BMKG Ungkap Pemicu Hujan Lebat pada Awal 2026

okezone.com
11 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA - Hujan intensitas sedang hingga lebat melanda sebagian besar wilayah Indonesia pada awal 2026. Bahkan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat hujan di sebagian besar wilayah Indonesia akan terjadi sepekan ke depan hingga 19 Januari 2026.

1. Hujan Lebat

BMKG menyatakan adanya pertemuan angin yang mempengaruhi dinamika atmosfer di wilayah Indonesia bagian selatan. Sementara itu, hujan dengan intensitas sangat lebat tercatat di Makassar (126.7 mm/hari), Jawa Barat (129.0 mm), Nusa Tenggara Timur (126.0 mm), dan Bali (120.0 mm).

“Kondisi cuaca ekstrem ini dipicu kombinasi dinamika atmosfer skala regional yang saling memperkuat. Pertama, terdapat penguatan Monsoon Asia yang disertai dengan peningkatan kecepatan angin di wilayah Laut Cina Selatan yang bergerak ke arah selatan melalui Selat Karimata hingga mencapai Pulau Jawa,” tulis BMKG dalam keterangannya, dikutip Kamis (14/1/2026).

Baca Juga :
Mayoritas Indonesia Diguyur Hujan, BMKG Ingatkan Status Awas di Tiga Provinsi

BMKG mencatat saat ini pola aliran angin juga meningkatkan pembentukan dan penguatan daerah konvergensi, khususnya di sepanjang Pulau Jawa, Bali, hingga NTB, yang berperan penting dalam memicu pertumbuhan awan hujan intensif.

BMKG membeberkan faktor kedua yakni adanya keberadaan daerah tekanan rendah di wilayah timur Australia turut memodifikasi pola sirkulasi angin regional. Sistem ini menyebabkan aliran angin di Indonesia bagian selatan menjadi lebih dominan ke arah timur, sehingga semakin memperkuat konvergensi dan perlambatan massa udara di wilayah selatan Indonesia.

“Kondisi tersebut mendukung proses naiknya udara secara lebih intensif dan berkelanjutan, yang pada akhirnya meningkatkan potensi hujan lebat di sebagian besar pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara,” tulisnya.

Baca Juga :
Siklon Tropis 91W Terdeteksi, BMKG : Waspada Gelombang Tinggi 14-17 Januari 2026

Dalam sepekan ke depan, BMKG memprakirakan pengaruh dinamika atmosfer pada skala global, regional, dan lokal masih signifikan terhadap kondisi cuaca di Indonesia. Pada skala global, El Niño–Southern Oscillation (ENSO) terpantau menguat pada fase negatif yang mengindikasikan La Niña lemah.

“Kondisi ini berpotensi meningkatkan pasokan uap air yang mendukung pembentukan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia. Selain itu, suhu muka laut yang relatif hangat di sebagian perairan Indonesia turut memperkaya pasokan uap air,” katanya. 

 

Baca Juga :
Jakarta Hujan, Lalu Lintas di Kuningan Padat Merayap


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Presiden Prabowo Siapkan Solusi Atasi Kekurangan Dokter di Indonesia
• 1 jam lalutvrinews.com
thumb
Bidik Kejahatan Ekonomi, Ini Jenis-Jenis Aset yang Bisa Dirampas di RUU Perampasan Aset
• 5 jam lalusuara.com
thumb
Mentan Amran Pastikan Pemulihan Sawah di Aceh Gunakan Skema Padat Karya
• 7 jam lalumatamata.com
thumb
Pembiayaan Mobil Bekas Tumbuh 0,42%, Astra Credit (ACC) Lihat Peluang
• 15 jam lalubisnis.com
thumb
IHSG Menuju 9.100, Perlu Segera Ambil Untung?
• 7 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.