Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan Indonesia saat ini menjadi salah satu negara di ASEAN yang berada di posisi terdepan dalam persaingan ekonomi global. Salah satu indikator kuat adalah masuknya Indonesia dalam proses keanggotaan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang kini tengah menjalani technical review, sementara negara lain seperti Thailand masih berada di tahap awal.
Indonesia juga sedang dalam proses bergabung dengan Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP). Namun RI masih masih tertinggal dari Singapura, Malaysia, dan Vietnam.
"Tentu Singapura tidak suka-suka banget juga kalau Indonesia masuk di dalam seluruh free trade. Jadi, ada juga upaya-upaya untuk mengganggu Indonesia, tetapi Indonesia sudah di dalam track," kata Airlangga dalam acara Road to Jakarta Food Security Summit (JFSS) 2026 bertema "Ketahanan Pangan untuk Menjaga Kedaulatan Bangsa” di Menara Kadin. Selasa (13/1).
Ia menilai, Indonesia memiliki keunggulan utama berupa akses pasar yang besar. Terlebih, posisi Indonesia sebagai alternatif pertumbuhan ekonomi kedua setelah Cina, daya saing energi yang kompetitif, serta sumber daya manusia yang berdaya saing.
Selain mengandalkan ekspor, Airlangga menambahkan bahwa kekuatan Indonesia juga ditopang oleh resiliensi pasar domestik. Sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, pengembangan wilayah dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dinilai penting untuk meningkatkan daya saing produk nasional dan mendorong ekspor.
“Ini menunjukkan bahwa produk dari kawasan ekonomi khusus itu sangat bersaing di berbagai negara, dan ekspor kita akan terus meningkat,” ujarnya.
Airlangga mengatakan, presiden juga sudah mengingatkan labor intensive base harus tetap dijaga. Untuk mempertahankan ini, Airlangga penyebut pemerintah akan menyiapkan dana sekitar Rp 6 miliar untuk menjaga agar teknologinya tetap bersaing.
“Ini dilakukan agar investasinya tetap berjalan, terutama untuk tekstil, produk tekstil,” kata Airlangga.


