Nuuk: Pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengenai rencana menganeksasi atau membeli Greenland telah menimbulkan “kekhawatiran yang sangat besar,” kata Menteri Energi Greenland pada Selasa, seraya menambahkan bahwa sebagian warga bahkan melaporkan kesulitan tidur.
Menteri Bisnis dan Sumber Daya Mineral Greenland Naaja Nathanielsen mengatakan bahwa perdana menteri serta seluruh pemimpin partai di Greenland telah menyampaikan dengan “sangat jelas” bahwa Greenland “tidak memiliki niat untuk menjadi bagian dari Amerika.”
“Ini bukan sesuatu yang kami tuju atau upayakan. Yang kami lakukan adalah membangun kerja sama yang lebih erat dengan Amerika selama bertahun-tahun. Kami adalah sekutu Amerika, tetapi kami tidak memandang diri kami sebagai akan menjadi orang Amerika,” ujar Nathanielsen dalam sebuah acara di parlemen Inggris di London.
Nathanielsen menyebut warga Greenland merasa “dikhianati” oleh retorika Trump terkait pulau tersebut. Ia mengatakan masyarakat khawatir dengan pesan-pesan dari Amerika Serikat mengenai kemungkinan aneksasi atau pembelian Greenland.
“Kami merasa retorika itu menyinggung, seperti yang telah kami sampaikan berkali-kali, dan juga membingungkan, karena selama ini kami justru mendukung pandangan bahwa Greenland merupakan bagian dari kepentingan nasional Amerika Serikat,” kata Nathanielsen.
“Hal ini menimbulkan kekhawatiran besar tentang masa depan. Orang-orang melaporkan kesulitan tidur. Isu ini benar-benar memenuhi agenda dan perbincangan di tingkat rumah tangga,” tambahnya.
Menanggapi pertanyaan mengenai kekhawatiran Amerika Serikat terhadap keamanan Arktik terkait meningkatnya kehadiran Rusia dan China, Nathanielsen mengatakan Rusia memang merupakan negara Arktik, sementara Tiongkok telah lama menunjukkan ketertarikan terhadap kawasan tersebut. Ia menambahkan bahwa Greenland selama bertahun-tahun telah mendorong peningkatan pemantauan di Arktik.
“Kami tidak memiliki masalah untuk lebih waspada terhadap apa yang terjadi di sekitar Greenland. Kami juga tidak keberatan memberikan akses yang lebih besar bagi NATO di Greenland,” ujarnya. 'Kita Semua Akan Diserang' Saat ditanya apakah ia mengharapkan dukungan dari sekutu NATO jika terjadi invasi Amerika Serikat, Nathanielsen mengatakan bahwa jika skenario itu terjadi, “setiap orang di ruangan ini dan setiap negara Anda harus memikirkan seperti apa tatanan dunia baru itu.”
“Karena itu berarti satu negara diserang oleh sesama mitra NATO, tetapi pada kenyataannya kita semua akan berada dalam posisi diserang,” katanya. Ia menambahkan bahwa hal tersebut akan menandai runtuhnya supremasi hukum, hukum internasional, serta perjanjian dan traktat yang ada.
Pernyataan Nathanielsen disampaikan sehari sebelum para pejabat senior Denmark dan Greenland dijadwalkan bertemu dengan pejabat Amerika Serikat di Washington.
Pertemuan itu akan berlangsung pada Rabu dengan dihadiri Menteri Luar Negeri Denmark Lars Løkke Rasmussen dan Menteri Luar Negeri Greenland Vivian Motzfeldt, serta Wakil Presiden AS J.D. Vance dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.
Greenland, wilayah berpemerintahan sendiri dalam Kerajaan Denmark, menarik minat Amerika Serikat karena lokasi strategisnya dan kekayaan sumber daya mineral. Namun, desakan Trump untuk memperoleh pulau tersebut—termasuk penolakannya untuk menyingkirkan opsi penggunaan kekuatan militer—telah menuai kecaman luas di tingkat global.
Trump, yang dikenal sebagai pengembang properti, menyebut kepemilikan Greenland sebagai “kebutuhan mutlak” bagi keamanan ekonomi Amerika Serikat, dan membandingkannya dengan “kesepakatan real estat besar.”
Denmark dan Greenland telah menolak usulan untuk menjual wilayah tersebut serta menegaskan kembali kedaulatan Denmark atas Greenland.
Sementara itu, sejumlah negara Eropa, termasuk Inggris, disebut tengah membahas kemungkinan pengerahan pasukan ke wilayah otonom Denmark tersebut, sebagai upaya meredakan kekhawatiran keamanan yang disuarakan Trump.
Baca juga: PM Greenland Tolak Tekanan AS, Tegaskan Berpihak ke Denmark




