Stunting bukan sekadar masalah tinggi badan, tetapi berdampak langsung pada perkembangan otak, kesehatan anak, hingga produktivitas ekonomi masyarakat di masa depan. Perlu kerja sama semua pihak untuk mengatasi stunting.
Nah, untuk bersama-sama mengatasi stunting, Sobat Medcom perlu tahu dulu lebih dalam soal stunting. Berikut ini lima fakta soal stunting: Fakta soal stunting 1. Stunting dimulai sejak 1.000 hari pertama kehidupan Periode emas dari kehamilan hingga usia dua tahun menentukan masa depan anak. Penting untuk memerhatikan kecukupan gizi ibu dan bayi di bawah dua tahun (baduta) karena kegagalan
memenuhi kecukupan gizi kronis di fase ini dapat memicu gagal tumbuh dan menghambat perkembangan otak. 2. Gizi tidak seimbang Kurangnya nutrisi dan gizi penting seperti protein, vitamin, dan mineral membuat anak rentan terdampak stunting. Untuk itu, orang tua harus mendapatkan informasi yang memadai akan pola makan yang baik dan cukup agar anak mendapatkan nutrisi yang optimal. 3. Sanitasi buruk memicu infeksi Lingkungan yang tidak bersih meningkatkan risiko diare dan infeksi serta menghambat penyerapan gizi. Untuk itu, akses air bersih dan jamban sehat adalah kebutuhan yang sangat mendesak. 4. Edukasi gizi masih rendah Banyak keluarga belum memahami pentingnya ASI eksklusif dan MPASI bergizi. Untuk itu, penting menghadirkan edukasi berkelanjutan kepada orang tua. Anak usia remaja juga aspek
penting yang perlu mendapatkan informasi tepat untuk mendorong perubahan persepsi dan perilaku orang tua dalam memberikan gizi cukup. 5. Solusi lewat kolaborasi Stunting bukan sebuah masalah yang dapat diselesaikan oleh satu pihak. Pemerintah, masyarakat, dan mitra harus turut berkolaborasi dan bekerja sama untuk mengatasi isu ini serta memastikan semua anak di Indonesia mendapatkan hak mendasar mereka akan makanan yang baik dan layak.
Baca Juga :
Cegah Anak Stunting, Ibu-ibu di Bengkayang Siapkan Makanan Tambahan Bergizi dan MurahProgram PASTI memberikan bantuan nutrisi untuk 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dengan menjangkau lebih dari 1.276 baduta dan ribuan keluarga berisiko. PASTI juga memastikan keluarga mendapatkan edukasi dan akses pangan bergizi di tingkat desa melalui 127 Pos Gizi DASHAT (PGD) aktif.
Program PASTI juga turut mendukung pembangunan jamban sehat di desa dampingan, sekaligus mengedukasi masyarakat tentang kebiasaan hidup bersih. Selain itu, PASTI memberikan pelatihan kepada 363 Tim Pendamping Keluarga (TPK) dan menggerakkan 178 remaja sebagai agen perubahan untuk Kampanye Perubahan Perilaku (KPP).
Para remaja tersebut kini juga berhasil menjangkau 2.178 remaja usia 15-19 tahun yang difasilitasi para remaja tersebut. Hingga Desember 2025, program PASTI menjangkau 6.808 orang dewasa, memperkuat 402 anggota TPPS, dan mendorong terbentuknya 26 Desa
Model agar praktik baik berkelanjutan.
Atas kontribusi ini, PASTI meraih empat penghargaan nasional dari BKKBN dalam kategori Mitra Pentahelix Program GENTING. Program Director WVI, Eben Ezer Sembiring, menyampaikan anak-anak adalah masa depan bangsa.
Untuk itu, penting bagi setiap keluarga, desa, dan pemangku kepentingan berjalan bersama. Khususnya untuk memastikan anak mendapatkan haknya akan makanan bergizi dan layak serta memutus akar persoalan stunting.
"Melalui pendampingan Program PASTI bersama dengan pemerintah daerah dan masyarakat, kami membuktikan bahwa perubahan perilaku dan sistem dapat berjalan beriringan dan menghasilkan dampak besar,” ujar Eben dalam keterangan tertulis, Jumat, 15 Januari 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5261810/original/056836100_1750694450-1000955149.jpg)



