JAKARTA, KOMPAS.com - Koridor 13 TransJakarta dikenal sebagai satu-satunya jalur bus rapid transit di Jakarta yang seluruh lintasannya membentang di atas jalan layang (elevated), menghubungkan kawasan Ciledug hingga Tendean.
Jalur ini kerap dipuji karena mampu memangkas waktu tempuh dan menghindarkan penumpang dari kemacetan kronis ibu kota.
Namun, di balik keunggulan itu, tersimpan tantangan lain yang jarang disorot perjuangan fisik para penumpang sebelum naik bus.
Baca juga: Halte JORR Transjakarta Punya Anak Tangga Terbanyak di Jalur Langit
Kompas.com mencoba merasakan langsung bagaimana akses menuju halte-halte tersebut dengan menelusuri empat titik di Koridor 13, yakni Halte Rawa Barat, Pasar Santa, Mayestik, dan JORR.
Tanpa lift dan eskalator, perjalanan menuju peron berubah menjadi ujian stamina bukan hanya bagi lansia atau penyandang disabilitas, tetapi juga pekerja dan pelajar yang sehari-hari mengandalkan transportasi publik ini.
Penelusuran dimulai dari Halte Rawa Barat, yang berdiri tepat di atas Jalan Wolter Monginsidi, sebelum persimpangan menuju Jalan Wijaya I.
Dari bawah, halte ini tampak menjulang dengan deretan anak tangga besi yang lurus dan curam.
Struktur halte yang berada tepat di atas flyover membuat akses vertikalnya menjadi salah satu yang paling ekstrem di Koridor 13.
Lebih dari 70 anak tangga harus dilewati penumpang sebelum mencapai peron, kurang lebih selama 7 menit.
Bagi pekerja yang datang di jam sibuk, tangga ini menjadi tes kebugaran dadakan sebelum memulai aktivitas kantor.
Fauzan (28), karyawan swasta yang hampir tiga tahun menggunakan halte ini, mengaku sudah terbiasa, meski bukan berarti nyaman.
“Kalau soal waktu sih cepat, tapi akses ke haltenya capek. Tangga dan jalannya panjang. Kalau lagi buru-buru atau kondisi badan kurang fit, terasa sekali,” ujar Fauzan saat ditemui langsung di halte, Rabu (14/1/2026).
Keluhan utama Fauzan terletak pada ketiadaan lift. Setiap hari, naik turun tangga tinggi menjadi rutinitas yang melelahkan, terutama saat pulang kerja.
“Setiap hari harus naik turun, lama-lama lutut pegal. Apalagi kalau jam pulang kerja, badan sudah lelah,” kata dia.
Baca juga: Rute Transjakarta L6B Ragunan-Monas via Koridor 13
Pasar Santa, ramp panjang yang menguras energiBergeser ke arah timur, suasana berubah di Halte Pasar Santa.
Lokasinya yang dikelilingi kawasan perkantoran, permukiman, dan sekolah termasuk SMKN 29 Jakarta membuat halte ini ramai oleh pelajar dan pekerja.
Berbeda dengan Rawa Barat yang mengandalkan tangga curam, akses menuju Pasar Santa memanjang dan berkelok.
Jalur ini didominasi bidang datar dan ramp, tetapi jaraknya cukup jauh dan tetap menanjak secara perlahan.
Waktu yang dibutuhkan sekitar 8 menit berjalan kaki dari trotoar hingga mencapai pintu peron. Tanpa lift, jalur panjang ini menjadi tantangan tersendiri bagi penumpang prioritas.
Sulastri (68), ibu rumah tangga yang kerap menggunakan halte ini untuk pergi ke pasar atau mengunjungi keluarga, mengaku harus sering berhenti.
“Capek. Jalannya panjang sekali. Saya harus berhenti beberapa kali sebelum sampai atas. Kalau tidak berhenti, kaki gemetar,” tutur Sulastri.
Meski ada ramp dan pegangan tangan, jarak yang jauh tetap menguras tenaga.




