Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah berbalik menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini, Rabu (14/1/2026).
Melansir data Refinitiv, rupiah Garuda ditutup di level Rp16.855/US$ atau menguat tipis 0,03%. Penguatan ini terjadi setelah rupiah hampir sepanjang perdagangan bergerak di zona pelemahan, dengan rentang pergerakan di kisaran Rp16.850-Rp16.872 per dolar AS.
Penguatan tersebut sekaligus menandai pertama kalinya rupiah berhasil ditutup menguat sejak awal 2026. Dengan demikian, rupiah mematahkan tren pelemahan yang sebelumnya berlangsung selama delapan hari perdagangan berturut-turut.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB terpantau tengah mengalami sedikit pelemahan dengan tertekan tipis 0,02% di level 99,119. Meski demikian, secara tren DXY masih menunjukkan tren penguatan dengan hampir mendekati level psikologisnya di 100.
Pergerakan rupiah yang mampu berbalik menguat terjadi meskipun dolar AS masih berada di level relatif tinggi. Hal ini mengindikasikan adanya respons pasar terhadap langkah-langkah stabilisasi, serta persepsi bahwa tekanan global mulai diimbangi oleh faktor domestik.
Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga berkat konsistensi kebijakan stabilisasi yang dijalankan secara berkelanjutan, baik melalui intervensi di pasar off-shore maupun domestik.
Di tengah meningkatnya tensi geopolitik dan ketidakpastian arah kebijakan moneter global, langkah tersebut dinilai mampu menahan volatilitas rupiah agar tetap bergerak sejalan dengan fundamental ekonomi.
Di sisi lain, ekonom Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai tekanan terhadap rupiah dalam beberapa waktu terakhir turut dipicu oleh arus keluar dana asing atau hot money flow, khususnya dari pasar Surat Utang Negara (SUN).
"Kelihatannya investor asing banyak yang keluar dulu ambil untung," ujar Myrdal kepada CNBC Indonesia, Rabu (14/1/2026).
Menurutnya, kondisi geopolitik global yang belum kondusif mendorong investor bersikap lebih defensif. Ketegangan di berbagai kawasan, mulai dari konflik Amerika Serikat-Venezuela, Rusia-Ukraina, hingga meningkatnya tensi China-Taiwan, membuat dolar AS kembali diburu sebagai aset aman (safe haven).
"Ini kan banyak, belum lagi dari Iran, dan kita lihat juga mata uang Asia yang lain juga melemah terhadap dolar, jadi tidak hanya rupiah," tambahnya.
Meski demikian, Myrdal menilai tekanan terhadap rupiah masih berada dalam batas yang dapat dikelola. Ia menegaskan Bank Indonesia masih memiliki amunisi kebijakan yang memadai untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai instrumen intervensi di pasar keuangan.
(evw/evw)


