RUU Perampasan Aset: Aset Pelaku Pidana Bisa Dirampas Tanpa Putusan Pengadilan, Asal...

viva.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Badan Keahlian DPR RI mengatakan RUU Perampasan Aset terkait tindak pidana kini tengah dirancang agar upaya perampasan dapat dilakukan tanpa menunggu putusan pidana. 

Hal itu disampaikan Kepala Badan Keahlian DPR RI Bayu Dwi Anggono dalam rapat bersama Komisi III DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis, 15 Januari 2026.

Baca Juga :
Wakil Katib PWNU Jakarta Diduga Jadi Perantara Kasus Kuota Haji
Komisi III DPR Mulai Bahas RUU Perampasan Aset Hari Ini

Bayu menjelaskan, upaya itu bisa dilakukan tetapi ada ketentuan-ketentuannya. Misalnya tersangka atau terdakwa meninggal dunia, melarikan diri, sakit permanen atau tidak diketahui keberadaannya.

"Ini akan menjadi fokus utama dalam konteks RUU perampasan aset terkait dengan tindak pidana ini," kata Bayu.

Bayu menyebut ada kriteria lainnya yang memungkinkan perampasan aset tanpa putusan dilakukan, yakni perkara pidananya tidak dapat disidangkan, atau terdakwa telah diputus bersalah oleh pengadilan, yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, dan kemudian hari ternyata diketahui terdapat aset pidana yang belum dinyatakan dirampas.

Dia mengatakan upaya perampasan aset mengenal dua konsep, yakni convection based forfeiture atau perampasan aset dilakukan dengan berdasarkan putusan pidana terhadap pelaku tindak pidana, dan non-convection based forfeiture yang berarti perampasan aset tanpa berdasarkan putusan pidana terhadap pelaku tindak pidana.

Namun, kata Bayu, sebetulnya perampasan aset berdasarkan putusan pengadilan sudah diatur dan tersebar dalam berbagai peraturan perundangan. Sedangkan perampasan aset tanpa putusan, belum diatur.

"Nah, tentu kemudian yang menjadi isu adalah belum adanya pengaturan terkait non-convection based," kata Bayu.

Adapun Komisi III DPR RI memulai pembentukan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perampasan Aset terkait dengan tindak pidana sebagai salah satu upaya memaksimalkan pemberantasan tindak pidana.

Wakil Ketua Komisi III DPR RI Sari Yuliati mengatakan RUU itu dirancang untuk memberantas tindak pidana korupsi, tindak pidana terorisme, tindak pidana narkotika, serta tindak pidana lain dengan motif keuntungan finansial. (Ant)

Baca Juga :
KPK Duga Wakil Katib PWNU Jakarta Jadi Perantara Kasus Kuota Haji
Tegas! KPK Klaim Kantongi Bukti Aliran Uang Kuota Haji ke Ketua PBNU
Korupsi LPEI Rp919 Miliar Melebar, 4 Pejabat Pembiayaan Syariah Jadi Tersangka Baru

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
K-Drama Fantasi Sampai Komedi Romantis Buat Temani Akhir Pekanmu!
• 23 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Per 1 Januari 2026, Bali Zoo Resmi Hentikan Wahana Gajah Tunggang
• 4 jam lalunarasi.tv
thumb
Penebangan Liar di Jaksel Diduga Libatkan PNS, Pelaku Diberi Imbalan Oleh Seseorang
• 22 jam laluliputan6.com
thumb
Mulai Bongkar Tiang Monorel Mangkrak, Pramono: Biaya Potong 109 Tiang Rp254 Juta
• 23 jam lalukompas.tv
thumb
Zodiak yang Menemukan Cinta Sejati Tahun Ini: Aries Melepas Luka, Leo Membuka Hati
• 22 jam lalugenpi.co
Berhasil disimpan.