JAKARTA, KOMPAS.com - Panglima Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Letnan Jenderal TNI Djon Afriandi memberikan penganugerahan Sangkur Perak kepada para prajurit berprestasi.
Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk pengakuan atas dedikasi dan keteladanan prajurit Korps Baret Merah yang dinilai bekerja melampaui panggilan tugas.
Dalam upacara tersebut, perwakilan penerima penghargaan yang hadir secara langsung adalah Sersan Mayor (Serma) Wardoyo dan Serma Edi Sutono.
Selain kedua prajurit tersebut, penghargaan juga diberikan kepada enam anggota Kopassus lainnya yang saat ini sedang menjalankan kewajiban di daerah penugasan.
Baca juga: TNI Siapkan Personel Tambahan Sebagai Pelindung Jemaah Haji 2026
Dalam amanatnya, Djon Afriandi menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada mereka yang telah menorehkan prestasi gemilang tersebut.
"Teruslah berbuat yang terbaik, tulus, dan ikhlas pada setiap penugasan," tegas Djon Afriandi, dikutip dari siaran pers, Kamis (15/1/2026).
Salah satu sorotan utama dalam penganugerahan ini adalah kisah keberanian Sersan Mayor (Serma) Edi Sutono.
Ia dianugerahi Pisau Komando Perak atas aksi heroik yang dilakukannya saat mengikuti Latihan Bersama (Latma) DOLPHINE XVI-2024, dalam penerjunan free fall dari ketinggian 10.000 kaki.
Baca juga: Menhan Sjafrie ke Prajurit: Pengabdian di TNI Tak Seperti Tukang Sulap
Insiden bermula ketika Serma Edi Sutono melakukan penerjunan tandem bersama rekannya, Sersan (Sgt.) Sabado, anggota Special Operations Command (SOCOM) Filipina.
Pada ketinggian sekitar 5.000 hingga 4.500 kaki, Serma Edi Sutono masih mendampingi rekannya dalam posisi stabil.
Namun, situasi berubah kritis saat mereka memasuki ketinggian 3.000 kaki. Serma Edi Sutono menyadari bahwa Sgt. Sabado mengalami blackout atau tidak sadarkan diri di udara.
Tanpa menghiraukan keselamatan dirinya, Serma Edi Sutono segera melakukan pengejaran di udara untuk mendekati rekannya.
Dalam kecepatan tinggi dan waktu yang sangat terbatas, ia berhasil menjangkau serta menarik payung utama Sgt. Sabado hingga mengembang sempurna.
Baca juga: Menhan Sebut TNI Berlakukan Meritokrasi, Penugasan Tak Pandang Senior atau Junior
Namun, aksi penyelamatan itu membuat Serma Edi kehilangan ketinggian aman.
Saat berusaha mengembangkan payung utamanya, payung tersebut tidak mengembang sempurna.
Upaya darurat dengan membuka payung cadangan juga mengalami kendala serupa. Akibatnya, Serma Edi Sutono mendarat keras setelah menabrak pohon sebelum akhirnya jatuh ke tanah.
Keberanian dan pengorbanannya, yang rela mengambil risiko fatal demi menyelamatkan nyawa rekan, menjadi alasan Serma Edi Sutono dinilai layak menerima penghargaan tertinggi berupa Sangkur Perak.
Selain Serma Edi, Sangkur Perak juga diberikan kepada prajurit lain yang menunjukkan keberhasilan dan dedikasi luar biasa dalam sejumlah penugasan di wilayah Papua.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang


