- Indonesia kehilangan jutaan hektar hutan primer kaya karbon; laju kerusakannya melambat signifikan sejak 2020.
- Kerusakan lahan gambut tropis menyebabkan pelepasan emisi karbon raksasa, menjadikan Indonesia penyumbang emisi besar.
- Alih fungsi hutan untuk komoditas global meningkatkan konflik satwa endemik serta memperparah ancaman banjir dan longsor.
Suara.com - Sebagai negara yang memiliki hutan tropis terbesar ketiga di dunia, Indonesia sering kali dijuluki sebagai "Paru-paru Dunia".
Namun, julukan ini terancam hilang seiring dengan laju kerusakan hutan atau deforestasi yang masih terus terjadi.
Meskipun pemerintah mengklaim adanya penurunan laju deforestasi dalam beberapa tahun terakhir, kondisi hutan kita tetap berada dalam status lampu kuning.
Kerusakan yang terjadi tidak hanya berdampak pada hilangnya pepohonan, tetapi juga mengancam ekosistem global.
Merangkum data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Global Forest Watch, dan berbagai organisasi lingkungan yang dikutip Suara.com pada Rabu (14/1/2025), berikut 5 fakta mengenai kerusakan hutan di Indonesia:
1. Kehilangan Jutaan Hektar Hutan Primer
Menurut data Global Forest Watch, Indonesia telah kehilangan jutaan hektar hutan primer (hutan tua yang belum tersentuh) dalam dua dekade terakhir.
Meskipun lajunya melambat secara signifikan sejak tahun 2020, kehilangan hutan primer tetap menjadi ancaman serius karena hutan jenis inilah yang memiliki kapasitas penyimpanan karbon tertinggi dan keanekaragaman hayati paling kaya.
2. "Bom Karbon" dari Kerusakan Lahan Gambut
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Terguncang: Geopolitik AS, Iran dan Venezuela Jadi Penentu
Indonesia memiliki lahan gambut tropis terluas di dunia. Fakta mirisnya, banyak hutan di atas lahan gambut yang dikeringkan dan dialihfungsikan.
Lahan gambut yang rusak sangat mudah terbakar dan melepaskan emisi karbon dalam jumlah raksasa ke atmosfer. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di dunia saat terjadi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
3. Konflik Satwa Dilindungi yang Kian Masif
Rusaknya hutan di Sumatera dan Kalimantan berdampak langsung pada hilangnya rumah bagi satwa endemik seperti Orang Utan, Harimau Sumatera, dan Gajah Sumatera.
Akibat ruang hidup yang menyempit, konflik antara manusia dan satwa liar meningkat tajam. Satwa-satwa ini sering kali dianggap hama karena masuk ke perkebunan warga, padahal mereka hanya mencoba mencari makan di rumah mereka yang telah hancur.
4. Alih Fungsi Lahan demi Komoditas Global



