VIVA – Nama Juegen Klopp kembali mencuat dalam pusaran isu kursi panas Real Madrid. Pemecatan Xabi Alonso membuat sejumlah pihak mengaitkan pelatih asal Jerman itu dengan Santiago Bernabeu.
Namun, Klopp justru menunjukkan sikap santai. Ia menegaskan tidak akan menyesal sedikit pun jika sepanjang kariernya tak pernah menangani Real Madrid bahkan jika ia tak lagi melatih klub mana pun.
Klopp memang kerap dikaitkan dengan Madrid sejak lama. Isu itu sudah muncul sejak 2021, saat Liverpool bentrok dengan Los Blancos di Liga Champions. Bahkan ketika Carlo Ancelotti hengkang musim panas lalu, spekulasi serupa kembali berembus.
Meski demikian, Klopp selalu konsisten. Ia tak pernah benar-benar membuka pintu untuk Madrid.
“Di akhir karier, jika saya hanya melatih tiga klub, itu sudah lebih dari cukup. Saya tidak akan menyesal,” ujar Klopp kala itu sambil berkelakar soal cuaca Madrid yang lebih bersahabat.
Dalam siaran langsung ServusTV On baru-baru ini, Klopp kembali ditanya soal kemungkinan dirinya didekati Madrid usai pemecatan Alonso. Ia mengakui ponselnya memang ramai, tetapi bukan dari ibu kota Spanyol.
“Benar, ponsel saya berbunyi. Tapi bukan dari Madrid,” kata Klopp. “Ada beberapa orang yang merasa perlu menghubungi saya langsung soal itu.”
Lebih jauh, Klopp memberi pandangan kritis soal keputusan Madrid mendepak Alonso hanya enam bulan setelah ditunjuk. Menurutnya, hal itu menjadi cermin tekanan ekstrem di klub raksasa Spanyol tersebut.
“Jika pelatih seperti Xabi Alonso yang membuktikan kualitasnya di Leverkusen—harus pergi secepat itu, itu menunjukkan tidak ada waktu untuk berkembang,” ujar Klopp.
“Ekspektasi di Real Madrid sangat luar biasa. Mengambil keputusan seperti itu sesaat setelah kalah di final Piala Super Spanyol dari Barcelona berbicara banyak hal.”
Dari pernyataan tersebut, Klopp tampak kurang sejalan dengan budaya instan yang lekat dengan Madrid. Saat ini, kursi pelatih sementara diisi Alvaro Arbeloa, mantan pemain Liverpool, setelah Alonso didepak.
Sebaliknya, Klopp dikenal tumbuh subur dalam lingkungan yang penuh kesabaran dan kepercayaan. Hal itu ia rasakan bersama Mainz, Borussia Dortmund, hingga Liverpool—klub yang memberinya waktu membangun fondasi sebelum menuai hasil besar.



