MerahPutih.com - Jembatan bailey darurat Kutablang, Kabupaten Bireuen, Aceh, yang mulai beroperasi sejak 27 Desember lalu kini akan dijaga selama 24 jam penuh. Tujuannya untuk mencegah kendaraan bermuatan lebih dari 30 ton melintas
“Untuk upaya pengawasan kami sudah menginstruksikan penempatan personel kami di titik lokasi selama 24 jam penuh,” kata Kepala Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas II Aceh, Tofan Muis, kepada media, di Banda Aceh, Kamis (15/1).
Baca juga:
TNI Bangun 32 Jembatan Darurat di Sumatera, Pesan 100 Jembatan Bailey dari Luar Negeri
Titik Langsiran di Lhokseumawe dan BireuenTofan menjelaskan penjagaan dilakukan aparat gabungan dari kepolisian, TNI, Kementerian PUPR, serta PT Adhi Karya. Untuk proses langsiran dilaksanakan pada terminal-terminal terdekat dengan lokasi jembatan, yaitu di Lhokseumawe dan Bireuen.
"Kita fasilitasi di sana (terminal) untuk bisa mereka melakukan langsir dengan pengalihan muatan," imbuhnya, dilansir Antara.
Menurut dia, kendaraan yang terindikasi melebihi kapasitas akan diminta putar balik atau melakukan langsiran muatan ke kendaraan lebih kecil di terminal terdekat, yakni Lhokseumawe dan Bireuen.
Baca juga:
Mentan Amran Targetkan Rehabilitasi Lebih dari 100 Ribu Hektare Lahan Pertanian di Aceh hingga Sumbar
“Kami minta kesadaran masyarakat bersama-sama mengawasi dan menjaga jembatan kita. Semoga masalah ini segera teratasi cepat,” tegasnya.
3 Syarat Boleh Melintas Jembatan BaileyPengawasan ketat dilakukan dengan menerapkan standar teknis kendaraan yang boleh melintas jembatan bailey, yakni:
- Berat maksimum 30 ton
- Tinggi maksimal 4 meter
- Konfigurasi sumbu kendaraan maksimal tiga
(*)




