Pemerintah akan mulai proses perbaikan 100.000 hektare sawah yang terdampak banjir dan longsor di DI Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat besok, Kamis (15/1). Kementerian Pekerjaan Umum akan membangun kembali sawah yang rusak berat, sementara sawah yang rusak sedang dan ringan akan dibangun Kementerian Pertanian.
Staf Khusus Menteri Bidang Kebijakan Pertanian Kementan Sam Herodian mengatakan anggaran yang dikeluarkan kantornya dalam proses perbaikan sekitar Rp 5 triliun. Menurutnya, proses perbaikan sawah rusak sedang dan ringan akan rampung sebelum musim hujan berakhir atau pada Februari 2026.
"Kami akan membentuk kembali sawah-sawah yang rusak sampai bisa ditanam. Dana perbaikan langsung dari pemerintah pusat," kata Sam dalam Road to Jakarta Food Security Summit 2026, Selasa (13/1).
Sam menyampaikan sawah yang diperbaiki Kementan dapat mengikuti musim Tanam Gadu atau pad April-Juli 2026. Dengan demikian, petani dapat menikmati panen pada musim kemarau tahun ini, yakni Agustus-Oktober 2026.
Lebih dari seperempat total lahan sawah di Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat rusak akibat bencana banjir dan longsor November lalu. Sebagian petani di kawasan tersebut diperkirakan tidak akan menikmati Panen Raya pada April-Mei 2026.
Pemerintah Provinsi DI Aceh mendata lahan sawah yang rusak akibat bencana mencapai 139.444 hektare. Angka tersebut hampir 70% dari luas lahan sawah baku 2024 seluas 202.811 hektare.
Ketua Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras Aceh Darmawan mengatakan bencana tersebut melanda 18 kabupaten/kota dari total 23 kabupaten kota di Aceh. Darmawan meyakini petani di Serambi Mekkah tidak akan menikmati Panen Raya tahun depan.
"Kami hanya berharap bisa menikmati panen gadu pada Juli-September 2026," kata Darmawan kepada Katadata.co.id, Senin (8/12).
Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB menaksir biaya pemulihan dampak bencana di tiga provinsi mencapai Rp 51,82 triliun. Separuh atau Rp 25,41 triliun akan dibutuhkan untuk memulihkan Aceh akibat bencana banjir dan longsor.
Sementara itu, Guru Besar Institut Pertanian Bogor Andreas Dwi Harsono mengatakan bencana di Sumatera akan menghilangkan satu musim tanam bagi daerah yang kehilangan sawah dengan luas besar. Smenetara itu, dampak produksi selama Panen Raya dinilai akan minimal untuk Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
Andreas mengingatkan pemerintah harus mempertimbangkan cuaca pada Panen Gadu tahun depan dalam melakukan perbaikan sawah. Andreas menilai perbaikan di sawah terdampak harus mempertimbangkan kapasitas pengairan lantaran cuaca pada Panen Gadu 2026 adalah El Nina.
"Jadi pemerintah perlu mengantisipasi dengan melakukan perbaikan jaringan irigasi yang dilengkapi dengan pompa dan sumur. Hal tersebut akan sangat membantu petani di daerah terdampak," katanya.




