Guru Besar FTP Universitas Brawijaya Teliti Limbah Sawit Jadi Bioetanol

bisnis.com
10 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, MALANG—Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Brawijaya, Prof. Agustin Krisna Wardani, meneliti potensi limbah sawit menjadi bioetanol.

Dia menjelaskan, ketertarikannya mengembangkan inovasi bioetanol generasi kedua berangkat dari potensi strategis Indonesia yang sangat besar. 

“Alasan utama saya menekuni riset bioetanol generasi kedua adalah ketersediaan biomassa yang melimpah, khususnya biomassa lignoselulosa dari limbah pertanian dan residu agroindustri yang hingga kini belum dimanfaatkan secara optimal dan masih bernilai tambah rendah,” ungkapnya seperti dikutip Selasa (13/1/2025).

Riset yang dia kembangkan, berfokus pada pengembangan bioetanol generasi kedua berbasis biomassa selulosik dari limbah industri kelapa sawit. Bioetanol generasi kedua dinilai memiliki peran penting dalam pengembangan bioekonomi modern karena menggunakan bahan baku non-pangan dan mendukung sistem energi terbarukan yang berkelanjutan. 

Menurutnya, pendekatan bioteknologi modern menjadi kunci utama dalam riset ini. 

“Melalui rekayasa mikroba berbasis genome editing, optimasi enzim lignoselulolitik, serta integrasi proses fermentasi yang efisien, riset ini diarahkan untuk menghasilkan bioetanol yang efisien, ekonomis, dan ramah lingkungan,” jelasnya.

Baca Juga

  • Pertamina Luncurkan Pabrik Bioetanol Berbasis Aren, Produksi 300 Liter per Hari
  • DPR Dorong Pemerintah Ikuti Kesuksesan Brasil, Bangun Ekosistem Bioetanol
  • Cerita Pengrajin Batik Gen Z di Padang Gunakan Bahan Malam Sawit

Secara konseptual, bioetanol generasi kedua dalam kerangka bioteknologi dan bioekonomi berfokus pada pemanfaatan biomassa lignoselulosa dan limbah agroindustri sebagai bahan baku energi terbarukan.

Riset ini mengintegrasikan pengembangan mikroorganisme fermentatif unggul, enzim lignoselulolitik yang efektif, serta optimasi proses biokonversi agar gula kompleks hasil pretreatment biomassa dapat dikonversi menjadi bioetanol secara maksimal.

Inovasi tersebut dirancang untuk mengatasi keterbatasan bioetanol generasi pertama yang masih bersaing dengan pangan, sekaligus menjawab persoalan limbah dan emisi karbon melalui pendekatan bioekonomi sirkular.

“Dengan mengubah biomassa bernilai rendah menjadi produk energi bernilai tinggi, riset ini tidak hanya memperkuat ketahanan energi dan keberlanjutan lingkungan, tetapi juga membuka peluang hilirisasi bioteknologi yang aplikatif dan berdaya saing, sesuai dengan potensi sumber daya hayati Indonesia,” ucapnya. 

Dia juga menegaskan, riset ini relevan dengan kebijakan nasional terkait peningkatan bauran energi baru dan terbarukan serta penurunan emisi gas rumah kaca.

Dari sisi institusional, Prof. Agustin menilai riset ini memberikan dampak strategis bagi Universitas Brawijaya. 

“Riset bioetanol generasi kedua ini berpotensi memperkuat posisi UB sebagai pusat unggulan riset bioteknologi dan bioekonomi berbasis sumber daya hayati lokal yang berorientasi pada keberlanjutan,” ujarnya. 

Luaran riset yang ditargetkan meliputi publikasi ilmiah bereputasi internasional, paten dan paten sederhana, hingga pengembangan prototipe dan teknologi siap hilirisasi yang meningkatkan Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) UB.

Dia juga menambahkan bahwa kolaborasi dengan industri agro-energi, pemerintah, serta mitra internasional akan memperluas jejaring riset strategis UB dan memperkuat rekam jejak institusi dalam riset terapan yang berdampak nyata. 

“Secara lebih luas, riset ini berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan di bidang bioteknologi industri, khususnya inovasi mikroba, enzim, dan proses biokonversi lignoselulosa, serta menjadi model riset bioekonomi sirkular yang relevan,” katanya.

Menurutnya, penelitian tersebut berlaku berkat hibah perdana dari Jepang melalui skema Research and Development Program for Promoting Innovative Energy and Environmental Technologies Through International Collaboration (RDIC). Skema ini didanai oleh New Energy and Industrial Technology Development Organization (NEDO) dan menjadikan UB menjadi satu-satunya Universitas di Indonesia yang pertama kali lolos pendanaan.

Hibah ini diperoleh melalui kolaborasi riset internasional bersama perusahaan bioteknologi Setsuro Tech Inc. dan Tokushima University, dua mitra strategis dari Jepang yang memiliki keunggulan dalam rekayasa mikroorganisme berbasis teknologi CRISPR/Cas serta pengembangan proses bioindustri. 


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Libur Panjang Isra Miraj, KAI Daop 1 Jakarta Siapkan Hampir 160 Ribu Kursi untuk Penumpang
• 5 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
BMKG Mengungkap Prospek Cuaca Sepekan, Wilayah Berisiko Hujan Lebat Dan Angin Kencang
• 18 jam lalunarasi.tv
thumb
Dalam Hidup, Sebenarnya Apa yang Kita Kejar?
• 5 jam laluerabaru.net
thumb
Pengawasan Hutan Belum Maksimal, Menhut Usul Tambah 21 Ribu Polhut ke DPR
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Ini Aturan dan Nominal THR yang akan Diterima Pekerja Dapur MBG
• 4 jam lalufajar.co.id
Berhasil disimpan.