JAKARTA, KOMPAS.com - Aktivis lingkungan sekaligus Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik, mengadukan rangkaian ancaman dan teror yang dialaminya ke Bareskrim Polri.
Teror tersebut antara lain berupa pengiriman bangkai ayam tanpa kepala hingga pesan ancaman yang ditujukan agar ia menghentikan kritik terkait isu kebencanaan dan lingkungan hidup.
Iqbal mendatangi Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu (14/1/2026), untuk mengadukan peristiwa tersebut.
"Saya dikirimi bangkai ayam yang pada saat saya temukan tidak ada lagi kepalanya. Lalu kemudian ada plastik yang berisi pesan bahwa saya harus menjaga ucapan saya, kalau seandainya saya ingin menjaga keluarga saya, dan ada pesan mulutmu, harimaumu di situ," kata Iqbal ditemui di Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu.
Baca juga: Rumah Aktivis Diteror Bangkai Ayam, Greenpeace Pertimbangkan Lapor Polisi
Ia mengaku masih percaya kepolisian akan menindaklanjuti aduan itu dan memberikan rasa aman bagi warga yang menyampaikan kritik.
“Karena kami masih percaya bahwa kepolisian akan menindaklanjuti ini dan memberikan rasa aman kepada siapapun yang bersuara. Bahkan melakukan kritik," terangnya.
Iqbal menegaskan, kritik yang disampaikan oleh masyarakat sipil, aktivis, maupun influencer bertujuan untuk kebaikan bersama dan mendorong akuntabilitas serta integritas penyelenggara negara.
Selain kepada pemerintah, Iqbal juga menyampaikan pesan kepada pihak-pihak yang diduga melakukan teror.
Menurut dia, upaya menebar ketakutan justru mengancam iklim demokrasi di Indonesia.
“Kalaupun kemudian ada anggapan-anggapan bahwa kritik yang disampaikan mendiskreditkan pemerintah dan sebagainya atau kritik kami ada yang merasa dirugikan, sebaiknya kita buka secara umum apa-apa yang kemudian itu bisa merugikan. Dan itu bisa kita jawab secara terbuka," ujarnya.
Baca juga: Setelah DJ Donny, Rumah Aktivis Greenpeace Diteror Bangkai Ayam
Iqbal mengungkapkan, ancaman yang diterimanya berlangsung secara beruntun sejak sekitar 20 Desember 2025.
Teror diawali dengan ribuan komentar bernada ancaman di media sosial, pesan langsung (direct message) yang berisi gambar kepala babi, hingga pesan yang mencantumkan alamat rumahnya.
Ancaman tersebut kemudian berlanjut ke teror fisik.
Iqbal mengaku menerima kiriman bangkai ayam tanpa kepala ke rumahnya, disertai pesan bernada intimidatif.
Menurut dia, rangkaian teror itu dimaksudkan untuk membuatnya berhenti mengkritik penanganan bencana di Sumatera serta isu lingkungan hidup di Indonesia.



