Pemerintah masih mengkaji bentuk dana segar yang akan dikucurkan untuk industri tekstil dan produk tekstil (TPT) tahun ini. Namun tujuan suntikan anggaran negara tersebut tidak berubah, yakni memperkuat industri TPT nasional.
Seperti diketahui, suntikan dana senilai US$ miliar atau sekitar Rp 100 triliun tersebut akan dieksekusi oleh Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara Indonesia atau Danantara. Setidaknya ada dua pilihan yang sedang dikaji, yakni penyaluran kredit atau membangun perusahaan pelat merah baru.
"Tentu kami ada kriteria-kriteria atau parameter-parameter yang harus kami penuhi dalam berinvestasi. Kami masih melihat opsi-opsi dalam kebijakan ini," kata CEO Danantara, Rosan P Roeslani, di Kantor Kementerian Investasi, Jakarta, Kamis (15/1).
Salah satu opsi yang dimaksud adalah akuisisi aset bekas PT Sri Rejeki Isman atau Sritex. Untuk diketahui, Tim Kurator Sritex memutuskan seluruh tanah, bangunan, mesin, dan peralatan milik Sritex disewakan dengan total nilai Rp 326,86 miliar per tahun.
Rosan mengaku terbuka dalam mempelajari opsi akuisisi aset tersebut walaupun harus mengelola aset bermasalah. Sebab, salah satu pertimbangan utama Danantra adalah jumlah lapangan pekerjaan dan peluang pasar tekstil di dalam dan luar negeri.
Dia belum menjelaskan lebih lanjut terkait opsi suntikan dana segara ke industri tekstil senilai Rp 100 triliun tersebut. Untuk diketahui, kedua opsi itu diumumkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, pada hari yang berbeda.
Sebelumnya, Airlangga mengatakan pemerintah telah menyiapkan dana senilai US$ 6 miliar khusus industri padat karya. Salah satu tujuan penggunaan dana segar tersebut adalah untuk meningkatkan teknologi dan memperbaiki iklim investasi di industri TPT.
Program tersebut ditetapkan setelah melihat proyeksi konsumsi TPT global yang terus tumbuh. "Dunia ini isinya 8 miliar orang, dan semuanya pakai baju. Selain itu, 8 miliar orang juga pakai sepatu, jadi industrinya aman," katanya, Selasa (13/1).
Setelah itu, Airlangga menyampaikan pemerintah akan membentuk badan usaha milik negara (BUMN) baru khusus sektor tekstil. Rencana tersebut adalah arahan Presiden Prabowo Subianto saat rapat di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, pada Minggu (11/1) lalu.
Menurut Airlangga, pembentukan BUMN tekstil dan garmen dinilai menjadi garda terdepan dalam menghadapi risiko kebijakan tarif AS. Pembentukan BUMN ini akan langsung ditangani oleh Danantara.
"Akan membentuk BUMN baru khusus tekstil. Tidak menghidupkan (perusahaan tekstil lama)," kata Airlangga dalam acara Indonesian Business Council (IBC) Business Outlook 2026 di Jakarta, Rabu (14/1).



:format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260115_pelantikan-DPR-ri_rusdi-Hartono-jadi-irjen.jpg)
