GRESIK (Realita) – Genangan akibat luapan Kali Lamong kembali merendam wilayah selatan Kabupaten Gresik, yakni Kecamatan Balongpanggang dan Benjeng, Sabtu (10/1/2026) dini hari.
Sutejo, anggota komunitas lingkungan Tunas Hijau mengatakan selain akibat curah hujan tinggi, banjir juga dipicu oleh pembangunan infrastruktur yang tidak terintegrasi dari hulu hingga hilir. Meskipun beberapa kali dilakukan pelebaran dan pengerukan Kali Lamong di sejumlah titik, namun bagian hilir justru dibiarkan tanpa penanganan serius, sehingga aliran air menuju laut tetap terhambat.
Baca juga: Kepolisian Gresik Tangkap Pelaku Penganiayaan di SPBU Sembayat
"Selain itu juga alih fungsi lahan hijau menjadi perumahan di beberapa desa. Ini jelas selain melanggar aturan juga dampaknya ke masyarakat luas, sehinga resapan air berkurang dan menjadi salah satu penyebab banjir," ujar Kang Tejo panggilan sehari hari Sutejo kepada wartawan, Selasa (13/1/2026).
Lebih lanjut, Sutejo menjelaskan kondisi serupa juga terlihat pada pembangunan jalan poros seperti di kawasan Morowudi yang dinilai lebih tinggi dan relatif aman dari genangan. Namun di sisi lain, saluran air dianggap kurang mendapat perhatian.
"Sehingga air justru tertahan dan menggenangi permukiman warga di selatan jalan dengan ketinggian yang lebih parah dan durasi genangan yang lebih lama," lanjutnya.
Sutejo yang juga aktivis relawan penanggulangan bencana SRPB Jatim, menilai solusi parsial tidak akan menyelesaikan masalah. Ia mengusulkan pembangunan gorong-gorong atau saluran air di setiap desa yang menembus ke arah utara jalan. Namun ia mengingatkan, solusi tersebut tidak boleh berhenti hanya sampai di situ.
“Kalau gorong-gorong hanya sampai menembus jalan, dampaknya hanya memindahkan banjir ke desa-desa di utara jalan,” tegas Sutejo. "Selain itu saluran air kiri kanan jalan raya juga harus dinormalisasi, karena ada dititik titik tertentu saluran terlalu sempit dan dangkal bahkan tertutup bangunan," tambahnya.
Menurutnya, saluran air harus diteruskan secara lurus hingga benar-benar bermuara ke sungai. Konsekuensinya memang berat, termasuk pembebasan lahan di sepanjang jalur gorong-gorong. Namun langkah tersebut dinilai sebagai solusi jangka panjang agar banjir tidak terus menjadi bencana tahunan.
Baca juga: UMK Gresik 2026 Tembus Rp5,19 Juta
Ia juga menyoroti persoalan klasik banjir Kali Lamong yang terkesan menjadi ajang tarik-ulur kewenangan antara pemerintah kabupaten, provinsi, hingga pusat. Akibatnya, masyarakat Gresik selatan harus menanggung dampak banjir selama puluhan tahun.
“Harusnya semua pihak bisa duduk bersama. Jangan sampai masyarakat terus menjadi korban setiap tahun. Lahan pertanian sudah berkali-kali gagal tanam dan gagal panen karena terendam banjir,” tambahnya.
Sementara itu, berdasarkan laporan Sukardi Kalaksa BPBD Kabupaten Gresik, banjir luapan Kali Lamong terjadi pada Sabtu, 10 Januari 2026, sekitar pukul 04.30 WIB. Banjir disebabkan curah hujan tinggi di wilayah Gresik serta kiriman air dari hulu, yakni Kabupaten Lamongan dan Mojokerto, yang membuat debit Kali Lamong meningkat drastis.
Di Kecamatan Balongpanggang, banjir merendam Desa Wotansari, Banjaragung, dan Pucung. Puluhan rumah tergenang, jalan desa dan jalan lingkungan terendam hingga 25 sentimeter, serta persawahan seluas puluhan hektare terendam air.
Baca juga: Pembangunan Pendopo Makam Senilai 80 Juta Rupiah di Desa Bolo Gresik Menjadi Sorotan
Sedangkan di Kecamatan Benjeng, dampak lebih luas terjadi di Desa Lundo, Sedapur Klagen, Delik Sumber, Dusun Ngablak Deda Kedung Rukem, Munggugianti, dan Bulurejo. Ratusan rumah terendam, sejumlah fasilitas umum seperti balai desa, sekolah, masjid, hingga puskesmas pembantu ikut terdampak. Total ratusan hektare persawahan kembali tergenang, memperpanjang daftar kerugian petani.
BPBD Gresik memastikan tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Hingga Sabtu pagi pukul 13.00 WIB, kondisi cuaca terpantau cerah berawan dan sempat turun hujan, tetapi situasi dinyatakan aman terkendali. Tim BPBD bersama unsur terkait terus melakukan asesmen, monitoring ketinggian muka air Kali Lamong, serta pendataan dampak di lapangan.
Namun bagi warga Balongpanggang dan Benjeng, status “aman terkendali” belum sepenuhnya menjawab kegelisahan. Selama solusi menyeluruh belum diwujudkan, banjir dipastikan akan terus datang, meninggalkan genangan air, kerugian ekonomi, dan harapan yang kembali terendam setiap musim hujan.
Reporter : M. Yusuf Al Ghoni
Editor : Redaksi




