Fenomena alam lubang amblesan (sinkhole) muncul di tengah sawah di kawasan Jorong Tepi, Nagari Situjuh Batuah, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat (Sumbar), beberapa waktu lalu. Lubang ini berisi air.
Diameter lubang cukup besar. Warga yang penasaran, datang ramai-ramai untuk melihat lokasi lubang tersebut meski telah dipasang garis polisi di sekitarnya.
Apa sebenarnya yang menyebabkan terciptanya lubang di suatu tempat? Apakah benar kejadian macam ini akan lebih sering terjadi? Mari kita bahas lebih dalam.
Sinkhole tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga bisa ditemukan di hampir seluruh dunia. Fenomena ini juga tercipta di bawah kanal di Shropshire, Inggris, menjelang akhir tahun 2025, membuat dua kapal kanal ramping terperosok ke dalam kawah.
Sinkhole selebar 10 meter juga pernah muncul di luar sebuah sekolah di California, AS, yang saat itu digunakan sebagai lokasi pemungutan suara. Pada September 2025, sinkhole di Bangkok, Thailand, menyebabkan ambruknya jalan besar dan gangguan lalu lintas serius di dekat pusat kota, bahkan diperkirakan satu ruas jalan utama harus ditutup selama setahun.
Dikutip dari IFLScience, sinkhole paling sering terjadi di wilayah dengan batuan karbonat (terutama batu kapur dan dolomit) yang dapat larut oleh air sedikit asam. Bahan larut lain seperti garam dan gipsum, bisa menyebabkan terciptanya sinkhole, meski relatif lebih jarang.
Nagari Situjuh Batuah memiliki kondisi geologi serupa.
Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sumbar, Dian Hadiyansyah, mengatakan umumnya wilayah ini tersusun dari batuan gunung api dan perbukitan karst (batu kapur) yang memiliki sistem sungai bawah tanah. Amblesan terjadi di sana mungkin akibat rekahan batu gamping larut karena air, sehingga atap sungai bawah tanah runtuh.
"Jadi rekahan batu gamping tersebut, dia kena air mudah larut nah itu penyebab terjadi saluran atau sungai bawah tanah. Sehingga runtuhnya atap dari sungai bawah tadi. Ketika atap tadi runtuh, itu terbentuk lubang," ujar Dian kepada kumparan, Minggu (4/1).
Selain itu, batu pasir (sandstone) juga dapat memicu sinkhole. Meski tersusun dari mineral seperti kuarsa yang tidak larut air, butiran pasirnya kecil dan direkatkan oleh semen alami. Jika semen ini berupa karbonat, air bisa melarutkannya. Bila air mengalir, butiran pasir yang tersisa dapat terbawa pergi.
Bahkan tanpa pelarutan, aliran air bawah tanah bisa mengangkut tanah atau pasir yang lepas, menciptakan rongga serupa, meski biasanya lebih kecil. Tambang lama, atau bahkan liang hewan, kadang membentuk ruang yang cukup besar dan berbahaya.
Kasus paling berbahaya terjadi ketika batuan di bawah permukaan larut, sementara lapisan atas awalnya tetap utuh, misalnya saat material tak larut menutupi batu kapur. Dari permukaan, semuanya tampak baik-baik saja, hingga tiba-tiba rongga di bawahnya membesar dan lapisan atas runtuh, jatuh ke ruang kosong di bawah. Runtuhan ini bisa dipicu gempa, beban berat yang bergerak, atau sekadar lapisan penutup yang tak lagi mampu menahan beratnya sendiri.
Semakin kaku lapisan permukaan, semakin lama ia bertahan, dan semakin besar serta merusak runtuhan saat akhirnya terjadi.
Apakah Sinkhole Kian Sering Terjadi?Sinkhole sejatinya fenomena alami. Contoh sinkhole raksasa seperti "lubang surgawi" di China atau sinkhole di sekitar Gunung Gambier telah ada ratusan ribu hingga jutaan tahun. Bahkan pekan ini, ada argumen tentang keberadaan sinkhole di Mars yang terbentuk lewat proses serupa, jelas bukan ulah wahana rover manusia.
Jadi, tak semua sinkhole baru disebabkan manusia. Namun, aktivitas manusia sering kali menjadi pemicu atau setidaknya tersangka utama ketika penyebab pastinya belum diketahui.
Sinkhole di Australia beberapa waktu lalu muncul dekat lokasi pengeboran proyek jalan besar, dan gangguan akibat proyek tersebut diduga menjadi penyebabnya.
Pemicu umum lainnya adalah pipa bawah tanah yang pecah atau bocor perlahan. Masuknya air mempercepat pelarutan material. Proses pengalihan aliran air juga bisa berdampak serupa, meski di sisi lain bisa mencegah lubang amblesan di lokasi berbeda.
Perkotaan juga rentan diterpa sinkhole. Ketika permukaan keras seperti jalan dan atap menggantikan tanaman penyerap air hujan, air harus mengalir ke suatu tempat. Tidak semuanya tertangkap drainase, sehingga peluang erosi meningkat. Di saat yang sama, permukaan keras itu menjadi contoh sempurna lapisan kaku yang awalnya menopang rongga di bawah, lalu runtuh tiba-tiba sering kali saat dilintasi kendaraan.
Kekurangan air tanah juga bermasalah, terutama jika sebelumnya air membantu menopang material di atasnya. Di Iran, eksploitasi akuifer berlebihan yang memicu wacana relokasi Teheranjuga membuat wilayah yang lebih luas rentan sinkhole.
Seperti banyak persoalan lain, perubahan iklim memperburuk keadaan. Karena itu, tidak mengejutkan jika sinkhole akan lebih sering terjadi, dan makin mungkin muncul di kota-kota padat.
Uji seismik terkadang dapat mengidentifikasi sinkhole sebelum muncul, sehingga rongga bisa diisi atau dipasang penyangga. Namun, menurut Dr. Francois Guillard dari University of Sydney kepada ABC, metode ini masih sulit dilakukan kecuali lokasi yang dicurigai sudah diketahui sebelumnya.




