KPPPA Respons Pengakuan Aurelie Moeremans soal Child Grooming: Korban Harus Berani Speak Up!

suara.com
8 jam lalu
Cover Berita
Baca 10 detik
  • KPPPA merespons pengakuan Aurelie Moeremans tentang child grooming dan berencana memfasilitasi pertemuan dengan Menteri.
  • Pertemuan itu diharapkan menjadi momentum penting mendorong para korban child grooming agar berani menyuarakan pengalaman mereka.
  • Langkah KPPPA menunggu analisis tim layanan anak agar pendekatan yang diambil berpihak dan tidak berdampak buruk pada korban.

Suara.com - Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) merespons viralnya pengakuan artis Aurelie Moeremans yang mengungkap pengalaman menjadi korban child grooming melalui buku autobiografinya. 

Pemerintah membuka peluang mengundang Aurelie untuk bertemu Menteri PPPA Arifah Fauzi guna membahas isu perlindungan anak dari praktik grooming.

Sekretaris Kementerian PPPA Titi Eko Rahayu mengatakan, pertemuan tersebut berpotensi menjadi momentum penting untuk mendorong korban child grooming agar berani menyuarakan pengalaman mereka.

“Saya coba atur waktu agar Aurel bisa ketemu Bu Menteri, karena mungkin bisa menjadi momentum untuk kampanye korban child grooming harus berani speak up,” kata Titi kepada wartawan, Selasa (13/1/2026).

Namun, Titi menegaskan langkah tersebut masih menunggu analisis dari tim layanan perlindungan anak di lingkungan KPPPA. Pemerintah ingin memastikan pendekatan yang diambil tetap berpihak pada korban dan tidak menimbulkan dampak lanjutan secara psikologis.

“Namun tentu menunggu analisis teman-teman di layanan anak,” ujarnya.

Pernyataan KPPPA ini muncul di tengah perhatian publik terhadap kisah Aurelie Moeremans yang ramai diberitakan. Dalam buku tersebut, Aurelie menceritakan pengalaman masa remajanya yang diduga menjadi korban manipulasi dan relasi tidak sehat dengan orang dewasa, yang kini dipahami sebagai bentuk child grooming.

Titi mengakui, kisah tersebut memiliki muatan emosional yang kuat. Ia bahkan menyebut belum sanggup menuntaskan membaca buku tersebut karena dampak emosional yang ditimbulkan.

“Saya tidak berani melanjutkan membaca bukunya, menata hati dulu untuk lanjutkan bacanya,” kata Titi.

Baca Juga: 6 Kisah Pahit Aurelie Moeremans di Broken Strings, Alami Grooming sampai Bullying

KPPPA menilai kasus-kasus child grooming kerap sulit terungkap karena korban merasa takut, malu, atau tidak menyadari bahwa dirinya sedang dimanipulasi. Karena itu, pengalaman figur publik seperti Aurelie dinilai bisa membuka ruang diskusi yang lebih luas soal perlindungan anak dan pentingnya keberanian korban untuk berbicara.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Menlu Sugiono Pantau Tiap Jam Nasib 2 WNI yang Diculik Bajak Laut di Gabon
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Polda Sumsel Sarankan Mahasiswi PPDS FK Unsri Korban Bullying Senior Lapor
• 22 jam lalukumparan.com
thumb
Komite Otsus Papua Serap Aspirasi Pembangunan Lanny Jaya
• 7 jam lalutvrinews.com
thumb
Pakar Soroti Penggunaan Kantong Plastik Dalam MBG, Minta Pemerintah Perketat SOP
• 18 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Penebusan Choi Kang-rok, ‘Culinary Class Wars 2’ Ditutup dengan Duel Sengit
• 15 jam lalumerahputih.com
Berhasil disimpan.