Bisnis.com, DENPASAR – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menyediakan anggaran hibah riset yang cukup besar pada 2025.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie menjelaskan pemerintah menyediakan dana hibah untuk penelitian pada 2025 yakni sebesar Rp3,2 triliun atau mengalami kenaikan 218% dibandingkan Rp1,4 triliun pada 2024. Ia berkomitmen untuk terus meningkatkan dana riset karena berperan penting dalam kemajuan bangsa.
Salah satu fokus riset yang didorong oleh pemerintah adalah kaitan musik dengan pengembangan otak.
"Kaitan antara musik dan fungsi otak telah menjadi standar riset global, Indonesia kini tengah bergerak cepat mengejar penguatan studi di bidang tersebut," jelas Stella, Selasa (13/1/2026).
Stella juga menilai Bali cocok menjadi lokasi riset kaitan antara musik dan otak, apalagi sudah ada lokasi ideal seperti Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura-Kura yang fokus sebagai KEK pendidikan, inovasi, riset untuk pengembangan ilmu pengetahuan.
Di KEK Kura - Kura juga dilaksanakan Music and Brain: Imaging Imagination - Musical Creativity and The Brain untuk ketiga kalinya di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali pada 9-11 Januari 2026. Acara ini merupakan sinergi antara Tsinghua Southeast Asia Center (TSEA), Tsinghua University bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Baca Juga
- Penyebab Stroke Iskemik, dan Cara Menilai Kerusakan Otak
- Studi Ungkap Konsumsi Alkohol Bisa Picu Pendarahan Otak di Usia Muda
- Terapkan 5 Kebiasaan Ini untuk Latih Otak agar Tetap Tenang di Bawah Tekanan
Pakar neurosains musik ternama dunia, Prof. Charles Limb dari University of California, San Fransisco hadir dan turut memaparkan hasil risetnya dan membuktikan bahwa musik memiliki peran lebih dari sekadar hiburan. Eksistensi musik di hampir seluruh budaya manusia menunjukkan adanya fungsi biologis mendasar, terutama dalam aspek kesehatan mental dan hubungan sosial.
Dengan antusiasme tinggi, Prof. Charles Limb menyampaikan optimismenya terhadap sinergi lintas disiplin ini dan berharap Bali bisa menjadi tempat riset berkualitas selanjutnya.
"Semua orang yang peduli akan hal ini, semua yang mencintai musik sekaligus mencintai sains, dan ingin melihat kedua dunia ini bersinergi kita semua ada di sini melakukan bagian kita masing-masing. Kamu hanya membutuhkan konteks dan lingkungan yang lebih baik agar hal ini bisa terulang kembali. Jika hal seperti ini tidak terjadi di AS, Washington DC, mungkin ini bisa terjadi di tempat lain di seluruh dunia, bahkan mungkin di Bali," jelasnya.
Selama tiga hari penuh, workshop ini menyajikan pengalaman imersif yang bukan sekadar teori. Para peserta bisa menyaksikan langsung demonstrasi teknologi mutakhir dan pertunjukan musik yang mengeksplorasi keajaiban ritme, melodi, yang mempengaruhi kinerja otak manusia.
Hal menarik lainnya, workshop ini juga menyoroti potensi teknologi masa depan dalam menghadirkan musik yang inklusif bagi penderita gangguan pendengaran. Rangkaian kegiatan ditutup dengan public lecture, yang merupakan upaya memperluas akses publik terhadap diskursus ilmiah serta memperkuat keterhubungan antara dunia riset dan masyarakat.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5473047/original/034735000_1768385202-Screenshot_2026-01-14_170326.png)


