Ini 5 Fakta Kerusakan Hutan di Indonesia yang Jadi Sorotan Dunia

suara.com
2 jam lalu
Cover Berita
Baca 10 detik
  • Indonesia kehilangan jutaan hektar hutan primer kaya karbon; laju kerusakannya melambat signifikan sejak 2020.
  • Kerusakan lahan gambut tropis menyebabkan pelepasan emisi karbon raksasa, menjadikan Indonesia penyumbang emisi besar.
  • Alih fungsi hutan untuk komoditas global meningkatkan konflik satwa endemik serta memperparah ancaman banjir dan longsor.

Suara.com - Sebagai negara yang memiliki hutan tropis terbesar ketiga di dunia, Indonesia sering kali dijuluki sebagai "Paru-paru Dunia".

Namun, julukan ini terancam hilang seiring dengan laju kerusakan hutan atau deforestasi yang masih terus terjadi.

Meskipun pemerintah mengklaim adanya penurunan laju deforestasi dalam beberapa tahun terakhir, kondisi hutan kita tetap berada dalam status lampu kuning.

Kerusakan yang terjadi tidak hanya berdampak pada hilangnya pepohonan, tetapi juga mengancam ekosistem global.

Merangkum data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Global Forest Watch, dan berbagai organisasi lingkungan yang dikutip Suara.com pada Rabu (14/1/2025), berikut 5 fakta mengenai kerusakan hutan di Indonesia:

1. Kehilangan Jutaan Hektar Hutan Primer

Menurut data Global Forest Watch, Indonesia telah kehilangan jutaan hektar hutan primer (hutan tua yang belum tersentuh) dalam dua dekade terakhir.

Meskipun lajunya melambat secara signifikan sejak tahun 2020, kehilangan hutan primer tetap menjadi ancaman serius karena hutan jenis inilah yang memiliki kapasitas penyimpanan karbon tertinggi dan keanekaragaman hayati paling kaya.

2. "Bom Karbon" dari Kerusakan Lahan Gambut

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Terguncang: Geopolitik AS, Iran dan Venezuela Jadi Penentu

Indonesia memiliki lahan gambut tropis terluas di dunia. Fakta mirisnya, banyak hutan di atas lahan gambut yang dikeringkan dan dialihfungsikan.

Lahan gambut yang rusak sangat mudah terbakar dan melepaskan emisi karbon dalam jumlah raksasa ke atmosfer. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di dunia saat terjadi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

3. Konflik Satwa Dilindungi yang Kian Masif

Rusaknya hutan di Sumatera dan Kalimantan berdampak langsung pada hilangnya rumah bagi satwa endemik seperti Orang Utan, Harimau Sumatera, dan Gajah Sumatera.

Akibat ruang hidup yang menyempit, konflik antara manusia dan satwa liar meningkat tajam. Satwa-satwa ini sering kali dianggap hama karena masuk ke perkebunan warga, padahal mereka hanya mencoba mencari makan di rumah mereka yang telah hancur.

4. Alih Fungsi Lahan demi Komoditas Global


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Apa Kabar Patrick Kluivert Setelah Timnas Indonesia Dipimpin John Herdman? Berpeluang Pimpin Tim Piala Dunia 2026
• 1 jam lalutvonenews.com
thumb
Jadwal Salat DKI Jakarta 14 Januari 2026
• 18 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Mendagri Sebut Pilkada Dipilih DPRD Bertentangan dengan UU Pilkada
• 6 jam laluidntimes.com
thumb
Foto: Gotong Royong Bangun Jembatan Gantung Rusak di Gorontalo
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Beraksi di Surabaya, Sindikat WNA yang Curi 52 Emas Dibekuk Polisi di Jakarta
• 3 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.