SEBUAH kabar baik bagi dunia konservasi muncul dari jantung Kalimantan Timur. Penelitian kolaboratif yang melibatkan Universitas Mulawarman, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) berhasil mengidentifikasi kekayaan hayati yang luar biasa di Bentang Alam Wehea-Kelay.
Temuan yang dipaparkan dalam Simposium Biodiversitas di Samarinda, Rabu (14/1), ini mengungkap keberadaan berbagai satwa langka dan terancam punah. Di antaranya adalah orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus morio), lutung kutai (Presbytis canicrus), rangkong gading (Rhinoplax vigil), hingga kucing merah (Catopuma badia) yang sangat sulit dijumpai.
Rekor Baru Keanekaragaman HayatiMelalui penelitian tematik sepanjang 2025, tim peneliti berhasil mencatat 1.618 jenis flora dan fauna. Angka ini melonjak signifikan dibandingkan penelitian 2016 yang mencatat 1.343 jenis. Artinya, terdapat penambahan 275 jenis flora dan fauna baru yang teridentifikasi di kawasan tersebut.
Baca juga : Warga RI Berebut Foto dengan Gibran di IKN
Peneliti Ahli Utama BRIN, Tri Atmoko, menjelaskan bahwa lonjakan data ini dipengaruhi oleh penggunaan teknologi yang lebih mutakhir seperti kamera jebak (camera trap) dan perekam suara bioakustik. Namun, faktor komitmen menjadi yang paling utama.
“Selain karena metode yang digunakan lebih baik, pihak-pihak yang berkepentingan di Wehea-Kelay juga mempunyai komitmen, visi, dan misi yang sama terkait dengan pelestarian keanekaragaman hayati yang ada di kawasan tersebut,” terang Tri.
Konservasi di Luar Kawasan LindungHal yang menarik, Wehea-Kelay bukanlah sepenuhnya kawasan konservasi. Dari total luas 532.143 hektare, hanya 19% yang berstatus hutan lindung. Sisanya merupakan area konsesi kehutanan, perkebunan, dan lahan kelola masyarakat.
Baca juga : Gakkum Kehutanan dan TNI Amankan 7 Alat Berat di Kawasan TN Kutai Kaltim
Meski demikian, kawasan ini terbukti mampu menjadi benteng terakhir bagi satwa langka. Rektor Universitas Mulawarman, Prof. Abdunnur, menilai temuan ini sebagai optimisme baru di tengah maraknya berita kerusakan hutan.
“Data dan temuan yang disampaikan menumbuhkan optimisme untuk perbaikan kawasan hutan, khususnya di Kalimantan. Temuan ini juga menjadi contoh bagaimana pengelolaan berbasis lanskap yang melibatkan multipihak dan multidisiplin dapat melindungi hutan dari ancaman degradasi,” ujarnya.
Potensi Ekonomi dan Mitigasi IklimSelain fungsi ekologis sebagai penyerap karbon (mencapai 191 juta ton CO2 equivalen), kawasan ini juga menyimpan potensi bioprospeksi. Kajian terhadap 60 jenis tumbuhan pakan orangutan menunjukkan 11 di antaranya berpotensi dikembangkan menjadi produk kesehatan bernilai tinggi, seperti obat antidiabetes dan antikanker.
Direktur Eksekutif YKAN, Herlina Hartanto, menegaskan bahwa model kolaborasi yang melibatkan 23 pihak—mulai dari pemerintah hingga masyarakat adat—ini membuktikan bahwa ekonomi dan konservasi bisa berjalan beriringan.
“Artinya pengelolaan kolaboratif di Wehea-Kelay telah memberikan dampak positif dimana kepentingan ekonomi, lingkungan dan sosial budaya dapat berjalan secara bersama-sama,” tutup Herlina. (Z-1)




