Ada kemiskinan yang bisa kita lihat: rumah yang nyaris roboh, dapur yang jarang berasap, seragam sekolah yang lusuh dan diwariskan dari kakak ke adik. Tetapi ada jenis kemiskinan lain yang lebih sunyi, kemiskinan yang bekerja dalam diam, menghapus keberanian seseorang untuk bermimpi, lalu perlahan membuat mereka seolah tidak ada.
Presiden Prabowo Subianto, dalam Sidang Kabinet Merah Putih 20 Oktober 2025, menyebut mereka sebagai "the invisible people" orang-orang paling bawah yang sering tidak kita lihat dan tidak kita rasakan penderitaannya. Kalimat itu bukan sekadar retorika. Ia adalah pengingat: kalau negara abai terhadap yang paling lemah, maka negara kehilangan alasan moral untuk berdiri.
Dari kesadaran itulah, Sekolah Rakyat dirancang. Ia bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan sebuah ikhtiar untuk memutus rantai kemiskinan karena kemiskinan kerap diwariskan bukan oleh takdir, tetapi oleh ketidakadilan kesempatan.
Dari gagasan menjadi gerakan: 166 titik, 34 provinsi
Sekolah Rakyat beroperasi bertahap:
• 63 titik mulai berjalan pada Juli 2025
• 37 titik menyusul pada Agustus 2025
• 66 titik dimulai pada akhir September hingga awal Oktober 2025
Totalnya 166 titik yang tersebar di 34 provinsi dan 131 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Sekolah Rakyat menampung 15.954 siswa, didampingi 2.218 guru dan 4.889 tenaga kependidikan.
Angka-angka ini penting bukan untuk dibanggakan, melainkan untuk dijaga. Karena di balik setiap angka, ada anak yang sedang belajar menggenggam kembali masa depannya.
Siapa anak-anak itu?
Sekolah Rakyat tidak dibangun untuk anak-anak yang sudah punya akses. Ia dibangun untuk mereka yang selama ini nyaris tak terdengar suaranya.
Hasil penjangkauan dan verifikasi lapangan yang kami lakukan bersama pendamping sosial, dinas sosial daerah, dan BPS, kemudian mendapatkan persetujuan kepala daerah sebelum ditetapkan menunjukkan kondisi keluarga siswa yang benar-benar rentan:
1. 60% orang tua bekerja sebagai buruh, buruh harian lepas, kuli bangunan, buruh tani, buruh nelayan, tukang ojek, pemulung, dan pekerjaan serupa yang penghasilannya tidak menentu.
2. 67% penghasilan keluarga berada di bawah Rp1.000.000 per bulan.
3. 65% memiliki tanggungan keluarga lebih dari 4 orang.
4. Ada 454 siswa yang berasal dari kelompok tidak/belum pernah mengenyam pendidikan.
5. Ada 298 siswa yang putus sekolah/tidak lulus, dan sebagian dari mereka sudah bekerja pada usia yang sangat muda.
6. Kami juga menemukan kenyataan yang lebih sunyi: banyak anak berasal dari keluarga orang tua tunggal, dan sebagian mengalami kekerasan dalam rumah tangga.
Inilah wajah "yang tak terlihat" itu. Dan di sinilah Sekolah Rakyat berdiri: memastikan negara tidak datang terlambat.
Sekolah Rakyat bukan sekolah biasa: ia sebuah ekosistem
Sekolah Rakyat tidak dijalankan sebagai sekolah dalam pengertian sempit. Ia dibangun sebagai ekosistem perlindungan, pemulihan, dan pemberdayaan karena kemiskinan tidak hanya tentang kurangnya uang, tetapi juga tentang rapuhnya kesehatan, sempitnya peluang, dan absennya lingkungan yang aman.
Di Sekolah Rakyat, anak-anak belajar 24 jam bukan karena kita ingin mengekang, tetapi karena kita ingin memastikan mereka tumbuh dalam ritme yang terjaga: sehat, tertib, percaya diri, dan punya arah. Sepanjang waktu adalah pelajaran.
Karena itu, sejak awal masuk, kami memastikan hal-hal paling mendasar:
• Cek Kesehatan Gratis, sebagai bagian dari program prioritas Presiden.
• Pemenuhan gizi: tiga kali makan dan dua kali snack setiap hari.
Sekolah Rakyat tidak memakai tes akademik sebagai pintu masuk. Sebab banyak anak yang tertinggal bukan karena tidak cerdas, melainkan karena tidak pernah diberi kesempatan. Untuk memetakan potensi mereka, kami menggunakan tes DNA-Talent berbasis teknologi agar anak dikenali bukan dari kekurangannya, melainkan dari kekuatannya.
Pendidikan formal dijalankan dengan kurikulum yang personal, didampingi guru-guru tersertifikasi, dengan panduan dari Kemendikdasmen untuk kurikulum dan rekrutmen guru. Di asrama, anak-anak dibimbing oleh wali asuh dan wali asrama membangun kebiasaan hidup sehat, disiplin, tertib, dan mandiri.
Untuk pembinaan kedisiplinan, kami dibantu TNI. Untuk keamanan, kami dibantu Polri. Dukungan psikologis juga diberikan oleh para profesional. Proses belajar mengajar memanfaatkan LMS (Learning Management System), dengan dukungan laptop untuk siswa dan guru sebagai media pembelajaran di kelas; sementara penggunaan HP dibatasi.
Sekolah Rakyat kami posisikan sebagai "kawah candradimuka": tempat anak-anak yang selama ini dianggap rapuh ditempa menjadi pribadi tangguh; bukan untuk meninggalkan keluarganya, tetapi untuk mengangkat keluarganya.
Enam bulan berjalan: perubahan yang sederhana, tapi fundamental
Enam bulan adalah waktu yang singkat untuk menyelesaikan persoalan turun-temurun. Tetapi enam bulan cukup untuk melihat tanda-tanda awal: bahwa jika anak merasa aman dan diperhatikan, mereka tumbuh.
Perubahan pertama yang kami lihat ada pada kesehatan. Berat badan dan tinggi badan meningkat, kebugaran membaik, anemia menurun. Bahkan, tidak sedikit seragam sekolah yang sudah tidak lagi muat dalam waktu tiga bulan. Ini terlihat sederhana, tetapi sangat mendasar: anak yang sehat punya kesempatan belajar yang lebih baik.
Perubahan juga terjadi pada mental dan perilaku. Anak-anak menjadi lebih disiplin, lebih lembut dalam bersikap, tidak mudah mengantuk di kelas, dan semakin mandiri dalam kehidupan sehari-hari. Banyak yang meraih prestasi membanggakan.
Di sisi akademik, perubahan terjadi dari yang paling dasar. Ada anak yang sebelumnya belum lancar membaca, kini mulai mengeja dengan percaya diri, lalu membaca dengan lebih lancar. Melalui pemetaan talenta, kami menemukan potensi yang beragam: ada yang kuat di STEM, ada yang menonjol di bidang sosial, ada pula yang berbakat di bahasa.
Yang paling menggetarkan hati sering kali datang dari orang tua. Setelah beberapa bulan, anak-anak mendapat kesempatan pulang. Pesan-pesan yang kami terima sederhana, tapi dalam maknanya:
• "Terima kasih, anak kami lebih rajin sholat, bahkan mengajak kakak-kakaknya."
• "Terima kasih, sekarang anak kami bisa bangun pagi."
• "Puji Tuhan, sekarang anak kami mau membantu beres-beres rumah."
• "Terima kasih, anak kami tidak lagi kecanduan HP."
• "Terima kasih, anak kami tidak lagi menyendiri, mau bermain, dan lebih percaya diri."
Pada titik ini, kami semakin yakin: Sekolah Rakyat tidak hanya mengubah anak; Sekolah Rakyat memulihkan harapan dalam satu keluarga.
Memutus rantai kemiskinan berarti juga menguatkan keluarganya
Sesuai Inpres No. 8 Tahun 2025, Sekolah Rakyat adalah bagian dari strategi pengentasan kemiskinan. Karena itu, ikhtiar ini tidak berhenti pada pendidikan anaknya. Kami juga memetakan kondisi sosial ekonomi keluarga siswa dengan berbekal DTSEN.
Keluarga siswa Sekolah Rakyat akan mendapatkan intervensi: bantuan sosial yang lengkap, jaminan kesehatan nasional, perbaikan rumah tidak layak huni, program pemberdayaan, serta fasilitasi menjadi anggota Koperasi Merah Putih untuk memperkuat ketahanan ekonomi keluarga.
Tujuannya jelas: bukan hanya anaknya yang tumbuh dan lulus, tetapi keluarganya ikut berdaya dan "naik kelas".
Jalan panjang sesudah lulus: hilirisasi masa depan
Sekolah Rakyat harus berkelanjutan. Anak-anak tidak boleh berhenti di bangku sekolah. Mereka harus terus dibimbing agar punya kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi, atau menjadi pekerja terampil dan wirausaha mandiri.
Untuk lulusan yang memenuhi kompetensi akademik, khususnya dari jenjang Sekolah Rakyat Menengah Pertama, kami bimbing untuk mengikuti seleksi masuk ke SMA Garuda.
Kami juga telah mewawancarai lebih dari 6.000 siswa Sekolah Rakyat jenjang atas (SRMA). Hasilnya: 75,3% ingin melanjutkan ke perguruan tinggi, sementara 24,7% memilih menjadi pekerja terampil atau berwirausaha.
Karena itu, kami menjalin kerja sama lintas kementerian/lembaga: pendampingan persiapan masuk perguruan tinggi dan beasiswa, peluang kerja, pelatihan keterampilan, hingga jejaring dunia usaha, BUMN, universitas, dan sekolah kedinasan.
Di titik ini, kami berangkat dari sebuah keyakinan: tidak ada ciptaan Tuhan yang sia-sia. Setiap manusia diciptakan dengan keunikan dan justru di situlah letak kekuatannya. Jika keunikan itu dirawat dan diarahkan, ia menjadi modal untuk meraih masa depan.
Menulis sejarah dengan kerja sunyi
Sekolah Rakyat adalah kerja kolektif. Terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang terlibat kementerian/lembaga, pemerintah daerah, TNI-Polri, BPS, Bappenas, para tenaga ahli, para kepala sekolah, guru, wali asuh, wali asrama, tenaga kependidikan, pendamping sosial, dan para orang tua yang menitipkan harapan mereka pada program ini.
Kami ingin memastikan gagasan ini dikenang sebagai peristiwa Sejarah. Saat harapan tidak lagi diwariskan sebagai masa lalu, melainkan disiapkan sebagai masa depan.
Dan kelak, ketika anak-anak dari tepian sungai, lereng bukit, dan sudut-sudut negeri berdiri sejajar di tengah bangsa ini, orang akan berkata pelan: di masa itu, pernah ada seorang presiden yang menanam harapan dan menamainya Sekolah Rakyat, Presiden itu adalah Jenderal TNI (Purnawirawan) Prabowo Subianto.
(zap/zap)




