EtIndonesia. Media oposisi Iran International melaporkan bahwa gelombang aksi protes nasional di Iran telah menelan korban jiwa dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Menurut laporan tersebut, lebih dari 12.000 orang dilaporkan tewas, dengan mayoritas korban jatuh pada malam Kamis dan Jumat pekan sebelumnya. Media itu menyebut tragedi ini sebagai pembantaian terbesar dalam sejarah modern Iran, melampaui seluruh episode kekerasan politik sejak Revolusi 1979.
Laporan tersebut menegaskan bahwa korban berasal dari berbagai kota besar, termasuk Teheran dan pusat-pusat ekonomi utama, serta melibatkan penggunaan kekuatan mematikan oleh aparat keamanan negara.
Pernyataan Mengejutkan Trump: “Bantuan Sedang dalam Perjalanan”
13 Januari — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump secara mengejutkan mengunggah pernyataan keras melalui platform Truth Social.
Dalam unggahan tersebut, Trump secara langsung menyerukan rakyat Iran untuk mengambil alih sistem kekuasaan mereka:
“Para patriot Iran, teruslah berunjuk rasa dan ambil alih sistem kalian. Ingat nama-nama para algojo dan pelaku kekerasan itu—mereka akan membayar harga yang sangat mahal. Sebelum pembantaian keji terhadap para demonstran ini dihentikan, saya telah membatalkan seluruh pertemuan dengan pejabat Iran. Bantuan sedang dalam perjalanan. Jadikan Iran hebat kembali.”
Pernyataan ini menjadi sinyal paling eksplisit sejauh ini dari seorang presiden AS yang secara terbuka mendukung perubahan kekuasaan di Iran.
Sikap Trump Berbalik dalam Hitungan Hari
Menariknya, sehari sebelumnya, Trump sempat memberi isyarat yang jauh lebih lunak. Dia menyatakan bahwa setelah menerima pesan dari pihak Iran pada akhir pekan, dia bersedia membuka dialog dan bahkan menyebut bahwa pertemuan sedang diatur.
Perubahan sikap yang drastis dalam waktu kurang dari 24 jam ini memicu spekulasi luas bahwa informasi intelijen baru atau eskalasi kekerasan di lapangan telah mendorong Gedung Putih mengambil posisi yang jauh lebih konfrontatif.
Opsi Militer AS: Serangan Udara, Nuklir, hingga Perang Siber
Pejabat pertahanan Amerika Serikat mengungkapkan bahwa kekuatan udara dan rudal jarak jauh tetap menjadi tulang punggung dalam setiap skenario militer terhadap Iran.
Menurut sumber pertahanan, opsi yang tengah dibahas mencakup:
- Serangan udara konvensional berskala besar
- Penghantaman fasilitas nuklir Iran
- Penargetan basis rudal balistik dan instalasi strategis
Selain itu, para perencana di Pentagon juga mengajukan opsi perang siber dan perang psikologis. Strategi ini bertujuan untuk:
- Melumpuhkan struktur komando militer Iran
- Mengganggu sistem komunikasi nasional
- Merusak kredibilitas media resmi pemerintah
Para pejabat menyebut strategi ini sebagai “operasi terpadu”, yang dapat dijalankan bersamaan dengan serangan militer konvensional atau berdiri sendiri sebagai instrumen tekanan non-kinetik.
Aktivitas Militer AS di Timur Tengah Meningkat
Di tengah eskalasi tersebut, dilaporkan bahwa aktivitas militer Amerika Serikat di Pangkalan Udara AS di Qatar mengalami peningkatan signifikan, memicu spekulasi bahwa kesiapan operasional telah dinaikkan ke tingkat yang lebih tinggi.
Tekanan dari Diaspora Iran: “Amerika, Bantu Iran!”
12 Januari — Warga Iran di luar negeri turut mengintensifkan tekanan internasional.
Di Vancouver, Kanada, ratusan warga Iran berkumpul di depan Konsulat Amerika Serikat
Mereka secara terbuka menyerukan intervensi militer AS, meneriakkan slogan: “Amerika, bantu Iran!”
Di media sosial platform X, kemarahan publik juga meluap. Salah satu unggahan yang viral berbunyi: “Putin si anak serigala butuh empat tahun untuk menewaskan 14.000 warga sipil. Tapi kalian para mullah—dari planet mana kalian berasal—hingga dalam dua hari saja sudah membantai 12.000 rakyat sipil?”
AS dan Sekutu Lakukan Evakuasi, Dunia Naikkan Level Waspada
Pada hari yang sama, Departemen Pertahanan AS mengeluarkan peringatan perjalanan global Level 4, level tertinggi, dan mendesak seluruh warga negara AS segera meninggalkan Iran tanpa penundaan.
Peringatan tersebut juga menekankan bahwa:
- Warga berkewarganegaraan ganda wajib menggunakan paspor Iran untuk keluar
- Pemerintah Iran tidak mengakui kewarganegaraan ganda dan hanya memperlakukan mereka sebagai warga negara Iran
Setelah peringatan AS:
- Prancis mengumumkan evakuasi bertahap staf non-esensial Kedutaannya pada 11–12 Januari
- Australia dan Swedia mengeluarkan imbauan serupa kepada warganya
Krisis Ekonomi: Rial Iran Praktis Tak Bernilai
Di dalam negeri, krisis ekonomi mencapai titik ekstrem. Rial Iran secara mendadak kehilangan kemampuan ditukar dengan euro dan dolar AS. Baik 1 juta maupun 100 miliar rial, nilainya terhadap mata uang keras kini jatuh ke nol, mencerminkan runtuhnya kepercayaan pasar dan sistem keuangan nasional.
Kanselir Jerman: “Hari-hari Terakhir Rezim Ini”
12 Januari — Saat berkunjung ke India, Kanselir Jerman menyampaikan pernyataan tajam mengenai situasi Iran: “Saya berasumsi bahwa kita kini sedang menyaksikan hari-hari dan minggu-minggu terakhir rezim ini.”
Dia mempertanyakan legitimasi kepemimpinan teokratis Iran, menegaskan bahwa rezim yang hanya bertahan melalui kekerasan pada dasarnya sudah berada di ujung jalan.
Menurutnya, rakyat Iran kini telah bangkit menantang kekuasaan tersebut secara terbuka.
Simbol Pasca-Rezim: “Trump Square” dan Solidaritas Global
Di tengah harapan akan perubahan, sebagian pendukung gerakan protes bahkan menyuarakan gagasan simbolik bahwa Teheran kelak perlu membangun “Trump Square” setelah Iran terbebas dari rezim saat ini.
Dukungan juga datang dari warga Tiongkok di media sosial, dengan pesan yang banyak dibagikan: “Semangat Iran! Hari ini Iran, besok Tiongkok.”
Penutup
Hingga 13 Januari, Iran berada di titik kritis sejarahnya. Kombinasi pembantaian massal, tekanan internasional, kesiapan militer AS, runtuhnya ekonomi, serta gelombang solidaritas global menjadikan situasi ini bukan lagi krisis domestik semata, melainkan potensi titik balik geopolitik kawasan dan dunia.



