Rupiah Kembali Melemah Nyaris Rp17 Ribu, Pengamat Prediksi Besok Makin Jeblok

fajar.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Nilai tukar rupiah kembali bergerak fluktuatif pada perdagangan hari ini. Rupiah sempat menguat, namun kembali tertekan mendekati level Rp17 ribu per dolar AS.

Rupiah ditutup menguat 12 poin. Posisi rupiah berada di level Rp16.865 per dolar AS, dibanding penutupan sebelumnya di Rp16.877.

“Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup menguat 12 point sebelumnya sempat menguat 20point dilevel Rp.16.865 dari penutupan sebelumnya di level Rp.16.877,” kata Pengamat ekonomi dan mata uang Ibrahim Assuaibi kepada fajar.co.id, Rabu (14/11/2026).

Sebelumnya, rupiah sempat menguat hingga 20 poin. Namun tekanan kembali muncul menjelang penutupan pasar.

Di perdagangan besok, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif. Mata uang Garuda diproyeksikan berada di rentang Rp16.860 hingga Rp16.890 per dolar AS.

“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang  Rp16.860- Rp16.890,” lanjutnya.

Ibrahim menjelaskan, pergerakan rupiah dipengaruhi faktor internal dan eksternal. Tekanan global masih menjadi sentimen dominan.

Di faktor eksternal, indeks dolar AS tercatat melemah pada Rabu (14/1/2026). Pelemahan ini dipicu data inflasi Amerika Serikat yang berada di bawah ekspektasi pasar.

Indeks harga konsumen inti AS hanya naik 0,2 persen secara bulanan dan 2,6 persen secara tahunan. Kondisi ini memicu spekulasi penurunan suku bunga oleh bank sentral AS pada tahun 2026.

Pasar kini memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga sekitar dua kali sepanjang tahun ini. Sentimen tersebut membuat dolar AS melemah, namun belum cukup menguatkan rupiah secara signifikan.

“Untuk perdaganganbesok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang  Rp16.860- Rp16.890,” paparnya.

Situasi semakin panas setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman tindakan militer. Trump juga mengancam mengenakan tarif 25 persen bagi negara yang berbisnis dengan Iran.

Di sisi internal, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,4 persen pada 2026. Bahkan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis ekonomi bisa tumbuh hingga 6 persen.

“Defisit pemerintah ditargetkan turun ke 2,7% terhadap PDB dibandingkan realisasi 2025 sebesar 2,82% dari PDB. ‎Angka defisit itu dicapai berdasarkan pertumbuhan pendapatan yang kuat (14,4%) dan pengeluaran yang lebih tinggi (11,3%),” paparnya.

Pertumbuhan pendapatan negara diperkirakan melambat. Meski begitu, konsumsi domestik dan investasi diharapkan tetap menopang perekonomian.

Dia mengatakan, Purbaya menyebut pemerintah telah menyiapkan strategi percepatan belanja. Anggaran akan digelontorkan lebih awal agar mendorong aktivitas ekonomi.

Selain itu, iklim usaha diharapkan membaik. Pemerintah membentuk satuan tugas untuk mengatasi hambatan investasi dan usaha.

Menurut Ibrahim, kombinasi sentimen
global dan domestik membuat rupiah masih rawan tekanan. Investor cenderung bersikap hati-hati menunggu arah kebijakan ekonomi global.

Dia mengingatkan, pergerakan rupiah ke depan akan sangat bergantung pada dinamika pasar global. Terutama kebijakan suku bunga AS dan perkembangan geopolitik dunia.

Meski demikian, stabilitas ekonomi domestik diharapkan mampu menahan tekanan lebih dalam. Pemerintah diminta menjaga kepercayaan pasar dan konsistensi kebijakan.
(Arya/Fajar)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pramono Mulai Pembongkaran Tiang Monorel di Rasuna Said
• 9 jam laludetik.com
thumb
Resmikan SMA Taruna Nusantara di Malang, Prabowo Targetkan Tiap Provinsi Punya Satu Sekolah Unggulan
• 21 jam lalukompas.tv
thumb
Airlangga sebut Rp335 triliun disiapkan untuk MBG di 2026
• 16 jam laluantaranews.com
thumb
Harga Pangan 14 Januari 2026: Cabai Turun Tajam, Beras dan Minyak Goreng Masih Naik
• 7 jam lalukompas.tv
thumb
AS Prioritaskan Diplomasi, Tapi Pertimbangkan Opsi Militer terhadap Iran di Tengah Ketegangan Nuklir
• 20 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.