Ekonomi Domestik Mulai Bergeliat Pada Tahun 2026, Reksa Dana Dinilai Masih Miliki Ketertarikan Bagi Investor

tvonenews.com
1 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, tvOnenews.com - Ekonomi global diperkirakan akan bertumbuh secara stagnan sebesar 3,2 persen pada tahun 2026 seiring pemulihan ekonomi domestik yang mulai terlihat bergeliat.

Fakto utama prediksi pertumbuhan ekonomi global stagnan diangka 3,2 persen diantarannya ketegangan geopolitik, perang dagang, krisis iklim serta dampak lanjuta dari pandemic Covid-19.

Kendati demikian, sejumlah negara maju seperti Amerika Serikat (AS) hingga bagian Eropa memiliki ketahanan yang relative baik meski proyeksi pertumbuhan khususnya ekonomi AS melambat menjadi 1,7 persen dari sebelumnya pada 2025 sebesar 2 persen.

Meski adanya kondisi tersebut, PT Insight Investments Management (PT IIM) memandang jika tahun ini penuh dengan tantangan sekligus peluang.

“Kebijakan tarif Amerika Serikat yang bersifat proteksionis justru meningkatkan ketidakpastian global dan berpotensi berpengaruh negatif terhadap Amerika Serikat sendiri. Dampaknya terhadap aktivitas bisnis dan investasi baru akan semakin terasa ke depan,”  kata Direktur PT IIM, Camar Remoa kepada awak media, Jakarta, Selasa (13/1/2026).

Camar menuturkan peluang tersebut terlihat dari sisi negara berkembang yang dikategorikan sebagai motor pertumbuhan global termasuk Indonesia yang diprediksi pihaknya bakal mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 5.2 persen melalui factor membaiknya permintaan domestic dan stabilitas makro ekonomi.

Hal ini terlihat dari data Consumer Confidence Index (CCI) yang terus menguat bertanda pulihnya kepercayaan masyarakat serta tren suku bunga yang lebih rendah dengan harapan terstimulasi untuk meningkatkan belanja. 

Tak hanya itu, kata Camar, inflasi juga terkendali di bawah 3 persen sesuai dengan target Bank Indonesia yang menandakan efektivitas kebijakan moneter dalam menjaga stabilitas harga.

“Pemulihan ekonomi domestik mulai terlihat lebih merata. Kepercayaan konsumen yang membaik, inflasi yang terkendali, serta dukungan kebijakan moneter dan fiskal menjadi kombinasi positif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan,” katanya.

Sementara, Camar memaparkan dari sisi pasar obligasi hingga akhir September 2025 pemerintah telah menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp710,55 triliun, atau sekitar 79 persen dari target lelang tahun 2025 dengan sisa penerbitan sekitar Rp180 triliun pada kuartal IV hingga terbilang masih sangat manageable.

Menurutnya kepemilikan SBN terus didominasi oleh investor domestic dengan mencerminkan keyakinan pasar terhadap stabilitas dan kredibilitas obligasi pemerintah Indonesia.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Foto: Lautan Warga Iran Pendukung Pemerintah Turun ke Jalan
• 13 jam lalukumparan.com
thumb
Transaksi 3 Program Belanja Akhir Tahun Pemerintah Tembus Rp122,28 T
• 22 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Venus Williams tersingkir pada babak pertama WTA Hobart
• 7 jam laluantaranews.com
thumb
Sejumlah Wilayah di Lima Kabupaten Jatim Masih Terendam Banjir Hingga Hari Ini
• 16 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
John Herdman Buka Peluang Naturalisasi Baru untuk Timnas Indonesia
• 7 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.