar AS yang dominan dan portofolio gas, sementara AKRA punya model bisnis pass-through yang bisa meneruskan fluktuasi kurs ke konsumen, jadi marginnya stabil," ujarnya.
Atas dasar itu, KISI Sekuritas merekomendasikan beli saham MEDC dengan target harga Rp1.900 serta AKRA dengan target harga Rp1.850. Pada penutupan perdagangan Selasa (13/1), saham MEDC turun 1,96% ke level Rp1.500, sementara saham AKRA melemah 0,40% ke Rp1.240.
____
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





