JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno berkelakar mengenai dirinya yang pernah disurati komunitas Madura untuk membongkar tiang monorel di wilayah H.R. Rasuna Said, Setiabudi, Jakarta Selatan, dan Senayan, Jakarta Pusat.
Namun, belum sempat ia membalas surat tersebut, dua tiang monorel justru sudah lebih dulu hilang.
“Mungkin kalau saya cerita enggak percaya. Jadi kita pernah disuratin oleh komunitas Madura ini. Bahwa mereka ingin terlibat di situ (pembongkaran tiang monorel). Belum kita jawab, dua tiang sudah hilang,” ucap Rano saat memberikan sambutan di acara ERP Fusion PAM Jaya, Jakarta Timur, Kamis (15/1/2026).
Baca juga: Menengok Cara Pembongkaran Tiang Monorel di Rasuna Said
Rano menuturkan, rencana pembongkaran tiang monorel sebenarnya sudah melalui diskusi panjang.
Bahkan, pembahasan tersebut telah berlangsung sekitar tiga bulan sebelum akhirnya eksekusi dilakukan.
Ia mengaku sempat berdiskusi dengan sejumlah pihak terkait kelanjutan proyek monorel yang mangkrak selama lebih dari dua dekade tersebut.
“Ya sampai kemarin, maaf ya, kemarin kita menebang apa namanya tuh, monorel. Itu sudah tiga bulan yang lalu dia diskusi sama saya. ‘Bang, gimana nih Bang?’ Saya bilang, ‘Mas, ini kalau kita enggak tebang juga, enggak ada legacy kita ini. Tebang aja. Tapi ini punya Adhi Karya.’ Suratin, kasih waktu,” kata Rano.
Menurut dia, selama tiang monorel dibiarkan tanpa kejelasan, terdapat sejumlah kecelakaan lalu lintas yang menimbulkan korban jiwa.
“Ini sudah 21 tahun enggak diapa-apain, didiamin saja. Sudah tujuh orang meninggal di situ, kecelakaan kena tiang itu,” ujarnya.
Rano menyebut, mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso atau Bang Yos sempat menegaskan hanya ada dua pilihan terkait nasib tiang monorel.
“Kita hanya punya, makanya Bang Yos cuma bilang ada dua pilihan: mau dilanjutkan atau mau ditebang? Dilanjutkan tidak, ya ditebang,” kata Rano.
Baca juga: KAI Pastikan Rel Diduga Dicuri di Jatinegara Bukan Rel Aktif
Namun, persoalan sempat menjadi rumit akibat pernyataan yang keliru terkait anggaran pembongkaran tiang monorel.
Rano mengaku telah mewanti-wanti jajaran Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI agar berhati-hati dalam menyampaikan informasi ke publik, terutama soal anggaran.
Ia menegaskan, angka Rp 100 miliar yang sempat ramai diperbincangkan bukanlah anggaran pembongkaran tiang monorel.
“Cuman salah ngomong Bina Marga, ‘anggaran Rp 100 miliar’. Makanya kemarin saya wanti-wanti, yang bukan bagiannya jangan statement. Dibilang anggaran Rp 100 miliar, pusing kita nahan,” ujarnya.





