Peneliti UI: Minat Mobil Hybrid Sangat Sensitif Harga

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Peta pasar kendaraan elektrifikasi atau x electric vehicle (xEV) yang meliputi battery electric vehicle (BEV), hybrid electric vehicle (HEV), dan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) tetap akan sangat dinamis beberapa tahun ke depan.

Meski penjualan BEV atau mobil listrik murni di Indonesia tengah bergeliat, survei Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menunjukkan besarnya potensi kendaraan hibrida pada masa transisi.

Terlebih dari 1.511 responden yang dilakukan survei terkait elastisitas harga yang terjadi pada HEV atau PHEV yakni bila kendaraan jenis tersebut mengalami penurunan harga, maka ditemukan jawaban preferensi untuk berpindah ke jenis teknologi kendaraan yang lain.

"Kita dapat proporsinya begini dari 1.511 potential car buyer dalam 5 tahun ke depan itu untuk segmen xEV atau elektrifikasi sebesar 19 persen. Tetapi kalau dilihat dari masing-masing kue, HEV masih lebih besar dibanding BEV," kata Peneliti Senior LPEM FEB UI, Riyanto di Bandung.

Terkait elastisitas harga kendaraan berdasarkan jenis, segmen hibrida menunjukkan pengaruh preferensi pembelian cukup signifikan. Bila harga mobil HEV atau PHEV turun, tetapi jenis teknologi seperti BEV atau ICE (internal combustion engine) tetap.

"Kita temui dari survei juga, misalnya harga mobil hybrid turun 10 persen karena insentif rakit lokal dan asumsinya yang lain tetap, maka kue pasar yang ICE itu akan pindah ke segmen hybrid sebesar 8,1-13,6 persen," terang Riyanto.

Menandakan preferensi konsumen terhadap mobil hybrid sangat sensitif terhadap harga. Dijelaskan, bila harga kendaraan hibrida turun 1 persen maka secara kuantitas pembelian akan turut naik sebesar 1,04 persen.

Namun yang menarik, jika harga kendaraan konvensional atau ICE naik 1 persen, maka ada kecenderungan peralihan pembelian masyarakat ke hibrida melonjak jadi 2,26 persen. Ini disebutnya tidak mengganggu pasar segmen BEV.

"Misalnya harga mobil hybrid bisa turun hingga 10 persen karena ada insentif, maka bisa terjadi kenaikan dari pembeli mobil ICE ke hybrid sebesar 10,8 persen. Begitu juga yang beralih ke BEV sebesar 21,3 persen," papar Riyanto.

Tetapi bila melihat popularitas secara nasional, segmen elektrifikasi masih dipegang oleh BEV, sementara untuk hibrida mencakup HEV dan PHEV mayoritas lebih banyak di Pulau Jawa. Kalau secara total, ICE masih begitu dominan sebagai pilihan utama masyarakat.

"Preferensi pembelian mobil 5 tahun mendatang sebanyak 81 persen memang masih memilih ICE dan tadi 19 persen adalah elektrifikasi seperti BEV, HEV, dan PHEV. Namun secara awarness (elektrifikasi), BEV masih lebih tinggi dibanding BEV/PHEV," ujar Riyanto.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Demo Tandingan Pro-Pemerintah Digelar di Iran, Khamenei: Hari Bersejarah Runtuhkan Plot Asing
• 18 jam lalukompas.tv
thumb
Prabowo Perintahkan Koreksi Desain & Percepatan Pembangunan IKN, Akan Jadi Apa? | KOMPAS MALAM
• 18 jam lalukompas.tv
thumb
King Abdi dan 11 Chef Masak 99 Ribu Porsi Makanan untuk Korban Banjir Aceh Tamiang
• 13 jam laluviva.co.id
thumb
Dari Drama China ke Lokal, iQIYI Produksi Serial Indonesia Pertama Bercinta Dengan Maut
• 7 jam lalutabloidbintang.com
thumb
BMKG Prakirakan Hujan Petir Warnai Cuaca Jawa Timur Hari Ini
• 12 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.