Amerika Serikat (AS) akhirnya mulai melakukan penjualan minyak dari Venezuela, dengan nilai transaksi pertama mencapai 500 juta dolar AS atau setara Rp8,447 triliun.
Melansir kantor berita Anadolu, seorang pejabat pemerintahan AS mengatakan bahwa transaksi ini menjadi langkah awal dari serangkaian penjualan minyak Venezuela yang akan dilakukan dalam waktu dekat.
“Lebih banyak penjualan minyak diperkirakan akan terjadi dalam beberapa hari dan pekan ke depan,” ujar pejabat tersebut.
Sebelumnya, pada awal bulan ini, Donald Trump Presiden AS menyatakan keinginannya untuk mengakses cadangan minyak Venezuela yang disebut sebagai yang terbesar di dunia. Pernyataan itu disampaikan setelah ia menangkap Nicolas Maduro Presiden Venezuela lewat operasi militer di negara tersebut.
Meski asal perhitungan angka tersebut belum jelas, Trump pada pekan lalu mengklaim bahwa sektor minyak dapat menyumbang sedikitnya 100 miliar dolar AS untuk memperbaiki sektor energi Venezuela yang rusak parah.
Ia juga menyebut bahwa AS akan mengekspor sekitar 30 hingga 50 juta barel minyak Venezuela dengan melibatkan perusahaan-perusahaan asal Amerika Serikat.
Namun, rencana besar ini memicu keraguan dari para pelaku industri energi. Pada Jumat (9/1/2026) lalu, sejumlah eksekutif energi AS yang hadir di Gedung Putih mempertanyakan kelayakan rencana pemerintah untuk memanfaatkan minyak Venezuela.
Darren Woods CEO ExxonMobil secara terbuka menyampaikan kekhawatirannya bahwa rencana besar Trump itu tak layak diinvestasikan.
“Ada sejumlah kerangka hukum dan komersial yang harus dibentuk terlebih dahulu hanya untuk bisa memahami seperti apa keuntungan yang akan kami peroleh dari investasi ini,” ungkapnya.
Menurut Woods, Venezuela masih menghadapi berbagai persoalan hukum dan kerangka komersial yang belum jelas, sehingga sulit bagi investor untuk menghitung potensi keuntungan dari investasi di sektor minyak negara tersebut.
Sementara itu, hingga Rabu (14/1/2026) kemarin, detail mengenai penjualan minyak pertama senilai 500 juta dolar AS tersebut masih belum diungkap secara rinci kepada publik.
Gedung Putih menegaskan bahwa pemerintah AS tengah mendorong kerja sama besar dengan perusahaan-perusahaan minyak.
“Tim Presiden Trump sedang memfasilitasi diskusi yang positif dan berkelanjutan dengan perusahaan-perusahaan minyak yang siap dan bersedia melakukan investasi yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk memulihkan infrastruktur minyak Venezuela,” kata Taylor Rogers juru bicara Gedung Putih dalam pernyataannya.
Adapun penjualan perdana minyak Venezuela ini menjadi sorotan global karena menandai langkah awal AS dalam mengelola potensi energi negara Amerika Latin tersebut.
Di sisi lain, tantangan hukum, politik, serta iklim investasi masih menjadi pekerjaan besar yang harus diselesaikan sebelum Venezuela benar-benar bisa kembali menjadi pemain utama di pasar minyak dunia. (bil/ham)

/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F01%2F15%2F7713c33bd6b0c6feba8af82b3162e3de-cropped_image.jpg)

