Grid.ID - Upaya pencarian pendaki Syafiq Ali yang hilang di Gunung Slamet akhirnya berujung duka. Setelah dinyatakan hilang selama 17 hari, jasad Syafiq ditemukan oleh tim relawan dan SAR gabungan di kawasan lereng gunung tersebut tepatnya pada Rabu (14/01/2026).
Syafiq diketahui melakukan pendakian bersama rekannya melalui salah satu jalur resmi Gunung Slamet. Namun dalam perjalanan, keduanya terpisah dan Syafiq tidak kembali ke basecamp sesuai jadwal.
Rekan Syafiq lebih dahulu ditemukan dalam kondisi selamat. Sementara itu, pencarian terhadap Syafiq terus dilakukan dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari Basarnas, BPBD, TNI, Polri, hingga relawan pecinta alam.
Proses pencarian berlangsung cukup panjang dan melelahkan. Medan yang terjal, cuaca ekstrem, serta kabut tebal menjadi tantangan utama bagi tim pencari selama operasi berlangsung.
Sejumlah relawan yang ikut terlibat mengungkap adanya kejanggalan selama proses pencarian. Mereka menyebut lokasi ditemukannya jasad Syafiq sebenarnya merupakan area yang sebelumnya telah beberapa kali dilalui tim pencari.
Hal tersebut memunculkan tanda tanya di kalangan relawan, mengingat area tersebut tidak menunjukkan keberadaan korban saat pencarian awal dilakukan.
"Hasilnya kami memutuskan untuk menggeser pencarian ke jalur Gunung Malang, karena berdasarkan evaluasi dan analisis kronologi mereka berpisah di area punggungan itu," jelasnya, Kamis (15/1/2026) pagi, dikutip Tribunbanyumas.com
Dalam proses pencarian, relawan juga mengandalkan berbagai petunjuk, mulai dari barang-barang milik korban hingga jejak yang ditemukan di jalur pendakian.
Jasad Syafiq akhirnya ditemukan dalam posisi telungkup di area yang cukup curam. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa korban kemungkinan terjatuh atau mengalami kondisi darurat saat berusaha bertahan hidup.
“Berdasarkan informasi yang diterima relawan di lapangan, Syafiq ditemukan dalam kondisi badan telungkup,” katanya.
Di sekitar lokasi penemuan, sejumlah barang milik Syafiq turut ditemukan. Hal ini menguatkan dugaan bahwa korban sempat berpindah tempat sebelum akhirnya meninggal dunia.
Relawan menduga Syafiq mengalami kelelahan ekstrem dan hipotermia akibat cuaca dingin di Gunung Slamet. Dugaan ini diperkuat dengan kondisi medan dan suhu di kawasan tersebut.
"Dugaan sementara, survivor mengalami hipotermia," ujarnya.
Proses evakuasi jasad Syafiq berlangsung cukup lama. Tim harus bekerja ekstra karena jalur yang sulit dilalui serta keterbatasan alat di medan pegunungan.
Evakuasi dilakukan secara bertahap hingga akhirnya jasad berhasil dibawa turun dan diserahkan kepada pihak berwenang.
Peristiwa ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban. Mereka mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu pencarian sejak hari pertama.
Kasus ini juga menjadi sorotan komunitas pendaki dan relawan. Banyak yang menilai perlu adanya evaluasi dalam prosedur pencarian agar kejadian serupa dapat ditangani lebih efektif ke depannya.
Tragedi yang menimpa Syafiq Ali menjadi pengingat bagi para pendaki akan pentingnya persiapan fisik, mental, serta kepatuhan terhadap prosedur keselamatan saat mendaki gunung. (*)
Artikel Asli




