Di tengah budaya populer dan dominasi media sosial, dunia kampus kini bukan lagi sekadar ruang belajar, tapi juga menjadi panggung eksistensi. Mahasiswa datang dengan harapan membangun masa depan, namun tidak sedikit yang justru terseret arus gaya hidup yang tak sesuai kemampuan.
Fenomena salah pergaulan ini kian marak mahasiswa berlomba tampil fashionable, eksis di media sosial, dan mengikuti tren demi terlihat “masuk” dalam lingkungan pertemanan. Dan tak lepas dari tekanan sosial dan standar palsu di media digital. Akibatnya, banyak yang kehilangan arah, nilai turun, dan hidup jadi beban. Di balik tampil keren, ada yang terjerat utang atau harus kerja sambilan diam-diam.
Tak jarang, mereka rela menekan kondisi ekonomi keluarga demi “match” dengan gaya hidup teman sekelompok. Membeli outfit mahal, nongkrong di kafe hits, atau mengikuti tren kekinian dilakukan agar tidak merasa tertinggal. Padahal, di balik unggahan media sosial yang tampak mewah, banyak yang sebenarnya sedang berjuang diam-diam menunggak uang kuliah, mengurangi makan, hingga mengambil kerja paruh waktu demi menjaga citra. Gengsi menjadi topeng, sementara kebutuhan mendasar sering dikorbankan.
Tekanan sosial dari lingkungan, ditambah pengaruh selebgram dan konten kreator yang menampilkan kemewahan sebagai standar hidup, membuat batas antara realitas dan pencitraan semakin kabur. Mahasiswa tak lagi fokus pada akademik, tapi lebih sibuk membangun citra. Akibatnya, nilai menurun, tujuan kuliah melenceng, dan tidak sedikit yang mengalami krisis identitas.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana kampus tak lagi sekadar tempat menimba ilmu, melainkan panggung pencitraan yang bisa menjebak mahasiswa pada prioritas yang keliru.
Di sinilah pentingnya memilih lingkungan pertemanan yang sehat dan suportif. Kampus seharusnya menjadi tempat menanamkan nilai kemandirian, bukan ajang pembuktian status sosial. Sebab di dunia nyata, yang dibutuhkan bukan sekadar penampilan, tapi karakter, ilmu, dan integritas. Perlu disadari, teman yang baik bukan yang membuat kita berlomba gaya, tapi yang mendukung tumbuh dan fokus pada masa depan.
Salah memilih teman bisa menjadi awal dari banyak keputusan keliru. Menjadi keren bukan soal gaya, tapi soal sikap: tahu prioritas, sadar diri, dan berani tampil apa adanya demi masa depan yang lebih berarti.



