Peluang Cuan Emiten Rokok GGRM, HMSP Cs 2026 Tersengat Cukai yang Ditahan

bisnis.com
7 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten rokok berpeluang bangkit pada 2026 setelah pemerintah memutuskan menahan kenaikan tarif cukai hasil tembakau (CHT) serta membuka opsi penambahan golongan baru cukai untuk rokok ekonomis. Kebijakan ini memberi ruang pemulihan bagi industri yang dalam beberapa tahun terakhir tertekan kenaikan cukai dan pergeseran konsumsi.

Menyambut peluang tersebut, raksasa industri tembakau Tanah Air seperti PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) dan PT H.M. Sampoerna Tbk. (HMSP) menyiapkan strategi masing-masing untuk menjaga volume dan profitabilitas di tengah perubahan perilaku konsumen yang semakin sensitif terhadap harga.

Analis Senior Indonesia Strategic and Economics Institution (ISEAI) Ronny P. Sasmita menilai setiap emiten rokok kini mengambil pendekatan berbeda untuk merespons stagnasi tarif cukai dan dinamika konsumen.

"GGRM misalnya, strategi mendorong produk tier-2 dan tier-3 akan menjadi langkah realistis. Konsumen bergerak ke segmen ekonomis, jadi ekspansi ke produk menengah-bawah dapat memperkuat volume. Apalagi tanpa kenaikan CHT tahun ini, margin untuk tier-2 dan tier-3 berpotensi lebih sehat," ujar Ronny kepada Bisnis, Rabu (14/1/2026).

Menurut Ronny, GGRM juga berpotensi menjadi pihak yang paling diuntungkan jika pemerintah berhasil menekan peredaran rokok ilegal. Pasalnya, segmen harga terjangkau sangat sensitif terhadap pergeseran konsumsi ke produk black market.

Sementara itu, bagi HMSP, Ronny melihat strategi inovasi pada produk rokok tanpa asap atau heated tobacco sebagai investasi jangka panjang. Pada 2026, kontribusinya terhadap pendapatan belum signifikan mengingat ukuran pasar yang masih kecil.

Baca Juga

  • LPEM UI Bedah Penyakit Kronis Pajak RI, dari Basis Pajak hingga Cukai Rokok
  • Strategi Jaga Kepul Emiten Rokok GGRM & HMSP Cs Sambut Stagnasi Tarif CHT
  • Saham Emiten Rokok HMSP, GGRM, WIIM Terbang Usai Rencana Perombakan Layer Cukai

Namun, dari sisi positioning dan kesiapan regulasi, HMSP dinilai berada satu langkah lebih maju apabila pemerintah ke depan membuka struktur tarif yang lebih akomodatif bagi produk reduced-risk.

"Keunggulannya, margin relatif lebih tinggi, dan segmennya kurang rentan terhadap rokok ilegal," tegasnya.

Data kinerja menunjukkan penjualan segmen rokok bebas asap HMSP sepanjang sembilan bulan pertama 2025 memang baru berkontribusi 2,13% terhadap total penjualan, tetapi mencatatkan pertumbuhan 49,42% secara tahunan (YoY). Sebaliknya, segmen utama sigaret kretek mesin (SKM) menyusut 10,06% YoY dengan porsi 54,25% dari total penjualan.

Di sisi lain, GGRM masih sangat bergantung pada SKM yang menyumbang 89,12% dari total pendapatan, namun penjualannya tergerus 8,97% YoY pada periode yang sama. Melihat pergeseran konsumen ke produk lebih murah, perseroan pada public expose 2025 menyatakan akan memperbesar pangsa produk tier-2 dan tier-3.

Adapun penjualan segmen sigaret kretek tangan (SKT) yang berkontribusi 8,84% juga terkontraksi 16,93% YoY.

Untuk emiten rokok skala lebih kecil seperti PT Wismilak Intimakmur Tbk. (WIIM) dan PT Indonesian Tobacco Tbk. (ITIC), Ronny menilai keduanya relatif fokus di segmen harga ekonomis.

"Jika penambahan golongan CHT baru menciptakan lebih banyak ruang legal bagi produk low-price, mereka akan menjadi beneficiary utama. Namun, volatilitas tetap tinggi karena kompetisi di segmen bawah sangat agresif dan berkaitan erat juga dengan kapasitas distribusi," tandasnya.

Pabrik rokok kretek

Kinerja Saham Emiten Rokok Mengepul

Optimisme tersebut tercermin di pasar saham. Sejak awal 2026, saham-saham emiten rokok mengepul seiring ekspektasi rebound industri tembakau nasional. Pada perdagangan intraday Rabu (14/1/2026) pukul 15.49 WIB, harga saham GGRM tercatat naik 9,29% secara year to date (YtD) ke level Rp15.300, sementara HMSP menguat 6,21% YtD ke Rp770.

Melansir Bloomberg Terminal, sebanyak 3 dari 12 analis merekomendasikan buy untuk GGRM dengan target harga Rp17.164 dalam 12 bulan ke depan, mencerminkan potensi kenaikan 11,1% dari harga terakhir Rp15.450. Mayoritas analis lainnya merekomendasikan hold, termasuk analis CGS International Jason Chandra yang memasang target harga Rp14.100.

Gudang Garam Tbk. - TradingView

Sementara itu, prospek HMSP dinilai lebih atraktif. Sebanyak 10 dari 12 analis atau 83,3% memberikan rekomendasi buy dengan target harga konsensus Rp1.070,56 dalam 12 bulan ke depan, atau potensi return sekitar 39% dari harga Rp770. CGS International menyematkan rating add dengan target Rp1.000, MNC Sekuritas memberi rating hold dengan target Rp850, sedangkan Trimegah Sekuritas merekomendasikan buy dengan target Rp1.100.

Ronny menilai secara agregat, 2026 berpotensi menjadi tahun stabilisasi bagi emiten rokok setelah dihantam tekanan berlapis selama tiga tahun terakhir.

"Jadi momentum positif ini sejatinya bisa menjadi pemulihan terukur. Karena basis biaya 2024–2025 masih tinggi, terutama dari kenaikan tarif berlapis dan shifting konsumen ke segmen harga lebih rendah. Pertumbuhan volume industri yang sempat mengalami kontraksi diperkirakan mulai datar sampai mildly positive," ujarnya kepada Bisnis, Rabu (14/1/2026).

Dari sisi kebijakan, wacana penambahan satu lapisan baru tarif CHT menjadi katalis tambahan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan opsi tersebut bertujuan memberi ruang bagi produk rokok ilegal agar masuk ke jalur legal dan menyetorkan pajak ke negara.

"Kami akan memastikan satu layer baru mungkin masih didiskusikan ya untuk memberi ruang kepada yang ilegal-ilegal untuk masuk menjadi legal. Jadi mereka akan bayar pajak juga nanti," ujar Purbaya kepada wartawan di IDN HQ, Jakarta, Rabu (14/1/2026).

Ronny menilai kebijakan ini berpotensi efektif apabila dirancang dengan struktur tarif yang tepat.

"Penambahan layer baru bisa efektif hanya jika memenuhi dua syarat. Pertama, gap tarif antar-golongan dipersempit, sehingga insentif untuk memalsukan pita cukai menurun. Kedua, pengawasan diperkuat secara digital, bukan hanya memperbanyak golongan tarif di atas kertas," tegasnya.

Menurutnya, lonjakan rokok ilegal dalam beberapa tahun terakhir tidak hanya dipicu tarif tinggi, tetapi juga lemahnya enforcement yang tidak seimbang dengan kecepatan adaptasi supply chain ilegal. Jika tata kelola distribusi pita cukai, pelacakan produksi, dan sanksi diperketat, kebijakan ini dapat menurunkan cannibalization terhadap produk legal, khususnya bagi emiten besar seperti GGRM dan HMSP.

Namun demikian, Ronny mengingatkan bahwa reli saham rokok di awal 2026 lebih mencerminkan ekspektasi pasar ketimbang pemulihan fundamental yang sepenuhnya terealisasi.

"Harga saham yang naik di awal 2026 merupakan refleksi dari ekspektasi pemulihan, bukan karena fundamental yang sudah pulih sepenuhnya. Secara agregat, outlook 2026 lebih baik daripada 2025, tetapi tetap ada batasanya. Potensi recovery ada, tetapi nampaknya tidak akan terlalu bombastis," pungkasnya.

H.M. Sampoerna Tbk. - TradingView

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Banjir Rendam Madrasah di Kudus, Makan Bergizi Gratis Diantar ke Rumah Siswa | SAPA MALAM
• 12 jam lalukompas.tv
thumb
Kecelakaan Kereta di Thailand Akibat Crane Konstruksi Runtuh
• 17 jam laludetik.com
thumb
Ari Lasso Akui Tidak Layak Dapatkan Wanita Sempurna Seperti Dearly Djoshua
• 16 jam lalugenpi.co
thumb
Lirik Lagu dan Makna Bintang 5 - Tenxi ft Jemsii
• 22 jam laluinsertlive.com
thumb
Ada Badai di Gunung Slamet, Evakuasi Jasad Syafiq Ali Dilanjutkan Hari Ini
• 2 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.