Jakarta (ANTARA) - Misophonia adalah sindrom neurofisiologis di mana suara-suara tertentu, seperti suara mengunyah atau bunyi klik pulpen, memicu respons emosional dan fisiologis yang intens.
Menurut informasi yang disiarkan di laman resmi The International Misophonia Foundation, penderita misophonia merespons suara berulang dan berbasis pola dengan iritasi dan kecemasan yang parah.
Pada individu dengan misophonia, otak salah menafsirkan suara-suara tertentu sebagai suara yang berbahaya atau mengancam serta memicu respons bertahan hidup yang cepat.
Reaksi untuk mempersiapkan tubuh menghadapi atau melarikan diri dari bahaya ini melibatkan respons fisiologis seperti berkeringat, detak jantung yang cepat, dan perubahan hormonal.
Menurut siaran laman resmi Cleveland Clinic, misophonia memengaruhi setiap orang secara berbeda.
Seseorang bisa memiliki satu atau beberapa suara yang menjadi pemicu reaksi. Tingkat keparahan reaksinya juga bervariasi.
Meskipun pemicu misophonia dapat berbeda untuk setiap individu, yang paling umum diamati adalah suara orang mengunyah makanan, bunyi detak jam, suara napas berat, bunyi ketukan, bunyi klik pena, bunyi air menetes, dan suara bibir mengecap.
Pada individu dengan misophonia, suara-suara semacam itu bisa memicu perasaan emosional seperti marah dan murka, respons tubuh seperti detak jantung yang lebih cepat, dan tindakan seperti melotot.
Sebagaimana dikutip dalam siaran Hindustan Times pada Selasa (13/1), dokter ahli anestesiologi dan pengobatan nyeri Kunal Sood menyampaikan bahwa penanganan misophonia dapat berupa terapi perilaku kognitif atau terapi suara.
Baca juga: Terganggu suara orang mengunyah? Mungkin Anda mengalami misophonia
Baca juga: Konsumsi alkohol dalam jumlah banyak bisa menimbulkan kecemasan
Menurut informasi yang disiarkan di laman resmi The International Misophonia Foundation, penderita misophonia merespons suara berulang dan berbasis pola dengan iritasi dan kecemasan yang parah.
Pada individu dengan misophonia, otak salah menafsirkan suara-suara tertentu sebagai suara yang berbahaya atau mengancam serta memicu respons bertahan hidup yang cepat.
Reaksi untuk mempersiapkan tubuh menghadapi atau melarikan diri dari bahaya ini melibatkan respons fisiologis seperti berkeringat, detak jantung yang cepat, dan perubahan hormonal.
Menurut siaran laman resmi Cleveland Clinic, misophonia memengaruhi setiap orang secara berbeda.
Seseorang bisa memiliki satu atau beberapa suara yang menjadi pemicu reaksi. Tingkat keparahan reaksinya juga bervariasi.
Meskipun pemicu misophonia dapat berbeda untuk setiap individu, yang paling umum diamati adalah suara orang mengunyah makanan, bunyi detak jam, suara napas berat, bunyi ketukan, bunyi klik pena, bunyi air menetes, dan suara bibir mengecap.
Pada individu dengan misophonia, suara-suara semacam itu bisa memicu perasaan emosional seperti marah dan murka, respons tubuh seperti detak jantung yang lebih cepat, dan tindakan seperti melotot.
Sebagaimana dikutip dalam siaran Hindustan Times pada Selasa (13/1), dokter ahli anestesiologi dan pengobatan nyeri Kunal Sood menyampaikan bahwa penanganan misophonia dapat berupa terapi perilaku kognitif atau terapi suara.
Baca juga: Terganggu suara orang mengunyah? Mungkin Anda mengalami misophonia
Baca juga: Konsumsi alkohol dalam jumlah banyak bisa menimbulkan kecemasan



