Viral Aplikasi Are You Dead di Cina, Pantau Warga yang Hidup Sendirian

katadata.co.id
15 jam lalu
Cover Berita

Aplikasi Are You Dead viral di Cina dalam beberapa pekan terakhir. Platform ini menjadi tren lantaran meningkatnya jumlah warga Cina yang hidup sendiri.

Global Times, mengutip lembaga riset properti, menyebut jumlah rumah tangga dengan satu orang penghuni di Cina berpotensi mencapai 200 juta pada 2030.

Peningkatan jumlah warga yang hidup sendiri dipengaruhi oleh penuaan populasi, urbanisasi besar-besaran, serta perpindahan generasi muda ke kota-kota besar untuk bekerja.

Di sisi lain, tren pernikahan di Cina juga terus menurun. Data resmi menunjukkan jumlah pernikahan baru pada 2024 mencapai titik terendah sejak pencatatan dimulai pada 1986.

 

Situasi itu diperparah oleh meningkatnya rasa cemas, depresi, dan kekecewaan di kalangan anak muda, terutama di tengah tingginya angka pengangguran usia muda. Kondisi ini yang membuat aplikasi dengan nama ekstrem seperti ‘Are You Dead’ justru mendapatkan perhatian luas.

Dalam deskripsi di App Store, aplikasi Are You Dead mengusung slogan ‘sendirian tapi tidak kesepian, keamanan selalu di sisimu’. Pengembang menyebut aplikasi ditujukan bagi pekerja kantoran yang hidup sendiri, mahasiswa yang merantau, atau siapa pun yang memilih gaya hidup soliter.

Platform itu menyasar warga yang tinggal sendiri dengan mekanisme check-in harian untuk memastikan keselamatan pengguna. Jika pengguna tidak melakukan check-in selama beberapa hari berturut-turut, aplikasi akan otomatis mengirimkan pemberitahuan kepada kontak darurat yang telah didaftarkan. Konsep sederhana tersebut membuat aplikasi ini cepat menarik perhatian publik.

Menurut laporan CNN International pada Rabu (14/1), aplikasi Are You Dead sempat menempati peringkat teratas aplikasi berbayar di Apple App Store Cina.

Lonjakan unduhan yang besar juga membuat aplikasi ini menarik perhatian media internasional, sekaligus mendorong pengembangnya melakukan rebranding dan menerapkan sistem berlangganan.

Respons pengguna di media sosial pun beragam, namun banyak yang menyambut positif. Sejumlah warganet di Weibo mengaku merasa diperhatikan. 

“Untuk pertama kalinya, ada yang peduli apakah aku hidup atau mati,” tulis seorang pengguna, dikutip dari CNN International (14/1). Pengguna lain menyebut aplikasi seharga 8 yuan itu sebagai sisa harapan terakhir bagi banyak anak muda yang hidup sendiri.

Profesor ilmu sosial dan kebijakan publik di Hong Kong University of Science and Technology, Stuart Gietel-Basten, menilai aplikasi ini menyentuh perasaan keterasingan yang dialami banyak orang. Menurutnya, jam kerja panjang dan minimnya kehidupan sosial membuat banyak anak muda merasa terisolasi.

Meski demikian, ia menekankan bahwa teknologi semacam ini seharusnya tidak menggantikan interaksi sosial yang lebih bermakna. 

“Jika aplikasi seperti ini bisa mencegah satu orang meninggal sendirian atau membantu seseorang yang berada di titik terendah, tentu itu hal positif. Namun, jangan sampai ini menggantikan dukungan sosial yang nyata,” ujarnya.

Sejumlah pihak juga mengkritik namanya yang terlalu kelam. Mantan pemimpin redaksi Global Times, Hu Xijin, memuji fungsi aplikasi ini bagi lansia yang hidup sendiri, namun menyarankan agar namanya diubah menjadi lebih positif, seperti ‘Are You Alive’.

Pengembang tampaknya merespons masukan tersebut. Pada Selasa (13/1), mereka mengumumkan perubahan nama aplikasi menjadi “Demumu” untuk versi global, sekaligus menaikkan harga aplikasi dari 1 yuan menjadi 8 yuan. 

Meski berganti nama, unsur makna lama tetap disematkan, dengan kata “de” merujuk pada “death” dan “mumu” ditambahkan agar terdengar lebih ramah.

Para pengembang yang terdiri dari tiga orang dengan kelahiran 1985 ini mengucapkan terima kasih atas perhatian publik melalui pernyataan di media sosial Weibo resminya. Mereka mengaku terkejut sekaligus bersyukur atas respons luas yang diterima aplikasi tersebut di dalam maupun luar Cina.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Dubes WHO Yohei Sasakawa Sorot Fakta Pahit Kusta: Diskriminasi Lebih Menyakitkan dari Penyakitnya
• 11 jam lalusuara.com
thumb
India Open 2026: Jojo Susah Payah Redam Perlawanan Wakil Jepang
• 8 jam lalumedcom.id
thumb
Kanada Umumkan 1 Warganya Tewas dalam Demo Berdarah di Iran
• 2 jam laludetik.com
thumb
Pertapreneur Aggregator, Bangun UMKM Sektor Pangan Berdaya Saing
• 20 jam lalurepublika.co.id
thumb
Tinjau Titik Pemberhentian Transjakarta di Sawangan, Walkot Depok Janji Bangun Halte Baru
• 16 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.