Litbang Kompas: Mayoritas Generasi Milenial Tolak Pilkada via DPRD

kompas.com
10 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Litbang Kompas merilis hasil jajak pendapat yang menunjukkan bahwa mayoritas generasi Y atau milenial menolak mekanisme pemilihan kepala daerah (pilkada) lewat DPRD.

Generasi Y atau milenial sendiri merupakan kelompok demografi yang lahir antara tahun 1981 hingga 1996.

Dalam hasil jajak pendapatnya, Litbang Kompas membagi generasi Y menjadi dua kelompok, yakni Gen Y Madya dan Gen Y Muda.

Baca juga: Soal Wacana Pilkada via DPRD: Yusril Lempar Bola, DPR Sebut Belum Prioritas Dibahas

Hasilnya, 83,7 persen Gen Y Madya mendukung sistem pilkada secara langsung. Hanya 1,9 persen Gen Y Madya yang mendukung pilkada lewat DPRD.

"Responden dari gen Y madya (34-41 tahun) di mana sebanyak 83,7 persen mendukung pilkada langsung," bunyi hasil jajak pendapat, dilansir dari Kompas.id, Rabu (14/1/2026).

Sedangkan 13,9 persen Gen Y Madya menjawab bahwa sistem pilkada langsung maupun lewat DPRD sama saja. Lalu, 0,6 persen tidak menjawab.

Baca juga: Suara Masyarakat Minta Pilkada Tetap Dipilih Langsung, Elite Jangan Tunggu Didemo

Lalu untuk kelompok Gen Y Muda, 74 persen dari mereka menginginkan mekanisme pilkada secara langsung.

Kemudian, 5,1 persen mendukung pilkada via DPRD, 11,5 persen menjawab keduanya sama saja, dan 9,4 persen tidak menjawab.

Mayoritas Publik Inginkan Pilkada Langsung

Adapun secara keseluruhan, mayoritas publik atau 77,3 persen responden menyatakan bahwa pilkada langsung merupakan sistem pemilihan paling cocok.

Sedangkan yang menyatakan bahwa kepala daerah dipilih oleh DPRD merupakan sistem yang paling cocok sebesar 5,6 persen.

Baca juga: Seruan dari Katedral untuk Negara: Soal Pilkada, Teror hingga Demokrasi

Lalu, 15,2 persen responden menyatakan "Keduanya sama saja" dan 1,9 persen publik menjawab "Tidak tahu".

Dari 77,3 persen publik yang menyatakan cocok terhadap pilkada langsung, 46,2 persen di antaranya menyatakan bahwa demokrasi dan partisipasi menjadi alasannya memilih sistem tersebut.

Selanjutnya, 35,5 persen menjawab bahwa kualitas pemimpin menjadi alasan memilih pilkada dipilih oleh rakyat secara langsung. Lalu, ketidakpercayaan terhadap pemerintah (5,4 persen), lainnya (1,4 persen), dan tidak tahu (4,5 persen).

Baca juga: Kalau Mewakili Rakyat, Mestinya Partai Tolak Pilkada Lewat DPRD

Litbang Kompas melakukan pengumpulan pendapat melalui telepon pada 8 hingga 11 Desember 2025.

Sebanyak 510 responden dari 76 kota di 38 provinsi berhasil diwawancarai. Sampel ditentukan secara acak dari responden panel Litbang Kompas sesuai proporsi jumlah penduduk di setiap daerah.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Metode ini pada tingkat kepercayaan 95 persen dengan margin of error penelitian ± 4,24 persen dalam kondisi penarikan sampel acak sederhana. Meskipun demikian, kesalahan di luar pengambilan sampel dimungkinkan terjadi.

Berita ini dilansir dari Kompas.id dengan judul "Gen Z Menolak Pilkada DPRD"

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Tiang Monorel Kuningan Akhirnya Dibongkar, Sutiyoso: Semoga Nggak Sakit Mata Lagi Kalau Lewat Sini
• 9 jam lalusuara.com
thumb
Kemenlu Pulangkan 27 Ribu WNI dari Negara Konflik hingga Korban TPPO di 2025
• 4 jam lalukatadata.co.id
thumb
Foto: Lahap Hewan di Brasil Makan Es Loli saat Musim Panas
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Gejolak Global Tekan Rupiah, Bank Indonesia Perkuat Stabilisasi
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Foto: Bukan Cuma Bahas Politik, PM Jepang dan Presiden Korsel Nge-Drum Lagu BTS
• 9 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.