Bisnis.com, JAKARTA — Mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso mengapresiasi keputusan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung untuk membongkar tiang monorel yang mangkrak di Jalan HR Rasuna Said.
Sutiyoso menilai langkah tersebut sebagai keputusan paling tepat meski diakui sebagai pilihan yang tidak ideal.
Pernyataan itu disampaikan Sutiyoso saat mendampingi Gubernur Pramono meninjau langsung proses pembongkaran tiang monorel pada Rabu (14/1/2026). Dia menyebut kepastian kebijakan menjadi hal terpenting setelah proyek tersebut puluhan tahun tak memiliki kejelasan.
“Saya kira itu sudah ditawarkan oleh Gubernur Pramono, tidak bisa dilanjutkan ya dibongkar, itu pilihan yang paling buruk tetapi kita harus melakukan itu dan saya sekali lagi saya sekali lagi berterima kasih. Mudah-mudahan kalau saya lewat [jalan] ini tidak sakit mata lagi saya,” ujarnya.
Menurut Sutiyoso, opsi melanjutkan atau membongkar monorel telah ditawarkan oleh pemerintah provinsi. Namun, karena proyek tersebut tidak memungkinkan untuk dilanjutkan, pembongkaran menjadi pilihan yang harus diambil meskipun menimbulkan konsekuensi biaya.
Dia mengakui pembongkaran bukanlah pilihan terbaik, tetapi merupakan langkah yang perlu dilakukan demi menata kembali ruang kota. Sutiyoso menyebut keberanian mengambil keputusan tersebut patut diapresiasi.
Baca Juga
- Sutiyoso Ungkap Rencana Awal Pembangunan Monorel Sebelum Mangkrak Hampir 22 Tahun
- Pramono Bongkar Tiang Monorel, Sutiyoso: Hari ini Hati Saya Lega
- Pramono Targetkan Pembongkaran Tiang Monorel Kuningan Selesai dalam 8 Bulan
Sutiyoso juga mengungkapkan secara pribadi pembongkaran tiang monorel membawa kelegaan tersendiri baginya. Selama bertahun-tahun, keberadaan tiang-tiang tersebut terus mengusik pikirannya karena proyek itu bermula pada masa kepemimpinannya.
Dia menilai pembongkaran tersebut akan mengakhiri kesan kumuh dan mengembalikan estetika kawasan Jalan HR Rasuna Said. Dengan demikian, kawasan tersebut diharapkan dapat kembali nyaman dilalui masyarakat.
Lebih lanjut, Sutiyoso berharap penertiban serupa juga dilakukan hingga kawasan Senayan. Dia menjelaskan bahwa rute monorel ke arah Senayan pada awalnya dirancang untuk mengalihkan pergerakan massa suporter sepak bola dari luar kota agar tidak langsung turun ke jalan utama Jakarta.
“Supaya nanti kalau Bobotoh [pendukung Persib] kalau dari Bandung datang, Bonek [pendukung Persibaya] dari Surabaya datang, tidak mendarat langsung monorel ke sana, nanti pulangnya begitu lagi, sehingga kita yang di bawah aman, aman di jalan-jalan. Itu maksudnya,” ujarnya
Menurutnya, dengan konsep tersebut, arus kedatangan dan kepulangan suporter dapat diatur melalui transportasi massal sehingga aktivitas di jalan-jalan utama tetap aman dan tertib.
Sutiyoso pun kembali menyampaikan terima kasih kepada Gubernur Pramono Anung beserta jajaran pendampingnya atas dukungan dan ketegasan dalam menuntaskan persoalan monorel. Ia berharap hasil penertiban tersebut dapat segera dirasakan dan dinikmati oleh masyarakat Jakarta.
“Jadi sekali lagi secara pribadi terima kasih pak Gubernur Pramono yang ikut mendukung penertiban ini semoga bisa dilihat, bisa dinikmati, terima kasih,” pungkas Sutiyoso.





