DBS mengungkap strategi investasi untuk 2026 dengan menekankan perlindungan nilai portofolio melalui aset riil, menyusul meningkatnya risiko inflasi global akibat menguatnya dominasi kebijakan fiskal, khususnya di Amerika Serikat.
Chief Investment Officer DBS, Hou Wey Fook, menilai investor perlu menyesuaikan alokasi aset menghadapi tekanan struktural inflasi yang berpotensi bertahan lebih lama pada 2026.
“Melindungi nilai portofolio berarti berinvestasi pada aset riil,” ujar Hou, Jakarta, Selasa (13/1/2026).
Menurutnya, aset riil seperti infrastruktur, properti, komoditas, dan logam mulia secara historis menunjukkan kinerja yang lebih baik dalam siklus inflasi, terutama ketika kebijakan fiskal dan moneter berada dalam posisi longgar dalam jangka panjang.
Baca Juga: OJK Ungkap Hasil Investasi Asuransi Syariah Capai Rp2,73 Triliun
Hou menjelaskan, latar belakang strategi tersebut tidak terlepas dari perubahan lanskap kebijakan global, khususnya di Amerika Serikat. Ia menilai ekonomi AS kini memasuki fase dominasi fiskal yang semakin menonjol, ditandai oleh defisit anggaran yang persisten serta lonjakan utang publik.
Kondisi tersebut, kata dia, berpotensi mengaburkan efektivitas kebijakan moneter dan menimbulkan tekanan struktural terhadap stabilitas harga.
“Setiap pelemahan kemandirian Federal Reserve, baik yang nyata maupun yang dirasakan, dapat memicu kembali kekhawatiran inflasi dan memaksa pasar untuk menuntut premi risiko yang lebih tinggi,” ujarnya.
Baca Juga: Kredit UMKM Kontraksi, Bos OJK Beberkan Strategi di 2026
Hou menambahkan, dominasi fiskal tercipta ketika kebijakan fiskal dan moneter sama-sama longgar dalam periode yang berkepanjangan. Situasi ini menambah tekanan pada pasar keuangan dan meningkatkan kemungkinan kenaikan harga yang bersifat struktural, bukan sementara.
Dalam konteks tersebut, DBS menilai risiko inflasi tidak lagi bersifat teoretis bagi investor, melainkan telah menjadi tantangan praktis dalam pengelolaan portofolio global.
“Bagi investor, ini bukan sekadar risiko teoretis, melainkan tantangan praktis,” kata Hou.
Ia menegaskan bahwa strategi investasi menuju 2026 perlu mempertimbangkan perlindungan daya beli aset dan ketahanan portofolio terhadap ketidakpastian kebijakan fiskal serta meningkatnya tuntutan premi risiko di pasar keuangan global.





:strip_icc()/kly-media-production/medias/5470822/original/019443100_1768249290-61a3487e-8d8e-45b8-9a95-2c5134addbbe.jpeg)