Mengungsi dan Bersiap: Pengalaman Warga Indonesia yang Terdampak Kebakaran Hutan di Australia

detik.com
3 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Kebakaran hutan di negara bagian Victoria, Australia, berdampak bagi penduduk setempat, tak terkecuali warga Indonesia.

Suhu di titik rawan api yang mencapai lebih dari 40 derajat celsius ditambah angin kencang, diduga memicu kobaran api di beberapa kota kecil Victoria yang beribu kota Melbourne.

Pada Kamis, 8 Januari lalu, Angga Efriansyah sedang bekerja di perkebunan ceri di Kota Yarck sebelum dipulangkan karena asap kebakaran yang menebal.

Peserta Work and Holiday Visa (WHV) asal Pekanbaru itu mengatakan sudah menghirup asap kebakaran sejak pagi hari, namun baru dipulangkan pada pukul 12 siang.

"Ketika kami keluar, asapnya sudah tebal banget, dan langit sudah kemerahan," katanya.

"Api mungkin sudah berada di belakang bukit."

Angga mengatakan ketika itu, kebakaran sudah terjadi di Kota Longwood, yang berjarak 81 kilometer dari Kota Yarck.

Kebakaran Longwood merupakan salah satu yang terparah di Victoria, yang menyebabkan setidaknya 154 bangunan rata dengan tanah.

Ketika sampai di rumahnya yang berada di wilayah peternakan, Angga mengatakan sudah bisa melihat api di belakang bukit sekeliling rumahnya.

Ia juga mengatakan petugas darurat Victoria sudah berkeliling untuk memastikan semua warga dievakuasi.

"Semua teman-teman saya bergegas mengambil koper, segala macam perlengkapan untuk segera mengevakuasikan diri," ujarnya.

"Kendaraan [di jalan] sangat padat, mereka pergi ke Melbourne untuk menyelamatkan diri."

Awalnya Angga mengatakan sempat optimistis api akan segera padam, sehingga hanya bergegas ke kota Alexandra, yang bisa ditempuh dalam waktu 10 menit dengan mobil dari rumahnya.

Namun ia mendengar kabar bahwa api sudah merambat dan bergerak dengan sangat cepat dipicu angin kencang.

Tanpa berpikir panjang, Angga dan temannya beranjak ke Melbourne dan tinggal di sebuah apartemen selama dua hari.

Setelah api mereda, pada tanggal 10 Januari, Angga pergi ke Kota Shepparton yang berjarak 1 jam 15 menit dari Kota Yarck.

Ia mengatakan belum bisa kembali ke Yarck untuk mengambil barang-barangnya karena jalanan masih ditutup.

Angga pun mendengar kabar bahwa ada bagian rumahnya yang terbakar.

Hingga saat ini, ia masih belum kembali bekerja, namun sudah mengajukan aplikasi untuk menerima bantuan keuangan dari Pemerintah Victoria.

Kebakaran di Victoria pada Januari 2026 ini telah menghancurkan setidaknya 260 rumah dan 900 bangunan, sementara para petani kehilangan 20.000 ekor hewan ternak mereka.

Peristiwa ini menewaskan seorang peternak asal Kota Longwood, yang jasadnya ditemukan 100 meter dari mobilnya.

'Memperhatikan arah angin'

Hari itu terasa seperti hari-hari di musim panas pada umumnya bagi Lisda Speight, warga Indonesia yang sudah empat tahun tinggal di Kota Colac, Victoria.

Pada Sabtu, 10 Januari, Lisda memutuskan untuk pergi berbelanja ketika suhu udara sudah turun di sore hari.

Namun, ketika sampai di rumah, ia disambut pemandangan "asap yang besar."

Lisda pun menerima pesan dari teman-temannya yang menanyakan apakah ia sudah mulai berkemas untuk meninggalkan rumah.

"Wah, mulailah panik," ujar Lisda kepada Natasya Salim dari ABC Indonesia.

Lisda langsung mengemas barang-barang penting seperti paspor, pakaian, dan lainnya ke dalam mobilnya, seperti yang dilakukan tetangganya.

Ia juga siap-siap membawa kedua kucing peliharaannya bila sudah harus berangkat.

"Tetangga dengan handphone masing-masing memperhatikan arah angin," ujarnya.

"Helikopter setiap lima menit sekali datang dan pemadam kebakaran melakukan tugasnya dengan baik untuk melindungi Colac."

Pada hari yang sama, tetangga Lisda, Mahsuri Murch yang bekerja sebagai 'disability support worker', atau pendamping warga difabel, mengatakan dipulangkan dari tempat kerjanya yang berada di zona kebakaran hutan.

Ketika sampai di rumah, perempuan yang akrab disapa Suri tersebut tetap berusaha untuk tetap tenang dan mulai mengemas dokumen penting dan obat mereka.

"Saya mencoba tenang, karena [asap] kelihatan sangat dekat sekali dari halaman belakang [rumah]," katanya.

"Dan tetangga sudah mulai berkumpul di depan rumah."

Namun, karena angin yang bisa memperparah kondisi api semakin menjauhi Colac, Lisda dan Suri tidak jadi meninggalkan rumah.

Walau demikian, mereka tetap was-was dan rutin mengecek aplikasi VicEmergency untuk perkembangan terbaru soal api dan arah angin.

"Kami enggak tidur semalaman," ujar Lisda.

"Masih berjaga-jaga, karena takut angin itu berbalik."

'Kebakarannya sangat luar biasa'

Peristiwa ini turut membangkitkan trauma Lisda, yang mengatakan rumahnya di Indonesia sempat habis dilalap api ketika usianya hanya lima tahun.

"Dua puluh delapan tahun tinggal di bush [kawasan semak-semak] karena suami ada di samping, enggak begitu khawatir. Sekarang ini hidup sendiri, suami meninggal," katanya.

"Wah, kebayang kan, bagaimana? Tapi puji Tuhan, tetangga kiri, kanan, semua baik, termasuk Suri juga ... banyak membantu kita, saling komunikasi."

Lisda mengatakan selama tinggal di Colac, tidak pernah mengalami hal seperti ini.

"Kota Colac itu sebenarnya aman ... kami tinggal di daerah hill [bukit], dan di daerah kami tidak pernah terjadi seperti kemarin itu," ujarnya.

"Cuma kemarin itu karena sudah 40 derajat sampai hampir satu minggu, kering, tidak ada hujan, anginnya begitu kencang ... itulah yang membuat kebakaran menyerang."

Angga yang pindah ke Australia pada Februari 2024 mengatakan kebakaran sempat terjadi di kawasan yang sama pada akhir tahun 2024.

Tapi ia mengatakan api kebakarannya "tidak besar seperti sekarang."

"Kalau dulu mungkin tidak besar, jadi bisa dipadamkan dengan helikopter atau pemadam kebakaran," ujarnya.

"Namun tahun ini, kebakarannya sangat luar biasa, bahkan banyak rumah terbakar dan banyak yang [hewan] peternakannya, kambing-kambingnya pada mati. Sungguh-sungguh dahsyat."

Setelah mengalami sendiri peristiwa kebakaran hutan Victoria dengan tingkat keparahan yang berbeda, Angga berpikir untuk pindah ke daerah perkotaan Melbourne yang menurutnya lebih aman.

Ia pun memetik pelajaran dari pengalaman ini.

"Mungkin kita [belajar untuk] lebih wanti-wanti," katanya.

"Kita siap untuk mengemas barang ... lebih sigap ... kita siapkan barang-barang di mobil, jadi ketika ada informasi yang tidak enak atau warning, kita lebih cepat untuk keluar dari daerah tersebut."

Hingga saat ini, petugas pemadam kebakaran masih berusaha memadamkan api di beberapa titik di Victoria.

Pemerintah Victoria dan Australia memberikan bantuan senilai lebih dari A$100 juta, termasuk di antaranya A$50 juta bagi petani yang terkena dampak kebakaran ini.

"Kita telah melihat… bagaimana kebakaran telah menghancurkan komunitas, kita telah kehilangan rumah dan bisnis," kata Premier Victoria Jacinta Allan Rabu kemarin (14/01).

"Pemerintah akan terus berdiri bersama warga dalam perjalanan pemulihan yang panjang ke depan dan dukungan tersedia, dan kami akan terus berada di lapangan untuk mendengarkan warga."




(ita/ita)

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Ada yang Beda dari Mobil Toyota Ini
• 25 menit laluviva.co.id
thumb
Tidur di Atas Kursi Berlumpur: Momen Anggota TNI Rehat Bersihkan Lumpur Sumatera
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Prabowo Ajak Diskusi 1.200 Undangan Guru Besar dan Rektor di Istana, Bahas Masalah Pendidikan
• 10 jam lalutvonenews.com
thumb
Salju Tebal Terjang Semenanjung Kamchatka Rusia, Mobil Warga Terkubur dan Jalan Ditutup | BERUT
• 17 jam lalukompas.tv
thumb
North West Putri Kim Kardashian Pamer Tindik Baru di Jari, Langsung Jadi Sorotan Warganet
• 23 jam lalutabloidbintang.com
Berhasil disimpan.