Pasar logam dunia mengawali tahun dengan lonjakan tajam, ditandai rekor harga emas, perak, tembaga, dan timah. Hal tersebut seiring investor mengalihkan dana ke komoditas dibandingkan aset tradisional.
Lonjakan harga tersebut dipicu aksi beli masif di China pada berbagai komoditas logam, sementara investor juga memburu aset lindung nilai di tengah memanasnya ketegangan geopolitik, dari Venezuela hingga Iran, serta tekanan terbaru pemerintahan Donald Trump terhadap Federal Reserve AS.
Mengutip Bloomberg, harga perak melonjak hingga 6,1 persen dan menembus USD 92 per ons untuk pertama kalinya pada Rabu (14/1), sementara emas kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Timah menjadi yang paling menonjol di kelompok logam dasar dengan kenaikan hampir 11 persen pada satu titik, sementara nikel turut menguat dan tembaga menyentuh level tertinggi sepanjang sejarah.
Reli ini ditopang oleh apa yang disebut sebagai debasement trade, yakni strategi investor menghindari obligasi dan mata uang pemerintah karena kekhawatiran terhadap lonjakan utang. Pelemahan dolar AS juga membuat komoditas berdenominasi dolar menjadi lebih murah bagi banyak pembeli. Tahun lalu, harga emas melonjak 65 persen, sementara perak naik hampir 150 persen, dengan masing-masing mencatatkan kinerja tahunan terbaik sejak 1979.
“Ketika emas bergerak lebih dulu, biasanya itu menandakan menurunnya kepercayaan terhadap mata uang fiat. Jika semuanya diukur terhadap emas, maka sebagian besar aset terlihat murah saat ini, yang menjadi pendorong kuat bagi komoditas, terutama logam,” kata Chief Investment Officer Lotus Asset Management Ltd, Hao Hong,
Analis menyebut logam industri seperti tembaga sebenarnya sudah menghadapi potensi kekurangan pasokan, sementara kekhawatiran tarif membuat banyak logam tertahan di gudang-gudang di AS, sehingga memperketat ketersediaan di pasar global. Aktivitas spekulatif yang tinggi di China turut mempercepat reli, dengan para pedagang dan investor bermodal besar masuk ke komoditas seperti tembaga, nikel, dan litium.
Volume perdagangan di Shanghai Futures Exchange (SHFE) tetap tinggi sejak akhir Desember, dan total open interest untuk enam logam dasar di bursa tersebut mencetak rekor pada Rabu (14/1). Data perdagangan terbaru menunjukkan ekspor China melonjak, menambah sinyal ketahanan ekonomi lain seperti meningkatnya aktivitas pabrik, sementara pasar saham negara itu juga mencatatkan penguatan signifikan.
Logam dasar secara umum diuntungkan oleh ekspektasi pasokan yang semakin ketat tahun ini, seiring tambang dan fasilitas peleburan global kesulitan mengejar permintaan. Adapun pasar tembaga mengalami sejumlah gangguan besar tahun lalu, sementara aluminium menghadapi pembatasan di China sebagai produsen terbesar, dan ekspor timah terhambat dari Indonesia sebagai pemasok terbesar kedua dunia.
“Basis investor yang lebih luas mulai menyadari tren struktural pada sejumlah logam sekaligus persoalan di sisi pasokan,” ujar manajer portofolio di DNCA Invest Strategic Resource Funds, Alexandre Carrier.
Sejumlah komoditas, khususnya perak dan tembaga, juga terdorong oleh prospek tarif impor AS. Kenaikan harga tembaga sebagian dipicu oleh keputusan Gedung Putih terkait pajak impor yang dinantikan akhir tahun ini, sehingga mendorong pedagang mempercepat pengiriman logam ke pelabuhan-pelabuhan AS.
Pasar juga menunggu hasil penyelidikan Section 232 AS yang berpotensi memicu tarif atas logam mulia seperti perak, platinum, dan paladium. Ketidakpastian tarif tersebut menahan sebagian pasokan di AS dan menghambat aliran logam ke London sebagai pusat perdagangan spot utama, sehingga memicu kondisi backwardation, ketika harga spot jangka pendek berada di atas harga kontrak berjangka, menandakan pasar yang ketat.
“Kita seolah berada dalam kondisi backwardation yang berlangsung terus-menerus pada logam putih saat ini, terutama perak,” ujar Global Head of Precious Metals Distribution UBS Group AG, Andrew Matthews. Katanya, keterbatasan pasokan umumnya mendorong harga lebih tinggi, dan spekulan masuk mengikuti penguatan tersebut, menciptakan efek saling memperkuat.
Meski begitu, sejumlah pihak mengingatkan potensi koreksi, terutama pada logam industri. Citigroup dan Goldman Sachs, misalnya, memperkirakan harga tembaga akan melemah pada paruh kedua tahun ini, seiring permintaan fisik di China yang relatif lesu sejak akhir 2025.
Daya tarik logam mulia sebagai aset lindung nilai kembali menguat dalam beberapa pekan terakhir, dipicu oleh penangkapan pemimpin Venezuela oleh Presiden AS Donald Trump, ancaman baru untuk mengambil alih Greenland, serta aksi protes keras di Iran yang berpotensi menggulingkan rezim Islam di negara tersebut. Awal pekan ini, Citi menaikkan proyeksi tiga bulannya untuk emas dan perak masing-masing menjadi USD 5.000 dan USD 100 per ons.
Namun, analis logam mulia UBS, Joni Teves, menilai di tengah volatilitas geopolitik yang masih berlanjut, akan lebih sehat jika logam mulia mengalami konsolidasi sebelum melanjutkan kenaikan berikutnya. “Sulit melawan momentum pada fase seperti sekarang,” ujarnya.




