Platform yang dimiliki Elon Musk itu menjadi tak layak digunakan sejak diambil alih pada 2022.
IDXChannel - Federasi Guru Amerika Serikat (American Federation of Teachers/AFT) meninggalkan platform media sosial X usai maraknya penyebaran gambar-gambar buatan kecerdasan buatan (AI) yang menampilkan anak-anak dan perempuan dalam konten berbau seksual.
Dilansir dari CNA, Rabu (13/1/2026), Presiden AFT Randi Weingarten mengatakan platform yang dimiliki Elon Musk itu menjadi tak layak digunakan sejak diambil alih pada 2022.
“Generator gambar AI Grok, tanpa pengamanan, adalah puncaknya. Mulai besok, kami tidak akan menggunakan Twitter, atau X,” ujar Weingarten dalam wawancara dengan Reuters.
Dia menilai, platform tersebut telah dirusak oleh ekstremis, troll, serta maraknya propaganda dan disinformasi. Namun, yang paling mengkhawatirkan adalah beredarnya gambar hiper-realistis perempuan dan anak-anak di bawah umur berbusana bikini, pakaian dalam, atau pose yang merendahkan serta mengarah pada kekerasan seksual. Meski demikian, X sendiri belum memberikan tanggapan resmi atas keputusan AFT tersebut.
Sementara itu, perusahaan AI milik Musk, xAI, hanya menyampaikan respons umum ketika dimintai komentar. Sekadar info, saat ini X memang menjadi sorotan internasional setelah Grok secara publik membagikan banyak gambar hasil rekayasa AI.
Meski X telah mengubah pengaturan sehingga gambar buatan Grok tidak lagi otomatis diposting ke linimasa publik, namun chatbot tersebut masih menghasilkan gambar yang secara digital menelanjangi orang-orang.
AFT yang mewakili sekitar 1,8 juta pekerja pendidikan merupakan salah satu serikat pekerja terbesar di Amerika Serikat. Weingarten sendiri telah memiliki akun di Twitter selama 15 tahun, namun belakangan mengurangi aktivitasnya karena meningkatnya disinformasi di platform tersebut.
Mulai Rabu, akun pribadi Weingarten yang memiliki sekitar 100.000 pengikut serta akun resmi AFT dengan 75.000 pengikut akan dinonaktifkan. Weingarten menegaskan keputusan itu diambil demi melindungi anak-anak. “Ini bukan keputusan yang mudah, tetapi ini keputusan yang tepat. Jika Anda berpihak pada kemanusiaan dan percaya bahwa kita harus melindungi anak-anak, maka batasan harus ditetapkan,” katanya.
Penulis: Nasywa Salsabila
(kunthi fahmar sandy)




