Liputan6.com, Jakarta - Perubahan iklim bukan hanya ancaman abstrak yang seperti dibicarakan dalam forum-forum internasional, tetapi sudah menjadi benar-benar hadir dalam kehidupan dalam sehari-hari.
Terutama dikawasan kota, dengan kepadatan penduduk dan aktivitas ekonominya, menjadi sebuah ruang yang sangat rentan terhadap guncangan dari perubahan iklim yang terjadi.
Advertisement
Ironisnya, kota yang salam ini menyumbang emisi karbon dengan jumlah yang besar sekaligus menanggung dari dampak terberatnya. Salah satu implikasinya, perubahan iklim yang kerap hilang pembahasannya adalah sistem pangan perkotaan.
Pada dasarnya, kota adalah konsumen pangan, sebagian besar bahan makanaan yang dikonsumsi oleh warga kota selalu didatangkan dari wilayah perdesaan, bahkan lintas provinsi ataupun lintas pulau. Dilansir dari Antara, Selasa (13/1/2026).
Ketika perubahan iklim menjadi penyebab kekeringan, gagal panen, atau gangguan dari distributor, kota menjadi sebuah wilayah yang paling cepat merasakan dampaknya, baik dalam bentuk kelangkaan pasokan pangan ataupun lonjakan harga pangan.
Dalam hal ini, kebutuhan akan sistem dari pangan yang lebih tangguh, adaptifm dan rendah emisi menjadi semakin mendesak. Lalu, urban farming hadis sebagai salah satu jawaban atas tantangan tersebut.
Bukan hanya sekedar praktik bercocok tanam di tengah kota,tetapi bagian dari strategi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di kawasan perkotaan.
Dengan memproduksi pangan lebih dekat dengan konsumen, urban farming juga membantu kota mengurangi ketergantungan pada distributor panjang yang terlalu rentan pada guncangan iklim dan krisis energi.

/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2025%2F08%2F07%2Fa32602f712e519b2b97da4da51f06248-FAK_5178.jpg)

